Oleh: Febrinda Setyo
Aktivis Mahasiswa
Umat Islam kini tengah menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di dunia. Dalam momentum ini banyak orang berlomba-lomba mengejar kebaikan demi meraih pahala yang maksimal. Namun apa jadinya jika di tengah bulan yang mulia ini masih berjalan kemaksiatan?
Seperti yang dilansir dari Republika.co.id, selama bulan Ramadhan tempat-tempat hiburan masih tetap beroperasi. Disebutkan bahwa sejumlah tempat hiburan malam masih tetap buka selama bulan ramadhan dengan beberapa ketentuan dan batasan. Bahkan terdapat beberapa daerah yang awalnya melarang beroperasinya tempat-tempat hiburan selama bulan ramadhan, kini memberikan izin untuk tetap buka. Memang terdapat peraturan tentang penutupan tempat hiburan selama bulan ramadhan, namun peraturan tersebut tidak berlaku jika penyelenggaranya merupakan hotel berbintang empat dan lima. Dari kebijakan ini, dapat disimpulkan bahwa dengan tidak adanya penutupan tempat hiburan malam yang notabenya terjadi aktivitas pelanggaran hukum syara’, aktivitas maksiat dapat terus berjalan.
Fenomena ini menunjukkan wajah asli dari sistem sekulerisme. Sekuler berarti memisahkan aturan agama dari kehidupan. Sangat jelas terlihat bahwa saat ini hukum agama tidak dianggap penting dan cenderung diabaikan. Peraturan agama hanya dipakai untuk hal-hal seperti ibadah, urusan pernikahan, dll. Sedangkan dalam sistem kehidupan sosial bermasyarakat, posisi agama tidaklah memiliki nilai yang tinggi. Masyarakat dituntut untuk mengikuti segala aturan maupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tanpa memandang apakah kebijakan tersebut melanggar syari’at atau tidak. Fenomena ini menjadi bukti bahwa kehidupan sekarang telah mengalami sekulerisasi, bahkan kehadiran bulan ramadhan tidak mampu mencegah praktik-praktik kemaksiatan. Segala bentuk kemaksiatan ini juga menunjukkan adanya kegagalan sistem pendidikan sekuler. Pendidikan saat ini tidak mampu membentuk individu masyarakat yang bertakwa dan berpegang teguh pada syari’at. Yang ada justru generasi saat ini menjadi sosok yang cenderung suka mengikuti hawa nafsu dan mudah terbawa arus.
Hal ini juga tidak lepas dari jeratan ideologi kapitalisme yang dianut oleh dunia saat ini. Dalam asas kapitalisme, segala aspek kehidupan dipandang sebagai lahan untuk menghasilkan cuan. Dalam sistem ini orientasi hidup hanyalah materi semata. Ketika ada peluang untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, tanpa memperhatikan aturan agama, segala kesempatan akan diambil. Salah satunya adalah tetap terbukanya tempat hiburan malam selama bulan ramadhan. Salah satu ciri khas dari sistem kapitalisme ini adalah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Segala aturan dan kebijakan selalu berpihak pada pemilik modal. Dalam kasus ini misalnya, terdapat pengecualian dalam pemberlakuan kebijakan. Bagi tempat hiburan kecil harus tutup, sedangkan untuk tempat berbintang empat dan lima masih diizinkan untuk beroperasi. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam menjalankan kebijakan yang ditetapkan.
Kemaksiatan seperti ini tidak akan terjadi jika Islam diterapkan secara keseluruhan atau secara kaffah. Hal ini karena dalam Islam terdapat sanki bagi siapa pun yang melanggar hukum syara’. Dalam Islam, seluruh masyarakat akan dibekali dengan pendidikan ilmu agama dan pengetahuan yang mampu mencetak individu yang bertakwa dan berpegang teguh pada syari’at. Semua jalan yang menuju pelanggaran syari’at akan ditutup dan segala bentuk kemaksiatan akan dicegah. Hiburan malam seperti kelab, diskotek, dll akan ditutup tidak hanya selama bulan ramadhan saja namun secara permanen. Masyarakat akan dibekali pemahaman tentang bagaimana memahami hiburan dalam islam. Masyarakat juga akan disediakan oleh negara lapangan pekerjaan yang halal lagi baik, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelanggaran hukum syara’ hanya demi sesuap nasi. Kemaksiatan seperti ini hanya dapat diberantas tuntas oleh Islam, sebab Islam telah megatur segala aspek kehidupan termasuk hiburan dan pariwisata yang berlandaskan akidah islam, bukan berlandaskan keuntungan atau manfaat semata. Wallahu’alam bishawab.
Tags
Opini
