Kado Pahit Awal Tahun : Banjir di Berbagai Daerah, Saatnya Muhasabah

Oleh : Nasiroh, Aktivis Muslimah 


Indonesia dikenal dengan negara rawan bencana termasuk banjir, hal ini disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. 

Tahun 2025 telah berlalu, pada 31 Desember 2025 masyarakat ramai menyambut malam tahun baru 2026, ditengah kondisi bencana yang masih pilu. Satu bulan pasca bencana Sumatra kondisi warga Sumatra masih sangat memprihatinkan, lantaran masih harus berjuang dengan keterbatasan. 

Kondisi darurat yang belum benar-benar membaik, tempat tinggal yang belum pulih, mata pencaharian terganggu dan bantuan yang tidak merata. 
Kebutuhan bantuan yang masih sangat diharapkan. 

Bencana banjir masih terus terjadi hingga hari ini. Bahkan bertambah di sejumlah daerah, dan ini menjadi kado pahit di awal tahun 2026. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah wilayah Indonesia dilanda bencana pada hari pertama tahun 2026, Kamis (1/1/2025). Kejadian tersebut dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan.

Sejumlah wilayah yang dilaporkan dari bebarapa provinsi. Diantara Kota Cirebon, Jawa Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Provinsi Papua. Jumat (2/1/2026). bnpb.co.id

Kemudian di Kota Serang dan Kota Cilegon Banten juga di kepung banjir sejak Jumat (2/1/2026) sore akibat curah hujan yang tinggi. Liputan6.com

Banjir rob juga melanda wilayah pesisir Jakarta di Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara. Sabtu (3/1/2026). Tempo.com.

Bencana banjir yang terjadi dari tahun 2025 hingga saat ini menjadi bahan untuk muhasabah dan berbenah, mengatur seluruh nya berdasarkan wahyu Allah swt yaitu syariat Islam. Karena dalam sistem sekuler kapitalisme alam sebagai komoditas ekonomi yang di kelola oleh korporasi.

Negara hanya sebagai fasilitator, yang berdampak pada eksploitasi berlebihan, kerusakan hutan dan sungai yang menyebabkan banjir dan bencana ekologis yang berulang. 

Sedangkan dalam pandangan Islam, bencana tidak dipandang hanya sebagai ujian dan peristiwa alam, tetapi bisa juga terjadi karena akibat perbuatan manusia yang menyimpang dari syariat Allah. 

Dalam Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 41. Allah swt berfirman "bahwa kerusakan di darat dan di laut di sebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Beberapa bentuk perbuatan manusia yang menyebabkan banjir. Diantara nya perusakan hutan dan alam, eksploitasi sumber daya tanpa aturan syariat, pembanguan tanpa memperhatikan maslahat untuk rakyat dan abainya negara terhadap pengurusan rakyat. 

Dalam Islam negara tidak hanya sebagai regulator tapi juga sebagai pengurus (raa'in). 
Hadis Nabi mengatakan bahwa "Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim). 

Cara Islam menanggulangi bencana adalah dengan pengelolaan alam berdasarkan syariat, kemudian hutan, tambang,  sungai dan air adalah milik umum.  maka, negara dilarang menyerahkan pengelolaan kepada pihak asing/swasta, eksploitasi di batasi, dan pengelolaan tata ruang berdasarkan syariat. 
Negara juga wajib mencegah aktivitas yang merusak alam meski secara ekonomi menguntungkan. 

Jika bencana masih terus berulang ini adalah indikasi rusak nya sistem pemerintahan saat ini. Bencana terjadi akibat oleh sistem hidup yang salah. Karena dalam negara Islam yang di lakukan adalah mencegah bukan hanya menolong. Kemudian juga mengurus urusan rakyat bukan hanya mengatur.
Negara akan menjaga alam sebagai amanah Allah. 

Islam bukan hanya sekadar agama yang mengatur ibadah ritual saja, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk pemerintahan, pengelolaan alam, tata ruang dan tanggung jawab negara. Maka, dengan di terapkannya sistem Islam akan mampu mencegah terjadi nya kerusakan dan bencana. 


Wallahu'alam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak