Ummu Aqeela
Dalam gelapnya malam, Nabi Muhammad Saw tengah merenungi ujian berat yang menimpa dirinya. Makkah yang dikuasai Kafir Quraisy menjadi tempat yang penuh dengan penolakan, cacian, dan ancaman terhadap dakwah Islam.
Nabi Saw baru saja kehilangan dua pilar terkuat dalam hidupnya: sang paman, Abu Thalib, yang selalu melindunginya dari ancaman kaum Quraisy; dan istri tercinta, Khadijah Ra, yang menjadi sandaran hatinya di tengah kesulitan. Belum lagi, pengalaman menyakitkan di Thaif, di mana harapannya untuk mendapatkan penerimaan justru berakhir dengan penghinaan.
Di tengah ujian berat ini, Allah SWT memperjalankan Nabi-Nya dalam peristiwa agung Isra dan Miraj. Dari Masjidil Haram di Makkah, Rasulullah dibawa ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, sebelum akhirnya naik ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini menjadi mukjizat besar sekaligus menjadi penghubung yang kuat antara umat Islam dengan Masjid Al-Aqsa. Masjid Al-Aqsa adalah simbol yang begitu berarti bagi umat Islam. Tidak hanya karena sejarahnya yang panjang, tetapi juga karena keberkahannya yang telah Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur’an.
Di sinilah pentingnya merenungi makna sejati Isra’ Mi’raj, yakni untuk merefleksikan spirit teologi kepemimpinan Nabi Muhammad selama hidupnya. Sudah bukan waktunya lagi kita memaknai Isra’ Mi’raj hanya semata perjalanan Muhammad di malam hari untuk menerima perintah shalat. Kita mesti menyeret makna peristiwa itu pada konteks yang lebih rill. Sebab, Isra’ Mi’raj penuh labirin dan makna simbolik, baik pada tatanan kemanusiaan atau pun teologi kepemimpinan.
Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Shalat lima waktu yang diprintahkan Tuhan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsiri sebagai kewajiban yang sifatnya ritual, melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi.
Jika dicermati, ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa agung ini sebagai spirit kepemimpinan.
Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.
Dalam konteks kekinian, jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hati kotor, semisal melakukan suap-menyuap, maka penting juga disucikan, bahkan kalau perlu dihukum agar jera. Pemimpin yang hatinya kotor mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Alih-alih mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya.
Kedua, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjauhi tindakan korupsi, skandal suap dan lain sebagainya yang akhir-akhir ini kian merebak di kalangan wakil rakyat. Karena tindakan-tindakan tersebut lebih parah dari pada sekedar minum khamar.
Ketiga, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi semua manusia.
Keempat, spirit dan etos membangun peradaban yang kuat. Sejarah mencatat, tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Rasulullah dengan para pengikutnya hijrah ke Madinah. Dengan spirit dan etos yang lahir dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan risalah kenabian di Madinah. Lebih dari itu, Beliau juga berhasil membangun sebuah negara yang disebut Al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan damai.
Banyak sejahrawan non muslim mengakui bahwa kepemimpinan islam pada masa itu menjadi salah satu contoh terbaik dalam sejarah peradaban. Rasulullah saw sendiri menegaskan bahwa pemimpin adalah perisai bagi umat, tempat berlindung dari berbagai ancaman. Masalah muncul ketika kepemimpinan global yang menaungi umat islam runtuh. Umat islam terpecah menjadi banyak negara, menjadi lemah, mudah ditekan dan diintervensi.
Penjajahan di Palestina yang masih berlangsung hingga hari ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti lemahnya umat islam bagian dari dampak ketiadaan kepemimpinan shohih yang melindunginya. Digantikan oleh kepemimpinan kapitalisme global dengan sekulerisme sebagai asas kepemimpinannya. Akibatnya standart kebijakan bukan berdasar syari’at yang mewujudkan keadilan, namun dilandaskan hawa nafsu atas keuntungan, kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Untuk itu dalam momen Isra’ Mi’raj ini kembali mengingatkan kepada kita seluruh umat Islam. Bahwa urgensi kepemimpinan yang shohih hanya bisa terwujud jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan. Allah swt telah menjanjikan kekuasaan yang adil bagi mereka oran-orang yang beriman dan beramal shaleh. Janji ini bukan untuk ditunggu pasif, melainkan diperjuangkan dengan kesadaran, kesungguhan dan tanggungjawab. Disinilah makna Isra’ Mi’raj menjadi relevan, sebagai seruan untuk membangun kembali kepemimpinan yang adil, beradab, berpihak kepada umat dengan menyandarkan seluruhnya kepada syari’at.
Wallahu’alam bishshowab