Oleh ; Arsyila Putri
Peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN, Yus Budiono menyebut ada empat faktor banjir di wilayah Jabodetabek, yakni penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem. Hasil risetnya, penyebab utama meningkatnya resiko banjir di Jabodetabek ialah penurunan muka tanah yang berkontribusi sampai 145 persen terhadap peningkatan resiko banjir.
Minggu (9/3/2025).( TRIBUNJABAR.ID)
Banjir yang terjadi di daerah Bekasi menunjukkan banyaknya problematika kehidupan manusia termasuk sulitnya menangani masalah banjir yang kerap terjadi tiap tahun di sejumlah daerah terutama wilayah perkotaan. Sebelumnya daerah Bekasi sudah pernah mengalami banjir Desember 2024 lalau Kompas.com. (17/12/2024).
Akibat curah hujan tinggi dan kurang nya resapan air, banjir Bekasi kemarin lebih besar dari sebelumnya, banjir sampai menutup atap rumah warga dan menelan korban jiwa. Menurut para ahli mengatakan banjir kali ini di akibatkan karena cuaca ekstrem dan perubahan tata kelola lahan. Yus menegaskan, banjir di Jabodetabek bisa masuk dalam kategori tiga jenis utama, yaitu banjir akibat hujan lokal, banjir akibat luapan sungai, dan banjir akibat pasang laut.
"Nah, banjir beberapa waktu lalu lebih dominan karena luapan sungai di mana hujan terjadi lebih intens di hulu sehingga menyebabkan luapan air di sungai menjadi besar," katanya. Ditambah dengan pengelolaan SDA dan perubahan tata guna lahan di wilayah perkotaan.(Tribunnews.com).
Bencana alam seperti banjir tentu masalah besar yang berawal dari rusaknya aturan kehidupan untuk menjaga kelestarian alam. Dan dalam sistem demokrasi kapitalis aturan kebebasan pengelolaan lahan dipermudah, kebijakan penguasa yang menyebabkan terjadinya bencana dan berpotensi terjadinya bencana susulan, tak lain dan tak bukan bertujuan untuk menghasilkan materi tanpa mempertimbangkan dampak bagi lingkungan dan manusia.
Sistem ini juga yang menjadi akar masalah terjadinya kerusakan lingkungan yang apabila dilihat apakah itu murni bencana alam ataukah teguran dari tuhan? Karena setiap perbuatan manusia akan berpengaruh pada kehidupan dan alam semesta.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya banjir mulai dari faktor manusia yaitu hilangnya kesadaran pada setiap individu tentang rasa cinta terhadap lingkungan. Di mulai dari hal terkecil seperti membuang sampah di sungai yang membuat aliran sungai terganggu dan membendung akibat sampah menggunung, pembangunan permukaan yang imperiable, penebangan hutan liar yang menyebabkan kurangnya resapan air, serta mengubah hutan menjadi tempat wisata demi meraih keuntungan semata.
Sistem aturan kapitalisme yang memudahkan para pemilik modal menguasai SDA terlihat dari bencana yang terus terjadi setiap tahunnya. Seperti yang terjadi di papua mimika terbentuknya lubang hitam akibat adanya aktifitas pertambangan emas, warga menjadi sulit beraktivitas dikarenakan adanya limbah tailing yang mengisi sungai dan membuat para perahu nelayan tidak bergerak, mencemari lingkungan dan membuat krisis air bersih. Kemudian apabila curah hujan tinggi menjadi longsor.
Kemudian ditambah dengan penebangan hutan secara ilegal, diketahui bahwa KLHK mencatat penggundulan hutan (deforestasi)
netto di indonesia pada 2021-2022 sebanyak 104 ribu hektare. Artinya ketika hutan hilang fungsinya sebagai jantung kehidupan maka yang tersisa adalah punah nya habitat satwa liar, kurang nya oksigen, kekeringan, dan kerusakan lingkungan serta tumbuhan.
Peran negara yang lemah dihadapan para kapital membuat segelintir orang atau kelompok mencari celah untuk melakukan aktifitas terlarang ini. Harus ada hukum yang tegas dan memberikan efek jera terhadap para pelaku kerusakan.
Solusi Islam
Dalam sistem kepemimpinan Islam terdapat mekanisme aturan dalam mengatur manusia, kehidupan dan alam semesta. Karena ke tiga nya tidak di pisahkan dan saling berkaitan. Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur ibadah ritual saja melainkan mengatur segala yang ada di bumi ini termasuk dalam mengatur manusia, kehidupan dan alam semesta. Dan aturan itu tidak boleh datang dari pemikiran manusia yang terbatas, melainkan harus berasal dari zat yang maha kuasa dialah Allah SWT.
Sistem kepemimpinan Islam mengatur kehidupan dengan menjadikan setiap individu bertaqwa kepada Allah dengan landasan aqidah yang kuat. Sehingga terbentuk manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Menjadikan Islam sebagai idiologi atau aturan manusia yang berasal dari Allah dan mengatur setiap lini kehidupan termasuk dalam mengatur untuk mencegah terjadinya bencana banjir serta bencana-bencana lainnya.
Islam memandang bahwa bencana yang terjadi bukan sebatas rusaknya alam saja melainkan ada akibat dari perbuatan manusia yang mengakibatkan terjadinya bencana alam. Dalam Alquran surat Ar-rum dikabarkan bahwa" Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Kerusakan yang terjadi hari ini adalah akibat dari keserakahan manusia memaksakan kehendak dan hawa nafsunya nya untuk memenuhi naluri serta kebutuhan jasmani nya menggunakan sistem demokrasi kapitalisme. Menjauhkan agama dari kehidupan dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pajangan. Akibatnya manusia terbelenggu dalam kemaksiatan dan kerusakan yang sistematik, rusak dalam pemikiran, peraturan dan rusak alam semestanya.
Pemimpin dalam sistem Islam bertugas sebagai pelayan bagi umat, memastikan bahwa setiap individu berhak mendapatkan jaminan sandang, papan dan tempat berlindung dan keamanan. Sang pemimpin dalam Islam akan menjaga alam dengan tidak merusak hutan, bumi dan air. Karena itu merupakan sumber hajat hidup manusia. Menerapkan hukum bagi para perusak alam dan para kemaksiatan agar memberikan efek jera. Memastikan semua orang mendapatkan perlakuan hukum yang adil dan tegas, agar terputus rantai kemaksiatan dan kedzoliman.
Wallahu alam bishawab
Tags
Opini
