Kekecewaan Mendalam Terhadap Cara Kerja Aparat



Oleh : Maulli Azzura

Setiap manusia memiliki sikap dan perilaku yang berbeda- beda. Pun tak terkecuali dalam sebuah pemerintahan, tentu akan banyak hal untuk saling menutupi kesalahannya (saya tegaskan ini hanya ada dalam sistem pemerintahan kuffur). 

Trauma masih belum hilang dari benak Kusyanto (38), seorang pencari bekicot asal Desa Dimoro, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang menjadi korban salah tangkap polisi. Peristiwa salah tangkap yang melibatkan dirinya itu terjadi Minggu (2/3/2025) malam. Mungkin, itu bakal menjadi peristiwa pahit yang tak bisa dia lupakan seumur hidup. Kusyanto sedang duduk santai di persawahan Desa Suru, Kecamatan Geyer, ketika tiba-tiba dibekuk oleh polisi berinisial Aipda IR dan sejumlah warga. Mereka menuduhnya mencuri sebuah pompa air bermesin diesel. kolak-ramadan
Login
Beranda
Latest News
Periksa Fakta
News
Bisnis
Visual
Diajeng
For Your Pemilu
Inception
Contact Us
Indeks
Mode Gelap

Artikel teks besar


Beranda
News
News Plus
Kasus Salah Tangkap Terus Berulang, Sudah Saatnya KUHAP Direvisi
Ada sejumlah celah dalam KUHAP yang mengatur soal proses penangkapan dan ganti rugi korban salah tangkap saat ini.

Reporter: Alfitra Akbar
Terbit 12 Mar 2025 10:00 WIB,
Waktu baca ±4 menit
Kasus Salah Tangkap Terus Berulang, Sudah Saatnya KUHAP Direvisi
Ilustrasi HL Indepth Salah Tangkap Kasus
tirto.id - Trauma masih belum hilang dari benak Kusyanto (38), seorang pencari bekicot asal Desa Dimoro, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang menjadi korban salah tangkap polisi.


Peristiwa salah tangkap yang melibatkan dirinya itu terjadi Minggu (2/3/2025) malam. Mungkin, itu bakal menjadi peristiwa pahit yang tak bisa dia lupakan seumur hidup.


Kusyanto sedang duduk santai di persawahan Desa Suru, Kecamatan Geyer, ketika tiba-tiba dibekuk oleh polisi berinisial Aipda IR dan sejumlah warga. Mereka menuduhnya mencuri sebuah pompa air bermesin diesel.


Meski tak bersalah, Kusyanto hanya bisa pasrah saat digelandang menggunakan sepeda motor menuju rumah mertua Aipda IR di Desa Ngleses, Kecamatan Boyolali. Kedua tangan Kusyanto diikat, kepalanya berkali-kali dipukul, dan dipaksa mengaku mencuri. (tirto.id 12/03/2025)

Tentu kepercayaan masyarakat terhadap kinerja polri dan penguasa yang tidak transparasi dalam menegakan hukum di negri ini menilai negative.

Karena peristiwa-peristiwa itu, berbagai kinerja Polri lainnya, juga diragukan profesionalitas dan imparsialitasnya oleh publik. Secara sistematis dan massif gugatan atas kinerja Polri terus bergulir, termasuk kinerja Polri dalam penanganan  kriminalitas yang terus mengalami kenaikan. Tentu sangat disayangkan, polri sebagai pengawal keadilan hukum justru dilemahkan dengan para anggotanya. Ditambah lagi mereka justru menutupi kerusakannya dengan melempar tuduhan negative terhadap ormas-ormas Islam yang notabene mereka sekumpulan kelompok yang mereformasi akhlak yang sedang rusak di negri ini.

Tindakan dan tuduhan tersebut  mengarah pada "Playing Victim" . Yang justru membuat mereka selamanya menjadi penegak hukum yang ber-citra buruk. Sengaja atau tidak disengaja, tentu masyarakat telah melihatnya, bagaimana hukum dan penegak hukum-nya di negri ini dipermainkan oleh penguasa dan oligarki. Ada indikasi mempertahankan kekuasaan yang telah terbukti rusak nan rapuh dengan terus menuduh fihak yang tak bersalah sebagai  kambing hitam demi menutupi aib- aib nya.

Tindakan atau perilaku "Playing Victim " jelas sebuah fitnah keji. Terlebih yang menjadi fihak tertuduh adalah mereka penyeru kebenaran. Coba kita renungkan sabda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ مِنْهُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ فَلَا يَأْخُذْهُ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan permasalahan/perseteruan kalian kepadaku, dan sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Dan bisa jadi salah seorang dari kalian pandai bersilat lidah/berargumen dan menjadikan aku memenangkannya dalam perkaranya disebabkan apa yang aku dengar darinya. (Namun ingatlah) barangsiapa yang aku menangkan perkaranya padahal itu merupakan hak saudarnya, maka pada hakikatnya aku sedang membagikan/memutuskan untuknya bagian dari neraka, maka janganlah sekali-kali dia mengambilnya.” 
(HR. Bukhari di kitab Shahih-nya)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak