Oleh Julia
Beberapa hari belakangan ini viral berita di medsos namun sayangnya bukan berita yang menggembirakan atau menunjukkan suatu pencapaian prestasi dari dunia pendidikan tetapi lagi lagi kasus kekerasan. melihat berita ini berbagai perasaan bercampur baur. Marah, sedih, sekaligus malu. Marah, karena kejadian ini benar benar nyata bukan adegan dalam sinetron atau film-film pendek. Sedih dan malunya karena kejadian ini terjadi di sekolah dimana seharusnya menjadi tempat untuk membentuk adab, akhlaq dan tempat menggali potensi dan mengukir prestasi tapi yang terjadi sebaliknya. Dan yang lebih menyedihkan justru guru yang menjadi korban pengeroyokan murid muridnya sendiri.
Kejadiannya bermula ketika siswa menegur gurunya dan berakhir dengan percecokan sampai terjadi pengeroyokan. Menurut guru yang berinisial AS saat ia berjalan didepan kelas yang sedang belajar dengan guru, salah satu siswa menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan, siswa meneriakkan kata yang tidak pantas kepadanya. Lalu ia masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang bertindak tidak sopan. Salah seorang siswa mengakui ia yang melakukan tetapi dari gesture tubuhnya siswa seakan menantangnya, akhirnya guru AS bereaksi spontan menampar siswa tersebut. Mediasi dari pihak sekolah dilakukan namun di tengah proses mediasi terjadi pengeroyokan tersebut. Akibat pengeroyokan tersebut guru AS mengalami luka luka lebam. Pasca kejadian tersebut guru AS melaporkan ke pihak yang berwajib. Sementara menurut siswa guru AS sering ngomong kasar, menghina siswa dan orangtua, bilang bodoh dan miskin.
Merespon peristiwa pengeroyokan terhadap guru ini, Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.
Dalam kasus pengeroyokan guru oleh siswa jelas bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja karena kehilangan nilai ruhnya. Relasi guru–murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan, keteladanan dan kasih sayang justru berubah menjadi relasi yang kosong dari nilai nilai adab, etika dan akhlaq disisi lain penuh ketegangan, bahkan dapat berujung kekerasan.
Di satu sisi perkataan dan perilaku siswa yang tidak sopan dan kasar, tidak menghormati dan memuliakan guru bahkan sampai melakukan tindakan pengeroyokan jelas merupakan tindakan yang melampaui batas adab. Di sisi lain, tak dapat dipungkiri perilaku sebagian guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Dengan perilaku guru seperti itu maka guru tidak dapat memberikan keteladanan kepada siswanya, sebaliknya siswa kering dari nilai nilai adab adab akibatnya kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. Inilah buah pendidikan sistem
Inilah buah sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan nilai nilai agama islam dalam proses pendidikan. Pendidikan hanya sebatas mengejar nilai akademik dan lebih miris lagi pendidikan melalui sekolah hanya sebagai pencetak lulusan yang siap kerja. Akhlaq, adab dan pembentukan kepribadian islam dianggap urusan samping yang sudah didapat dilingkungan rumah (keluarga). Maka tidak mengherankan jika yang muncul adalah generasi yang cerdas secara intelektual tapi nol adab.
Sungguh sangat berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Maka dalam sistem pendidikan Islam adab didahulukan sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab hanya akan menimbulkan kerusakan.
Dalam sistem pendidikan islam, murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim) seperti yang dicontohkan para sahabat dan tabiin saat memuliakan guru. Sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, kesabaran bukan hinaan. Rasulullah adalah sebaik baik contoh seorang guru.. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar yang menyampaikan materi semata.
Pendidikan di sekolah tidak akan mampu sendiri mencetak generasi yang cerdas, beradab, dan bersyaksiyah Islam untuk itu perlu peran negara yang dapat memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Selain itu negara juga berperan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif menjaga adab generasi, selain itu orangtua juga diupayakan memiliki pemahaman Islam kaffah agar dapat membekali
anak anaknya dengan aqidah dan syariat islam sehingga pendidikan dirumah dan sekolah berjalan seiring.
Wallahu a'lam bish-shawab [].
Tags
opini