Annasya Ursila
Lebaran memang sudah lewat, tapi justru banyak orang merasa hidup makin berat. Daya beli masyarakat menurun di mana-mana. Pedagang pasar mengeluh sepi, pusat perbelanjaan pun tak seramai dulu. Tapi yang bikin miris, walau belanja menurun, utang justru meningkat. Data terbaru mencatat utang paylater di Indonesia sudah tembus Rp21,98 triliun per Februari 2025 (ojk.go.id)
Layanan paylater awalnya terlihat seperti solusi cepat. Tinggal klik, barang langsung bisa dibawa pulang, meski belum punya uang. Tapi kemudahan ini berubah menjadi jebakan. Sistem kapitalisme yang mendorong gaya hidup konsumtif membuat orang terus membeli demi gengsi, bukan kebutuhan. Ukuran bahagia pun bergeser—bukan lagi ketenangan hati, tapi seberapa banyak barang yang dimiliki.
Masalahnya, banyak layanan paylater berbasis riba. Bunga yang tinggi, denda yang memberatkan, dan tekanan mental dari tagihan yang terus menumpuk membuat banyak orang terjebak dalam lingkaran utang tanpa akhir. Ini bukan cuma beban dunia, tapi juga membawa dosa di akhirat. Islam jelas-jelas mengharamkan riba dalam bentuk apa pun.
Dalam pandangan Islam, kebahagiaan tak diukur dari banyaknya harta. Islam mengajarkan hidup sederhana dan bertakwa. Tujuan hidup bukan sekadar mengejar kesenangan materi, tapi mencari ridha Allah. Sistem ekonomi Islam juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan pokok semua orang, bukan memanjakan segelintir yang punya modal besar.
Islam menolak riba dan memastikan ekonomi berjalan sesuai syariat. Dalam sistem Khilafah, negara akan menjaga agar praktik haram seperti riba tidak meracuni kehidupan rakyat. Negara juga akan memastikan kekayaan didistribusikan secara adil, harga kebutuhan pokok stabil, dan sumber daya alam dikelola untuk kesejahteraan umat.
Sudah saatnya kita sadar, bahwa sistem kapitalisme sekuler inilah akar dari berbagai krisis yang kita alami. Kita harus berani berhijrah dari sistem rusak ini menuju sistem Islam yang penuh keberkahan. Jangan biarkan budaya utang menjadi warisan, dan gaya hidup konsumtif jadi kebiasaan. Saatnya kembali pada syariat demi hidup yang lebih tenang dan bermakna.
Tags
Opini
