Oleh : Dinna Chalimah,
Ciparay Kab. Bandung.
Menteri Arifah menyoroti bahwa tanpa pengawasan yang memadai, anak-anak berada dalam posisi rentan. Risiko yang dihadapi pun bersifat ganda di antaranya anak bisa terjebak sebagai korban kekerasan digital, atau justru terpengaruh menjadi pelaku akibat paparan konten yang tidak tersaring. "Karena konten yang mengandung unsur kekerasan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak jika tidak diawasi dengan baik," kata Arifah Fauzi di Jakarta, Jumat (2/1/2026) menanggapi kasus anak yang menganiaya ibunya hingga tewas di Kota Medan, Sumatera Utara. (Republika.News)
Ketika kasus anak membunuh ibu ini muncul, selalu ada yang melatarbelakanginya anak bisa kecanduan game dan tontonan. Akan tetapi ini sebenarnya bukan merupakan faktor utama penyebabnya. Jika game dan tontonan mendorong seseorang untuk membunuh, berarti semua orang yang memiliki hobby yang sama, pasti mereka akan membunuh juga.
Motif anak membunuh ibu beragam, bisa jadi anak mentalnya tidak sehat, hubungan keluarga qyang tidak harmonis, tekanan sosial yang tinggi, qsampai ketidak adaannya iman dalam dirinya. Anak yang mentalnya m terganggu ini akan melampiaskannya dengan game, tontonan dan circle yang sefrekuensi. Tanpa filter, tontonan kekerasan ini menyusup ke dalam fikirannya. Ia menjadi sebuah bom waktu untuk yang bisa suatu saat meledak. Usia yang masih kecil dengan emosi yang belum bisa stabil memperngaruhinya untuk melakukan pembunuhan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah sistem seperti apa yang melahirkan tekanan, kekosongan iman, dan hilangnya empati secara kolektif?
Dalam sistem kapitalisme-sekuler, manusia kerap dijadikan alat produksi dan konsumsi. Standar seseorang diukur dari kemanfaatan ekonomi dan kepemilikan materi. Media digital yang turut memperparah kondisi ini,banyak platform ruang publik dengan kekerasan dan standar hidup tipu daya yang melelahkan mental manusia.
Dalam Islam, kondisi ini menunjukkan pengabaian terhadap prinsip penjagaan atas jiwa manusia. Nyawa adalah amanah yang berharga, yang nilainya tidak bisa ditawar oleh manfaat atau materi semata. Selama sistem kehidupan tidak dibangun di atas penghargaan terhadap nyawa manusia, peristiwa seperti ini akan terus berulang, dan kekerasan lainnya akan tetap menjadi sisi gelap umat.
Rasulullah SAW. bahkan menegaskan bahwa :
“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Tirmidzi). Islam sangat menghargai nyawa manusia, apalagi seorang Muslim, lebih berharga daripada seluruh isi dunia. Prinsip ini dikenal sebagai penjagaan jiwa, yang menjadi salah satu tujuan utama syari'at. Islam menawarkan solusi yang tegas, yakni nyawa manusia adalah amanah, dan negara wajib hadir untuk menjaganya secara utuh. Sudah saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme ini dan beralih pada sistem Islam.
Islam dengan tegas bahwa membunuh merupakan dosa besar. Karena itu, negara yang berdasarkan syariat Islam, akan melakukan pencegahan, salah satunya dengan membentenginya dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Di sekolah, di rumah, di lingkungan, semua aktivitas harus berlandaskan pada keimanan. Keimanan ini mendorong seseorang untuk memiliki rasa takut ketika berbuat maksiat.
Negara juga akan memastikan untuk menutup semua akses baik game sampai tontonan yang berkaitan dengan kekerasan. Diubah dengan tontonan untuk penguatan ruhiyah dan tazkiyatun nafs serta pengokohan akidah Islam. Sehingga anak-anak akan tumbuh menjadi anak-anak yang kuat mentalnya, kuat akidahnya dan senantiasa indah akhlaknya baik terhadap guru, orangtua, teman maupun lingkungan.
Negara dalam Islam yang berasaskan Islam akan menutup rapat akses pintu kriminalitas dengan cara memberikan sanksi hukum tegas yang membuat jera. Termasuk kasus pembunuhan maka akan dikenai sanksi qishas, seseorang yang berniat melakukan pembunuhan akan berfikir ratusan kali sebelum melakukan pembunuhan. Jikalau keluarga memaafkan, pelaku akan dikenai diyat (denda) yang jumlahnya tidak main-main. Ini menandakan bahwa hukum Islam sangat serius menjaga nyawa manusia. Hanya dengan penerapan sistem Islam secara sempurna, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang kuat, menghormati kedua orangtuanya, takut bermaksiat dan punya visi akhirat.
Wallahu a'lam bish shawwab
Tags
opini