Oleh Annasya Ursila
Aksi demonstrasi baru -baru bertajuk “Indonesia Gelap” yang dimotori oleh mahasiswa di berbagai daerah menjadi bukti nyata bahwa ketidakpuasan terhadap kondisi negeri ini semakin memuncak. Ribuan mahasiswa turun ke jalan, membawa tuntutan kepada pemerintah atas berbagai kebijakan yang dianggap semakin menindas rakyat. Namun, di tengah pekik protes dan nyala obor perlawanan, masih tersisa satu pertanyaan mendasar: apakah tuntutan yang diajukan benar-benar menyelesaikan masalah hingga ke akarnya?
Ironisnya, sebagian tuntutan justru menginginkan perbaikan dalam sistem demokrasi yang selama ini menjadi sumber dari kegelapan itu sendiri.
Apakah bisa masyarakat bergantung pada sistem demokrasi ini ?
Demokrasi, dengan segala janji manisnya, telah berkali-kali mengecewakan rakyat. Selama sistem ini masih diterapkan, keadilan hanya menjadi ilusi, sementara nasib rakyat terus terjebak dalam ketidakpastian.
Ketika Mahasiswa Berteriak, Tapi Akar Masalah tak tertuntaskan
Mahasiswa dikenal sebagai kaum intelektual, agen perubahan yang seharusnya memiliki ketajaman berpikir dalam melihat akar masalah. Namun, tanpa disadari, banyak yang masih terjebak dalam narasi solusi pragmatis yang justru memperpanjang penderitaan rakyat.
1. Demokrasi: Pemecahan Palsu yang Menjebak
Sejak awal, demokrasi telah gagal membawa kesejahteraan bagi rakyat. Sistem ini memberi ruang bagi kepentingan oligarki, memperkaya segelintir elite, sementara rakyat hanya dijadikan alat legitimasi dalam pemilu. Setiap kebijakan yang dihasilkan bukan berdasarkan keadilan sejati, melainkan kepentingan pemilik modal dan penguasa.
2. Kritik Tanpa Solusi Hakiki adalah Kegelapan Baru
Banyak mahasiswa berteriak menuntut perubahan, namun tanpa pemahaman yang benar, kritik hanya akan berujung pada perubahan yang semu. Pergantian pemimpin tanpa perubahan sistem tidak akan membawa perbaikan. Seperti mengganti ban mobil bocor yang kempes tapi tetap menggunakan mesin mobil butut yang sama , tanpa pernah terpikir jika Islam dapat menjadi Cahaya Perubahan untuk sistem kita
Di tengah kegelapan ini, Islam hadir sebagai cahaya yang mampu menerangi jalan perubahan. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem kehidupan yang telah terbukti membawa keadilan dan kesejahteraan dalam sejarah peradaban manusia.
1. Mahasiswa Sebagai Penyeru Kebenaran Sejati
Mahasiswa bukan hanya harus kritis, tetapi juga harus memahami bahwa solusi hakiki hanya datang dari Islam. Mereka seharusnya tidak hanya menyoroti kebobrokan sistem saat ini, tetapi juga menyuarakan solusi Islam yang telah terbukti membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
2. Menjadi Agen Perubahan yang Hakiki
Seperti pemuda di masa Rasulullah yang menjadi pelopor dakwah Islam, mahasiswa hari ini pun harus mengambil peran yang sama. Mereka harus mengemban amanah amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa dengan menawarkan solusi dari Islam, bukan sekadar tuntutan kosong yang akan kembali tenggelam dalam lautan birokrasi demokrasi.
3. Bergabung dalam Gerakan Dakwah Ideologis
Perubahan besar tidak bisa dilakukan sendirian. Mahasiswa harus bergabung dalam gerakan dakwah ideologis yang menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan. Seperti Rasulullah yang membangun perubahan melalui gerakan dakwah yang terorganisir, mahasiswa pun harus menempuh jalan yang sama demi membangun masa depan yang cerah di bawah naungan Islam.
Mengetahui fakta itu? Dipihak mana kalian wahai kawan? Membiarkan sistem ini tetap berjalan dengan solusi semu atau menjadi agen perubahan dan menyuarkan realitas kebobrokan sistem ini dan menggantinya dengan sistem islam ?
Tags
Opini
