Banjir Mengapa Kembali Hadir?



 
Oleh : Nurfillah Rahayu
( forum Literasi Muslimah Bogor)



Bencana banjir yang terjadi di beberapa titik di wilayah Indonesia sungguh membuat pilu seluruh warga Indonesia. Salah satunya seperti yang terjadi d Bekasi. Sebanyak 114 gedung sekolah mengalami kerusakan. Fasilitas pendidikan yang terdampak mencakup tingkat SD hingga SMA, baik di Kota maupun Kabupaten Bekasi.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengatakan, sekolah di Bekasi yang terdampak banjir Bekasi meliputi 90 SD, tujuh SLB, sembilan SMA, lima SMK, dan tiga SMP. (beritasatu.com/6 Maret 2025)

Tahun ini adalah banjir terparah yang pernah terjadi dibekasi.
DPR menuding program pembukan lahan 20 juta hektare hutan menjadi lahan untuk pangan, energi, dan air, pemicu terjadinya banjir di Jabodetabek.

Pembukaan hutan menjadi lahan di puncak Bogor membuat kawasan hijau menjadi gundul, sehingga air hujan tak bisa diserap dengan baik.
Menurut Firman, anggota komisi IV DPR RI menyatakan pembagian kawasan hutan membuat ekosistem menjadi rusak karena mayoritas digunakan menjadi lahan pertanian dan galian untuk penambangan golongan C atau galian C.

Firman mengaku selama di Komisi IV, kerap mengkritisi kebijakan pemerintah yang membagikan lahan 20 juta hektare tersebut. Karena dalam temuannya, dari lahan yang dibagikan saat ini sudah tak lagi menyisakan hutan yang menjadi resapan dan penopang air di kawasan puncak. (tirto.id / 6 Maret 2025)

Bencana yang terjadi berulang harus dicari akar masalah, karena bukan sekadar problem teknis, tapi merupakan hal yang sistemis.
Kebijakan berparadigma kapitalistik menghantarkan pada konsep pembangunan yang abai pada kelestarian lingkungan dan keselamatan manusia.
Dengan mitigasi yang lemah, banjir tidak tercegah, dan rakyat pun hidup susah. Para pengusaha di sistem saat ini hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memikirkan kemaslahatan bersama.
Semestinya Pembangunan harus memiliki paradigma yang tepat, sehingga memudahkan kehidupan manusia, namun juga menjaga kelestarian alam.

Untuk itu dibutuhkan aturan kehidupan yang dapat menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Aturan itu hanyalah Sistem Islam yang akan memberikan arahan pada negara bagaimana membangun negara dengan tepat.
Karena dengan posisi penguasa sebagai raa’in, maka penguasa akan terus mengurus rakyat dengan baik karena dalam kacamata Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).

Dari jelaslah bahwa pemimpin dalam Islam akan senantiasa tunduk dan patuh dalam hukum yang Allah SWT tetapkan. Apalagi dalam hal penanganan bencana alam maupun infrastruktur publik yang berhubungan dengan kemaslahatan  bersama. Karena pemimpin bertanggungjawab sepenuhnya terhadap yang dipimpinnya sehingga akan senantiasa menjamin rakyat akan hidup dengan sejahtera, aman dan nyaman, terhindar dari banjir. 

Penguasa juga akan menerapkan Islam sebagai asas konsep pembangunan dan melakukan mitigasi yang kuat untuk mencegah terjadinya bencana khususnya banjir. Sehingga bencana yang terjadi tidak akan terus menerus berulang seperti yang terjadi saat ini. Karena Islam akan menyelesaikan solusi tuntas hingga ke akarnya.


Wallahua'lam Bishshawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak