Anak Palestina Tak Butuh Simpati, Mereka Butuh Perlindungan Nyata



                             
                              FAIZAH

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan sedikitnya 100 anak telah terbunuh atau terluka setiap hari di Gaza sejak serangan dimulai kembali pada 18 Maret, bahkan saat Amerika Serikat menggarisbawahi dukungan berkelanjutan bagi Israel. (Erakini.id, 5 April 2025) 
Menurut Biro Statistik Palestina seperti dilansir Al Mayadeen, Jalur Gaza kini menghadapi krisis yatim terbesar dalam sejarah modern. Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Anak Palestina, biro tersebut mengonfirmasi bahwa 39.384 anak telah menjadi yatim sepanjang 534 hari pengeboman. Dari jumlah tersebut, sekitar 17.000 anak kehilangan kedua orangtua dan kini "menghadapi kehidupan tanpa dukungan atau perawatan." (Liputan6.com, 6 April 2025)

 _Janji Kosong Perlindungan Anak_ 

Isu perlindungan anak yang sering digaungkan oleh komunitas internasional nyatanya tidak berlaku bagi anak-anak Palestina. Berbagai konvensi seperti Konvensi PBB tentang Hak Anak (UNCRC) yang menjamin hak hidup, pendidikan, perlindungan dari kekerasan, serta pengasuhan dari orang tua, hanya menjadi catatan formal tanpa implementasi nyata di bumi Palestina. Anak-anak di Gaza dan Tepi Barat justru hidup dalam bayang-bayang kematian, kehilangan keluarga, dan dikepung kehancuran. Sekolah mereka dihancurkan, rumah sakit dibom, dan kehidupan mereka terenggut sejak masih dalam pelukan ibu.

Kekejaman Zionis benar-benar di luar batas kemanusiaan. Ribuan anak menjadi korban kekerasan brutal, dan sebagian besar dari mereka kini menjadi yatim karena orang tua mereka terbunuh. Data menyebutkan, lebih dari 39 ribu anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya, dan setiap hari sekitar seratus anak meninggal akibat agresi militer yang terus berlangsung. Semua tragedi ini berlangsung di tengah gencarnya kampanye soal hak asasi manusia dan hukum internasional yang katanya menjamin keselamatan anak. Kenyataannya, aturan-aturan tersebut tak berdaya, bahkan tak mampu memberikan perlindungan paling dasar sekalipun kepada anak-anak Palestina.

Fakta-fakta ini menjadi bukti bahwa lembaga-lembaga internasional seperti PBB tidak lebih dari simbol kosong yang tak berfungsi ketika menyangkut kepentingan negara besar seperti Amerika Serikat. Alih-alih melindungi korban, mereka justru membiarkan pelaku kejahatan berkeliaran dan terus menjalankan aksinya. Dunia internasional, di bawah bayang-bayang sistem kapitalis global, hanya peduli pada stabilitas politik dan keuntungan ekonomi. Selama entitas penjajah masih diberi ruang, selama keadilan tunduk pada kepentingan politik, anak-anak Palestina tidak akan pernah merasakan kedamaian ataupun masa depan yang layak. Perlindungan anak yang selama ini dibanggakan dunia nyatanya hanyalah ilusi yang tak pernah menyentuh realitas kehidupan mereka.

Kenyataan pahit ini seharusnya membuka mata umat bahwa berharap pada lembaga-lembaga internasional hanyalah kesia-siaan. Alih-alih menjadi pelindung bagi korban kezaliman, institusi-institusi global tersebut justru berfungsi sebagai alat kepentingan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Aturan-aturan yang mereka lahirkan tampak indah di atas kertas, tetapi pada kenyataannya tidak pernah benar-benar berpihak kepada umat Islam, apalagi kepada rakyat Palestina. Di balik jargon diplomasi dan hukum internasional, tersimpan ambisi untuk mempertahankan dominasi politik dan meraup keuntungan strategis, khususnya di wilayah Timur Tengah yang kaya sumber daya. Maka sudah saatnya umat menyadari bahwa solusi sejati tidak akan datang dari sistem global yang dibangun oleh musuh-musuh mereka, melainkan dari persatuan dan kesadaran untuk bangkit melawan ketidakadilan itu sendiri.

 _Harapan Palestina di Tangan Khilafah_ 

Kenyataan pahit yang terus berlangsung di Palestina semestinya menjadi pukulan keras bagi umat Islam. Sudah saatnya umat berhenti menggantungkan harapan pada lembaga-lembaga internasional yang selama ini terbukti hanya menjadi alat politik negara-negara adidaya. Forum-forum global, konvensi, dan resolusi yang terdengar indah di telinga nyatanya tak pernah mampu menghentikan darah yang terus mengalir di tanah Gaza. Masa depan Palestina tidak akan pernah ditentukan oleh PBB, Uni Eropa, atau negara-negara besar, apalagi oleh para penguasa Muslim yang tunduk pada tekanan asing. Masa depan Palestina sepenuhnya berada di tangan umat Islam sendiri, dengan syarat mereka bangkit dan memperjuangkan satu-satunya solusi hakiki—penegakan Khilafah Islamiyah.

Khilafah bukan sekadar sistem pemerintahan, melainkan institusi agung yang berfungsi sebagai rā‘in (pengurus umat) dan junnah (perisai pelindung) sebagaimana digambarkan dalam sabda Rasulullah saw. Ia tidak akan pernah membiarkan kehormatan umat diinjak, apalagi membiarkan anak-anak dan perempuan dibantai tanpa perlindungan. Dalam sejarahnya, Khilafah telah menjadi penjaga Palestina selama lebih dari seribu tahun. Dari pembebasan Al-Quds oleh Umar bin Khaththab, kejayaan di bawah Shalahuddin al-Ayyubi, hingga sikap tegas Khalifah Abdul Hamid II yang menolak penjualan sejengkal tanah Palestina kepada Zionis—semua itu adalah bukti nyata kekuatan dan keberpihakan Khilafah terhadap tanah suci dan umat Islam.

Lebih dari sekadar perisai militer, Khilafah juga menghadirkan peradaban unggul. Di bawah naungannya, Palestina pernah menjadi wilayah yang maju, aman, dan sejahtera. Infrastruktur dibangun, pendidikan digalakkan, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memuliakan ilmu. Di kota Yerusalem, Khilafah mendirikan Madrasah Nizhamiyah—tempat lahirnya tokoh besar seperti Imam Al-Ghazali yang karyanya menginspirasi dunia Islam hingga hari ini. Semua ini menunjukkan bahwa Khilafah bukan hanya menjaga Palestina secara fisik, tetapi juga membentuk karakter dan keilmuan generasi masa depan.

Oleh karena itu, perjuangan untuk mengembalikan Khilafah adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda. Setiap Muslim harus menjadikan agenda ini sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Tidak cukup hanya bersedih melihat penderitaan anak-anak Gaza, tidak cukup hanya berdonasi dan berdoa. Kita harus menjadi bagian dari perjuangan sistemik untuk mengembalikan kepemimpinan Islam yang akan menghimpun kekuatan umat dan memimpin jihad fi sabilillah guna membebaskan Palestina secara menyeluruh.

Saat Khilafah tegak kembali, maka Palestina akan memiliki pelindung sejati. Anak-anak Gaza tidak lagi hidup dalam bayang-bayang kematian, tetapi dalam naungan kasih sayang negara yang benar-benar mengurus mereka. Maka, perjuangan ini bukan sekadar untuk membebaskan tanah, tetapi untuk mengembalikan kemuliaan umat, dan memastikan bahwa tragedi serupa tidak akan pernah terulang lagi di manapun di dunia Islam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak