Oleh : Yayat Rohayati
Setiap tanggal 22 Desember ucapan selamat hari ibu meramaikan laman media sosial. Tak lupa berbagai bingkisan, kado, dan buket mengalir deras untuk para ibu. Bukan hanya media sosial yang dipenuhi kata-kata cinta untuk ibu, sekolah pun turut meramaikan momen tersebut dengan lomba dan pentas seni. Ruang publik ramai dengan seremoni.
Tahun ini, tema hari ibu yang diusung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) adalah “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut mengharapkan peran ibu dalam keberlangsungan kehidupan serta menyokong penuh visi dan misi Indonesia emas 2045 (Tribunnews.com, 21 Desember 2025).
Perempuan berdaya adalah mereka yang memiliki akses pendidikan, kesehatan, ekonomi dan perlindungan dari kekerasan. Sedangkan berkarya adalah mampu melahirkan gagasan dan generasi berkualitas. Perempuan dalam keluarga, yaitu ibu, merupakan fondasi utama terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Akan tetapi fondasi yang hakiki itu sulit terbentuk dalam sistem kapitalisme sekuler. Dimana sistem kehidupan yang bersumber dari aturan manusia ini melahirkan berbagai ketimpangan pada perempuan, diantaranya ketimpangan peran. Banyak ibu disamping mengurus rumah dan anak-anak, terpaksa harus keluar rumah guna membantu perekonomian keluarga. Kemudian ketimpangan perlindungan, banyak perempuan hari ini mendapat kekerasan dan eksploitasi, sementara penegakkan hukum masih lemah. Akhirnya kekerasan semakin masif terjadi. Ketimpangan pun menghadang cita-cita menuju Indonesia emas 2045.
Oleh karena agar pemberdayaan peran perempuan menuju Indonesia Emas bukan sekedar slogan, saatnya mencontoh pada kondisi perempuan dalam sistem IsIam. Sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah ini begitu memuliakan dan melindungi perempuan.
Dalam posisinya sebagai anak, perempuan dijamin hak hidup dan pendidikan. Sebagai istri, perempuan diperlakukan dengan kasih dan tanggung jawab oleh suaminya. Sedangkan sebagai ibu, kedudukannya ditinggikan hingga Ridha Allah bergantung pada Ridhanya. Islam tidak memandang perempuan dari nilai fisik, melainkan dari ketakwaan dan kontribusinya dalam mencetak generasi cemerlang penerus peradaban.
Ibu adalah madrasah pertama yang menentukan masa depan generasi dan bangsa. Ibu mengajarkan tauhid, adab, akhlak, dan keimanan sejak dini. Ibu juga merupakan sumber kasih sayang dan keteladanan bagi anak-anaknya. Sehingga bentuk penghormatan atau baktinya adalah setiap saat, tak ada pengkhususan waktu. Kapanpun dan dimanapun bakti anak terhadap ibu harus ada.
Adapun kewajiban seorang anak terhadap ibu diantaranya adalah; berbakti, patuh, dan berbuat baik. Kewajiban ini ditekankan dalam Al-Qur'an dan Hadist.
Allah Swt. berfirman yang artinya;
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...". (TQS.Al-Isra:23).
Rosulullah saw. juga bersabda:
" Surga itu di bawah telapak kaki ibu" (HR. An-Nassai).
Kemudian, mendoakan ampunan dan kebaikan bagi ibu, baik yang masih hidup ataupun yang sudah wafat. Semua kewajiban itu dilakukan setiap saat, tanpa ada pengkhususan waktu.
Negara dalam IsIam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Lapangan pekerjaan disediakan dan dimudahkan bagi para kepala keluarga. Sehingga tak ada lagi para ibu yang keluar rumah untuk membantu mencari nafkah. Anak-anak pun akan terdidik dengan baik, karena ibu berada tepat pada fungsinya, yaitu sebagai ummu madrosatul 'ula dan ummu wa robbatulbait.
Oleh karena itu bagi yang memperingati hari ibu, yuk jadikan hari ibu ini sebagai momen merefleksi fondasi yang tak berjalan diatas fungsinya dikarenakan sistem yang bukan berasal dari sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan, Allah swt.
Wallahu a'lam.
Tags
opini
