Anak-Anak Gaza Kelak akan Menuntut Tanggung Jawab Kita.



Oleh : Bunda Twins 



SEKITAR 39.384 anak Palestina telah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka akibat lebih dari 500 hari pengeboman brutal—angka ini dirilis menjelang Hari Anak Palestina pada 5 April 2025.
Genosida Israel di Gaza telah menciptakan krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern.

“Anak-anak ini hidup dalam kondisi yang memilukan—berlindung di tenda-tenda robek atau reruntuhan rumah, tanpa akses pada perawatan sosial maupun dukungan psikologis,” ungkap Biro Pusat Statistik Palestina, dikutip Al Jazeera.
Sejak Oktober 2023 saja, sekitar 17.000 anak telah menjadi yatim piatu. Rumah mereka hancur, keluarga tercerai-berai, dan kini mereka bertahan hidup di tengah reruntuhan, tanpa kepastian akan perlindungan, makanan, atau kehangatan.

Penderitaan mereka mengejutkan nurani. Hampir 18.000 anak tewas—termasuk ratusan bayi. Perang ini tidak hanya merenggut orang tua mereka, tapi juga masa kecil, rasa aman, dan masa depan mereka.
"Tujuh belas anak mati kedinginan di tenda pengungsian. Lima puluh dua lainnya meninggal karena kelaparan dan gizi buruk yang sistematis,” tambah pernyataan tersebut. (Al Jazeera/Z-10)

Pendudukan Israel "terus menargetkan anak-anak melalui kejahatan sistematis, termasuk menggunakan mereka sebagai tameng manusia, merampas pendidikan mereka, dan berupaya memutuskan identitas nasional mereka di wilayah pendudukan tahun 1948 melalui manipulasi kurikulum, penyebaran kejahatan, dan penghancuran nilai-nilai", tambahnya.
Data yang diterbitkan dalam pernyataan bersama oleh Komisi Palestina untuk Urusan Tahanan, Masyarakat Tahanan Palestina, dan Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi Manusia Addameer pada hari Sabtu mengatakan Israel menahan 1.200 anak Palestina dari Tepi Barat yang diduduki sejak 7 Oktober 2023.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa anak-anak yang ditahan mengalami "penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, dan perampasan sistematis setiap hari".

--
Upaya Tidak Serius dari PBB dan Negara - negara Muslim.
--

Mirisnya semua fakta diatas terjadi ditengah narasi soal hak asasi manusia dan berbagai macam aturan internasional, serta seperangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak tanggal 5 April lalu yang ditetapkan sebagai hari anak palestina. Penetapan hari tersebut lantaran anak anak palestina secara historis hidup dalam kondisi yang sangat sulit akibat penjajahan zionis. 

Konvensi PBB tentang Hak Anak (United Nations Convention on the Rights of the Child/UNCRC) menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh:

– Kehidupan, kelangsungan hidup, dan perkembangan

– Perlindungan dari kekerasan, pelecehan, atau pengabaian

– Pendidikan yang memungkinkan anak-anak untuk memenuhi potensinya

– Dibesarkan oleh orang tua atau memiliki hubungan dengan mereka

– Mengungkapkan pendapat mereka dan didengarkan pendapatnya

Namun apalah arti peringatan anak jika penjajah zionis masih terus berlangsung hingga hari ini yang begitu mengerikan  di abad modern ini. Zionis terus menjatuhkan bom bomnya ke kem pengungsian. Pemandangan mengerikan ini tetap membungkam penguasa negara negara muslim menjadi buta dan tuli, bahkan lembaga Internasional hanya sibuk melakukan kecaman dan diplomasi dengan zionis.

Apa salah anak-anak Palestina? Mereka masih berusia kanak-kanak sehingga belum berbuat dosa, tetapi ambisi Zionis yang didukung tuannya (AS dkk.) untuk menguasai tanah Palestina telah merenggut kebahagiaan mereka. Hal mendasar seperti makanan dan minuman saja tidak mereka dapatkan. Anak-anak ini tidak memiliki sesuatu pun untuk dimakan hingga mereka terpaksa memakan rumput dan tanah, juga meminum air kotor. Anak-anak ini setiap hari melihat kematian orang-orang yang disayanginya. Bagaimana kita berharap jiwa mereka baik-baik saja? Tidak hanya fisik mereka yang berdarah, jiwa mereka pun terluka.

Lantas, apa yang dunia (kapitalisme) lakukan untuk melindungi anak-anak Palestina? Nyaris tidak ada. Sumber masalahnya, yaitu penjajah Zionis Yahudi, masih dibiarkan eksis dan terus melakukan genosida terhadap anak Palestina. Tidak ada upaya serius dari PBB maupun organisasi negeri-negeri Islam seperti OKI dan Liga Arab untuk menghentikan langkah Zionis.

Selama entitas penjajah itu masih ada dan bercokol di bumi Palestina, anak-anak Palestina tidak akan pernah merasakan keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Hidup mereka akan selalu terancam. Apalagi para penjajah itu adalah kumpulan orang-orang pengecut yang bahkan terhadap anak-anak saja mereka menggunakan senjata mematikan, tidak ada belas kasihan. Apakah saat menembaki anak-anak Palestina mereka memedulikan HAM? Tentu tidak.

Semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Lembaga internasional sejatinya adalah alat AS dkk. untuk menguasai dunia melalui jalur diplomasi. Lembaga itu tidak dirancang untuk menolong kaum muslim Palestina, tetapi untuk mengukuhkan pengaruh AS di dunia, khususnya Timur Tengah demi memperoleh keuntungan materi.

--
Khilafah Menjamin Masa Depan Anak anak Gaza
--

Masa depan Palestina tidak di tangan Barat, tidak juga di tangan para penguasa boneka di negeri-negeri muslim. Mereka semua sudah terbukti membiarkan Palestina bersimbah darah dan tidak ada upaya serius untuk membebaskannya. Kalaupun kini beberapa negeri muslim menolak relokasi penduduk Gaza, seperti Mesir dan Yordania, itu bukan untuk kepentingan Palestina, tetapi karena mereka enggan memberi tempat di negerinya dan hidup bersama kaum muslim Palestina.

Oleh karenanya, harapan kemenangan Palestina hanya ada pada kepemimpinan politik Islam atau Khilafah. Khilafah berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai pelindung) terhadap umat Islam, termasuk di Palestina. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari). Juga sabda beliau,”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’alayh dll.).

Khilafah tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyat Palestina. Khilafah akan melawan Zion*s Yahudi dengan jihad fi sabilillah. Ini sebagaimana perintah Allah Taala, “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 191).

Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman bagi Palestina. Khalifah Umar bin Khaththab ra. telah membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi dan memimpinnya dengan adil. Para khalifah berikutnya senantiasa melindungi Palestina dari serangan musuh.

Khilafah juga memberikan support system terbaik bagi tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa. Khilafah membangun Palestina hingga menjadi wilayah yang makmur dengan infrastruktur yang modern. Kota-kota di Palestina tertata rapi dan indah. Penduduknya sejahtera dan terpelajar.

Khilafah memenuhi hak-hak anak Palestina secara riil. Khilafah menjamin keamanan mereka, kebutuhan hidup mereka, serta menyediakan sarana kesehatan dan pendidikan. Khilafah membangun Madrasah Nizhamiyah di Baitulmaqdis, Yerusalem. Madrasah inilah yang melahirkan sosok Hujjatul Islam yang keilmuannya diakui hingga saat ini, yakni Imam Muhammad Abu Hamid al-Ghazali. Beliau bahkan mengkhatamkan penyusunan kitab Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin di salah satu bilik Masjidilaqsa (Al-Waie, 29-4-2024).

Ketika pasukan Salib menyerang Palestina, Khilafah berhasil membebaskannya. Melalui pasukan Shalahuddin al-Ayyubi, Palestina kembali berada dalam perlindungan Khilafah Islamiah. Setelahnya, Khilafah senantiasa melindungi Palestina, bahkan ketika Khilafah dalam posisi lemah sekalipun. Pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah, Khalifah Abdul Hamid II bersikeras tidak mengizinkan Yahudi untuk memiliki wilayah di Palestina.

Barulah ketika Khilafah runtuh, perisai pelindung Palestina dan umat Islam secara keseluruhan sirna. Palestina kemudian dikuasai Zion*s Yahudi dan dicabik-cabik hingga hari ini. Tanpa Khilafah, umat Islam tidak punya pemimpin yang mengomando mereka untuk jihad fi sabilillah membebaskan Palestina, meski mereka sangat ingin jihad ke sana. Sedangkan penegakan Khilafah dan jihad fi sabilillah adalah solusi hakiki Palestina dan harus menjadi agenda utama perjuangan umat Islam sedunia.

Anak-anak Palestina akan menuntut tanggung jawab kita kelak di akhirat. Apakah kita berjuang untuk membebaskan mereka atau diam saja tanpa aksi nyata? Lantas, apakah kitah punya hujah di hadapan Allah Yang Maha Adil? 

_Wallahu a'lam bishshawab_

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak