Hegemoni Kapitalisme Digital dan Rusaknya Generasi Muda

                                   Rae Lin
                   (Pemudi Penggiat Literasi)

Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam hal hiburan. Salah satu bentuk hiburan yang sangat digemari saat ini adalah game online. Namun, di balik keseruannya, game online menyimpan dampak serius bagi generasi muda, terutama ketika mengandung unsur kekerasan dan dapat diakses dengan sangat mudah.

Dalam satu tahun terakhir, berbagai kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja muncul ke permukaan dan menjadi perhatian publik. Beberapa kasus pembunuhan, perundungan, hingga paparan ideologi kekerasan diketahui memiliki kaitan dengan kebiasaan bermain game online yang sarat unsur agresi. Anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan psikologis sangat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan mainkan. Ketika kekerasan terus-menerus ditampilkan dalam bentuk permainan, tindakan tersebut dapat dianggap wajar dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang salah apalagi ancaman.

Selain itu, game online dengan konten kekerasan dapat diakses secara bebas melalui ponsel atau komputer tanpa pengawasan yang ketat. Akibatnya, banyak anak mengalami gangguan emosi, mudah marah, kurang empati, dan mengalami penurunan kesehatan mental. Kondisi ini menunjukkan bahwa game online bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah serius bagi perkembangan generasi muda.

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ruang digital, termasuk game online, sebenarnya tidak netral. Setiap platform dan permainan dibuat dengan tujuan tertentu. Game dirancang agar pemain betah berlama-lama, terus bermain, dan bahkan mengeluarkan uang. Untuk mencapai tujuan tersebut, unsur kekerasan sering dijadikan daya tarik karena mampu memicu adrenalin dan emosi pemain. Tanpa disadari, nilai-nilai kekerasan tersebut tertanam dalam pola pikir anak-anak.

Lebih jauh lagi, industri game merupakan bagian dari sistem kapitalisme digital global. Dalam sistem ini, keuntungan menjadi tujuan utama. Anak-anak dan remaja dijadikan target pasar yang sangat menguntungkan karena mudah tertarik dan sulit lepas dari permainan. Dampak negatif terhadap mental dan perilaku generasi sering kali diabaikan selama produk tersebut menghasilkan keuntungan besar. Dengan demikian, kerusakan generasi muda bukanlah dampak sampingan semata, tetapi konsekuensi dari sistem yang tidak memprioritaskan keselamatan manusia.

Di sisi lain, peran negara dalam melindungi generasi muda masih tergolong lemah. Meskipun sudah ada upaya berupa imbauan, pembatasan usia, dan wacana pemblokiran game berbahaya, pelaksanaannya belum maksimal. Banyak game kekerasan tetap bebas dimainkan oleh anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi dari bahaya ruang digital.

Dalam pandangan Islam, menjaga dan melindungi generasi merupakan kewajiban penting negara. Negara tidak boleh membiarkan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang merusak akal, moral, dan masa depan mereka. Segala bentuk hiburan dan informasi yang membahayakan generasi wajib dicegah. Oleh karena itu, pembiaran terhadap game online berkonten kekerasan bertentangan dengan prinsip perlindungan umat dalam Islam.

Islam juga menolak dominasi kapitalisme digital yang hanya berorientasi pada keuntungan. Ruang digital seharusnya berada di bawah kendali negara dan digunakan untuk kemaslahatan masyarakat, bukan untuk merusak generasi. Negara harus memiliki kedaulatan digital, yaitu kemampuan untuk mengatur, menyaring, dan mengontrol konten digital agar sesuai dengan nilai kemanusiaan dan moral.

Untuk mencegah rusaknya generasi muda, Islam menawarkan solusi melalui tiga pilar utama. Pertama, ketakwaan individu, yaitu membentuk pribadi anak yang memiliki iman dan kesadaran moral sehingga mampu mengendalikan diri. Kedua, kontrol masyarakat, di mana keluarga, sekolah, dan lingkungan berperan aktif dalam mengawasi serta mendampingi anak dalam penggunaan teknologi. Ketiga, perlindungan negara, yaitu kebijakan tegas dan sistematis dalam mengatur konten digital serta menindak pihak yang merugikan.

Jika ketiga pilar tersebut dijalankan secara bersama dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya yang berlandaskan nilai Islam, maka kerusakan generasi akibat game online dan kapitalisme digital dapat dicegah. Generasi muda tidak hanya terlindungi dari kekerasan digital, tetapi juga tumbuh menjadi manusia yang berakhlak, berkepribadian kuat, dan bertanggung jawab.

Sebagai penutup, maraknya kekerasan yang terinspirasi dari game online harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Ini bukan hanya masalah anak atau keluarga, tetapi masalah sistem yang membiarkan kapitalisme digital merusak generasi. And the end, tanpa perubahan cara pandang dan kebijakan yang tegas, masa depan generasi muda akan terus berada dalam ancaman. Wallahu'alam bishshowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak