Oleh: Ai Hamzah
Sebulan lebih sudah bencana Aceh Sumatera terjadi. Keadaan pun belum menandakan menuju lebih baik meskipun ada perubahan sedikit demi sedikit. Bencana yang belum selesai ini pun kembali mengundang bencana susulan, banjir kembali meredam lokasi bencana. Korban bencana pun kembali menjadi korban susulan, tanpa dapat berbuat lebih banyak karena semua telah habis dihadang bencana sebelumnya.
Sarana dan prasarana yang sangat minim membuat masyarakat korban bencana menjadi tak berdaya. Hanya mengandalkan dari bantuan-bantuan dan relawan yang ada. Tempat pengungsian menjadi tempat berteduh mereka, sementara rumah-rumah mereka hancur dan tertimbun pasir. Pekerjaan yang sangat berat bagi mereka untuk membereskan tempat tinggal pasca bencana. Kayu gelondongan yang berserakan dan pasir yang menutup permukaan ada dimana-mana.
Fasilitas yang sangat minim, sarana dan prasarana yang tidak memadai membuat masyarakat korban bencana tidak bisa berbuat banyak. Alat berat yang mengangakut kayu gelondongan dan mengeruk pasir pun bisa dihitung jari. Apa daya masyarakat ketika penguasa tidak hadir secara totalitas. Pemerintah setempat pun berjibaku menangani bencana ini agar keadaan masyarakat lebih baik. Namun bencana itu terlalu berat dan kehadiran penguasa pun hanya sebuah retorika semata.
Belumlah kering luka yang menganga itu, kini kembali terbasuh oleh pernyataan penguasa. Kapitalisasi pasca bencana dianggap sebagai nilai plus bagi mereka. Peluang ekonomi menjadi salah satu target dalam bencana Aceh dan Sumatera. Bukan lagi target bagaimana Aceh dan Sumatera segera pulih dan masyarakat kembali hidup dengan semestinya. Sungguh kapitalisme telah memupus asa meraka para korban bencana agar keadaan menjadi pulih kembali. Itulah kapitalisme, di atas penderitaan masyarakat tidak menjadi soal dalam rangka ekonomi. Dengan dalih pemanfaatan endapan lumpur sehingga menjadi bernilai lebih. Tanpa mengindahkan perasaan masyarakat yang berdampak.
Mengejutkan memang pernyataan Presiden Prabowo Subianto ketika menyoroti adanya peluang ekonomi baru dalam penanganan banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Provinsi Aceh. Dengan adanya material lumpur yang selama ini dianggap sebagai limbah pascabencana justru dinilai memiliki nilai guna dan diminati oleh pihak swasta. Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah saat meninjau penanganan bencana di Aceh Tamiang. Menurut Presiden, lumpur yang menumpuk akibat banjir bandang di sungai, lahan pertanian, hingga permukiman ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan urukan, reklamasi, hingga kebutuhan konstruksi tertentu. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa endapan lumpur akibat bencana alam banjir bandang dan longsor di Aceh menarik minat sejumlah pihak swasta untuk dimanfaatkan. Dirinya pun mempersilakan swasta yang berminat sehingga hasilnya bisa untuk pemasukan daerah. serambinews.com, 1 Januari 2026
Mencontoh dari Khalifah Umar ketika menangani bencana paceklik. Beliau memberikan segalanya hingga tidak ada lagi yang dapat diberikan. Kemudian Khalifah Umar pun mengirim surat kepada Abu Musa di Bashrah dan Amru bin Ash di Mesir yang isinya, “Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa”. Sehingga kedua gubernur itu pun mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar hingga mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang mengalami musibah kekeringan. Selain itu, Khalifah Umar pun senantiasa bermunajat kepada Allah melalui doa meminta turun hujan bersama paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib. Sungguh sangatlah agung dan mulia sikap Khalifah Umar bin Khattab dalam mengayomi rakyatnya. Ia tak malu untuk terjun langsung menjadi pelayan bagi rakyatnya yang membutuhkan bantuannya.
Ia pun tidak mempermasalahkan tubuhnya kurus dan kulitnya menghitam ketika ia dan rakyatnya dilanda musim paceklik. Tidak ada perlakuan khusus terhadap Umar selama musim paceklik. Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.”
Khalifah Umar menyadari bahwa ia akan mempertanggungjawabkan posisinya sebagai pemimpin. Sebagaimana hadits riwayat Bukhari, “Imam (waliyul amri) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.”
Wallahu alam
Tags
opini
