Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam
Umat Islam saat ini dalam keadaan terkotak-kotakkan atas nama nasionalisme, yang menyebabkan umat tak mampu menggerakkan diri membela saudara seakidahnya. Kotak-kotak ini merupakan perencanaan matang jauh hari sebelum Zionis laknatullah melakukan penyerangan secara fisik di Timur Tengah. Menyerang pemikiran umat dengan menghembuskan paham-paham sekuler, tipu daya kapitalisme, liberalisme yang menjadikan umat tak lagi merasakan satu tubuh dengan saudara seakidahnya sehingga tak lagi peduli dengan penderitaan yang menimpa saudaranya. Mengubah umat menjadi umat yang egosentris, dan meskipun umat mulai menyadari dan ingin bangkit membantu, namun usaha tersebut akan tertekan oleh pemimpin-pemimpin boneka yang sengaja diletakkan di negara-negara mayoritas muslim tersebut.
Oleh karenanya usaha apapun saat ini dalam membebaskan Palestina akan terus gagal karena tak adanya gerak militer dalam satu komando yang tidak terintervensi oleh Zionis. Demikian pula dengan solusi melalui Fatwa jihad yang dikemukakan oleh Ali Al-Qaradhi, salah satu ulama berotoritas tinggi di kawasan tersebut, dimana fatwanya diakui oleh 1,7 miliar Muslim Suni di dunia, yang saat ini menjabat sebagai sekretaris jendral dari International Union of Scholars (IUMS).
Pihaknya menyerukan agar semua negara muslim segera turun tangan baik secara militer, ekonomi maupun politik untuk menghentikan genosida yang terjadi di Palestina, karena gagalnya pemerintah Arab dan Islam dalam mendukung Gaza saat menghadapi kehancuran, dianggap oleh hukum Islam sebagai kejahatan besar terhadap saudara-saudara seakidahnya. Fatwa yang terdiri dari 15 poin tersebut mendapat dukungan dari 14 ulama terkemuka lainnya. Selain pelarangan mendukung Zionis, blokade terhadap penjualan senjata beserta jalur pengangkutannya baik melalui udara, laut maupun darat, salah satu poinnya juga menyebutkan agar negara-negara muslim melakukan peninjauan kembali terhadap perjanjian damai negaranya dengan Zionis dan meminta umat Islam di Amerika memberikan penekanan terhadap Donald Trump agar menghentikan agresi militernya sebagaimana janji kampanyenya dulu. (https://mediaindonesia.com: 6 April 2025)
Seruan jihad yang dilakukan oleh persatuan ulama internasional merupakan hasil respon dari kegagalan segala usaha yang dilakukan untuk menolong umat muslim di Palestina, namun jika fatwa tersebut tidak dibarengi dengan tindakan nyata yakni mengirimkan militer dalam satu komando untuk mengusir zionis dari bumi Palestina, maka mustahil dapat menghentikan aksi genosida yang tengah berlangsung hingga saat ini. Karena hal ini pun sudah dilakukan oleh kelompok bersenjata di Palestina sebelum ada fatwa. Keadaan umat yang terpecah-pecah saat ini dalam lingkup negara-negara menjadikan fatwa tersebut tidak efektif, dan tidak mampu mengikat, meski berpengaruh terhadap miliaran umat Islam di dunia. Ironinya pemimpin-pemimpin negara mayoritas muslim yang berkuasa menggerakkan militernya untuk hadir berjihad tersebut merupakan boneka Zionis. Sehingga hanya mampu mengecam sebagai bentuk pencitraan dari topeng pengkhianatan.
Pembebasan Palestina hanya bisa dilakukan dibawah satu komando kepemimpinan yakni khalifah dari institusi Khilafah yang hadir dari persatuan perasaan seluruh umat Islam yang bangkit kesadaran ideologisnya. Melalui tangan-tangan umat selaku pemilik kekuasaan sejati inilah, akan mampu menaklukkan penguasa yang ada untuk menuruti keinginannya, bahkan mampu membuat penguasa menyerahkan kekuasaannya pada lainnya, karena tak mampu melakukan keinginan umat. Menyadarkan umat bahwa memperjuangkan tegaknya institusi Khilafah merupakan kewajiban dan merupakan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan segala macam problematika umat, dibutuhkan gerakan dakwah yang memperjuangkan Islam dengan tulus demi keridaan Allah Swt. sehingga seruan jihad akan terus berkumandang bergandengan dengan seruan menegakkan Khilafah.
Tags
Opini
