Banyaknya remaja yang mengalami penyakit mental membuktikan gagalnya negara membina generasi saat ini. Generasi Emas 2040 bahkan bisa mustahil terwujud bila kondisi ini terus dibiarkan.
Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa remaja di Indonesia yang terkena penyakit kesehatan mental sangatlah tinggi, yaitu mencapai 15,5 juta orang atau setara 34,9% dari total remaja Indonesia. Data ini berdasarkan dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024.
Selain kesehatan mental, ada fenomena yang juga semakin berkembang di kalangan generasi muda, yaitu childfree. Semakin banyak pemuda yang takut atau memilih untuk tidak memiliki anak atau bahkan tidak menikah. Data dari BPS (Susenas 2022) ada sekitar 72.000 atau 8,2% perempuan memilih untuk tidak memiliki anak.
Negara dengan sadar menerapkan sistem kapitalisme sekulerisme yang sangat berdampak dalam kehidupan diberbagai aspek. Pendidikan sekuler sebagai contoh, yaitu membentuk remaja berperilaku liberal dan membuat remaja tidak memahami jati dirinya sendiri. Akhirnya remaja tidak bisa memahami penyelesaian yang benar dan tuntas atas segala persoalan kehidupannya dan muncullah penyakit mental yang tak terhindarkan.
Berbeda dengan Islam, Kepemimpinan Islam mempunyai tanggung jawab untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan sesuai dengan syariat Islam.
Islam mewajibkan negaranya membangun sistem pendidikan yang berlandaskan Aqidah Islam. Negara juga wajib menyiapkan orang tua dan masyarakat untuk mendukung proses pembentukannya Generasi Pembangun Peradaban Islam yang Mulia, yang bermental kuat. Negara akan menetapkan suatu kebijakan untuk menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam, dan yang menyebabkan remaja blunder dengan persoalan atau permasalahan hidupnya.
_Oleh : Zennaisa_
Tags
Opini
