By : Ummu Aqsha
Di Era moderen yang penuh dengan arus informasi dan disinformasi hikmah isra miraj mengajarkan pentingnya keteguhan dan prinsip kebenaran.Dan sekarang yang terjadi adalah tatanan dunia di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme global yang dikendalikan secara penuh oleh Amerika (AS) sebagai negara pertama, kian hari kian menampakkan kebobrokannya. Berbagai krisis terus terjadi di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari krisis ekonomi yang memproduksi kemiskinan dan gap sosial yang makin lebar, krisis moral yang menghilangkan nilai-nilai luhur dan kemanusiaan, krisis politik yang menampakkan kerakusan manusia akan harta dan kekuasaan, hingga krisis lingkungan yang menyebabkan bencana alam tidak berkesudahan.
Apa yang terjadi di Gaza, bahkan lebih dari cukup untuk menelanjangi kezaliman Amerika dengan tatanan hidup yang dikendalikannya. Berbagai lembaga dan hukum internasional yang ada pun gagal total dalam menciptakan perdamaian dunia. Bahkan, terbukti semuanya hanya menjadi alat permainan yang digunakan Amerika untuk merampok sumber daya alam dunia dan memperbudak sumber daya manusianya.
Mirisnya, semua ini terjadi di bawah pengetahuan masyarakat dunia. Sikap diam dan kecaman basa-basi para pemimpin mereka seakan menjadi legitimasi atas kesadisan AS dan sekutunya. Wajar jika Trump bersikap makin jemawa. Ia gunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk membela kepentingan Zion*s sekutunya. Ia dikte tentang apa yang boleh dan tidak boleh terjadi di Gaza, sebagaimana tampak dari proyek Reviera Timur Tengah dan proposal rekonstruksi Gaza yang men-setting Amerika sebagai pemimpinnya.
Negara Butuh Kepemimpinan
Yang Seimbang.
AS dalam hal ini sejatinya sedang benar-benar menjalankan peran ideologisnya sebagai negara pengusung kapitalisme yang thariqah-nya adalah penjajahan. Alhasil, AS akan melakukan berbagai cara agar penjajahan itu terus berlangsung, meski dunia bersatu untuk menentang.
Trump memang punya mimpi mewujudkan visi America First dengan slogannya “Make America Great Again (MAGA)”. Ini adalah visi untuk menjadikan negaranya kembali menjadi satu-satunya yang kuat, kaya, dan dihormati dengan memprioritaskan keamanan, ekonomi, dan nilai-nilai Amerika dalam setiap keputusan internasional.
Ujung dari semuanya adalah keberlangsungan penjajahan atau hegemoni AS atas dunia, terutama negara yang kaya sumber daya, khususnya emas, minyak, dan sebagainya. Dengan posisinya sebagai negara pertama, AS memosisikan diri sebagai polisi dunia yang bisa melakukan apa saja, termasuk menyerang dan turut campur dalam urusan negara lainnya dengan berbagai alasannya.
Namun jika dicermati, arogansi tanpa batas AS dan sekutunya ini sejatinya tidak menunjukkan kekuatan hakiki sistem kepemimpinan kapitalisme global yang dipimpinnya. Semua seakan powerful karena tidak ada satu pun kekuatan yang bisa menjadi penyeimbang, alih-alih bisa mengalahkan. Ini karena seluruh dunia juga menganut ideologi yang sama dan turut dalam medan permainan yang AS ciptakan. Akhirnya, yang berlaku adalah siapa yang kuat, dia yang menang. Wajar jika muncul istilah negara kapitalis subjek sebagai pemenang dan kapitalis objek sebagai pecundang.
Dari sisi ideologinya sendiri, kapitalisme sejatinya sangat lemah sehingga sistem kepemimpinan dan aturan yang dilahirkannya dipastikan sangat rapuh. Salah satunya adalah karena cacat bawaan yang ada pada asas ideologinya, yakni akidah sekuler yang menafikan peran Tuhan (agama), sekaligus mengagungkan kebebasan dan peran akal manusia yang lemah dan terbatas dalam mengatur seluruh urusan kehidupan. Asas rusak ini kemudian melahirkan prinsip survival of the fittest yang menjadi sebab munculnya aturan yang sangat destruktif sekaligus menjadi sebab munculnya berbagai kezaliman di muka bumi.
Sistem Islam sebagai Peradaban
Yang Cemerlang.
Rajab 1447 H ini, nyaris 105 tahun umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah, tanpa pengurus (raain) dan penjaga (junnah). Oleh sebab itu, sudah lebih dari cukup umat Rasulullah saw. dan pewaris generasi terbaik umat Islam ini hidup dalam kehinaan dan keterpurukan akibat tunduk pada kepemimpinan sekuler kapitalisme yang tidak mengenal keluhuran moral.
Setelah runtuhnya Uni Soviet yang mengusung sosialisme, tidak ada lagi ideologi yang berpotensi mengalahkan kapitalisme selain Islam. Hanya saja, sejak Khilafah runtuh pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924), Islam tidak lagi diemban oleh negara sehingga ia kehilangan sifatnya sebagai sebuah ideologi yang bisa melahirkan peradaban cemerlang.
Sifat Islam sebagai ideologi ini terus berupaya dikubur dan dikaburkan oleh Barat dengan pengarusan sistem pendidikan sekuler dan perang pemikiran serta budaya di negeri-negeri Islam. Mereka hendak menyekulerkan umat Islam sehingga terjauhkan dari modal kebangkitan dan terus berada dalam cengkeraman penjajahan.
Mereka pun terus memerangi gerakan Islam politik melalui propaganda perang global melawan teror dengan memonsterisasi Khilafah dan pengusungnya demi memupus keinginan umat untuk kembali hidup dalam kepemimpinan Islam. Termasuk menjalankan proyek memecah-belah umat Islam melalui pengarusan gagasan Islam moderat untuk mengukuhkan penjajahan.
AS dan sekutunya juga tampak sadar betul bahwa Islam dengan sistem kepemimpinannya, yakni Khilafah, adalah satu-satunya sistem kepemimpinan yang bisa menantang, bahkan mengalahkan sistem kepemimpinan kapitalisme. Khilafah pula yang mereka yakini akan menghentikan mimpi-mimpi mereka untuk menguasai seluruh kekayaan dunia hingga mereka begitu berkepentingan mencegah kemunculannya, bagaimana pun caranya.
Dugaan mereka tentu saja benar. Pertama, sistem Khilafah tegak di atas akidah yang benar, yang menjadikan kedaulatan membuat hukum hanya pada Tuhan Sang Pencipta Alam, jauh dari konflik. Kedua, seluruh aturannya merupakan solusi atas berbagai problem kehidupan dan turun sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia menjaga jiwa dan akal manusia, harta dan kehormatannya, bahkan agama dan negara.
Sejarah mencatat, tatkala umat Islam hidup di bawah naungan Khilafah, mereka mampu tampil sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memimpin peradaban cemerlang. Bahkan, sepanjang belasan abad, Khilafah tampil sebagai negara pertama yang begitu ditakuti lawan, sekaligus role model kemajuan. Bukan hanya sejahtera secara materi, melainkan penuh berkah karena negara menjadi manifestasi iman dan ketaatan total pada titah Sang Pencipta Alam.
Umat Islam wajib bangkit dan bersatu untuk mengembalikan kemuliaan dengan berjuang menegakkan kembali Khilafah Islam. Hingga tatanan dunia yang rusak di bawah kepemimpinan AS dengan ideologi kapitalismenya akan segera diganti dengan tatanan peradaban Islam yang menebar rahmat ke seluruh alam.
Sungguh, Allah Swt. telah menjanjikan bahwa Khilafah yang akan datang akan mewujudkan kesejahteraan tanpa bandingan. Khilafah pun akan menjadi pembebas Palestina, termasuk Gaza, menghinakan Zion*s Yahudi dalam perang besar, bahkan menaklukkan Roma sebagai simbol terbesar kekufuran akhir zaman.
Wallahualam bisawabb.
Tags
opini