Viral #KaburAjaDulu: Bentuk Kecewa Generasi Muda




Oleh : Ummu Zeyn



Fenomena #KaburAjaDulu tengah menjadi topik yang ramai diperbincangkan dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini terjadi setelah hastag tersebut menjadi trending di beberapa media sosial. Fenomena tersebut digaungkan oleh sebagian kalangan muda yang merasa kecewa terhadap kondisi di negeri sendiri. Mereka menggaungkan untuk pindah ke negara yang dianggap bisa memberikan kehidupan yang lebih baik dalam pandangan mereka.

Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh digitalisasi media terutama sosmed, yang banyak menggambarkan tentang kehidupan dinegara lain yang lebih menjanjikan. Kualitas pendidikan yang rendah, bertemu dengan banyaknya tawaran beasiswa kuliah keluar negeri di negara maju semakin membuka peluang generasi muda untuk 'kabur' dari negeri sendiri. Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan bertemu dengan tawaran pekerjaan di luar negeri baik pekerja terampil maupun kasar dengan gaji yang lebih besar juga menjadi salah satu faktor pendorong mereka untuk melakukan fenomena 'kabur' ini.

Kondisi ini juga berkaitan dengan fenomena brain drain yang tengah menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi/liberalisasi ekonomi yang semakin menguat.
Melansir dari laman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),Brain Drain merupakan fenomena hengkangnya para ilmuwan, intelektual, cendikiawan suatu negara dan memilih tinggal di negara lain. Alasan yang melatar belakanginya Brain Drain bisa beragam. Mulai dari alasan politis, ekonomi, sosial budaya, dan juga pilihan hidup. Brain Drain juga dilakukan dengan pertimbangan minimnya peluang dan keterbatasan berkarya di negara asal.

Fenomena brain drain jika dibiarkan akan merugikan Indonesia. Indonesia akan kehilangan SDM yang berkualitas. Jadi bonus demografi yang dibangga-banggakan Indonesia justru dinikmati oleh  negara lain. Sebaliknya, Indonesia tetap berada dalam kemiskinan. Sehingga, fenomena tersebut bisa semakin memperlebar kesenjangan ekonomi global. Negara maju semakin berkembang dengan memanfaatkan SDM dari negara berkembang, sebaliknya negara berkembang justru semakin sulit meningkatkan kesejahteraan warganya.

Dalam konteks ini, sistem kapitalisme yang  menjadi dasar kebijakan ekonomi di banyak negara akan semakin memperparah situasi. Ketimpangan dalam akses sumber daya dan kesempatan semakin memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin, baik ditingkat domestik maupun global
Indonesia menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyat. Minimnya peluang kerja, sulitnya birokrasi, sedikitnya upah, ketidakpastian ekonomi, semakin membuat generasi berfikir bahwa nampaknya masa depan lebih cerah di negeri orang lain. Ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri dalam menciptakan kesejahteraan bagi warganya.

Dalam perspektif islam, negara wajib memenuhi kesejahteraan rakyatnya dan menjamin terpenuhinya kebutuhan individu per individu. 
Beberapa langkah yang seharusnya diambil negara dalam perspektif Islam antara lain:
Menyediakan lapangan kerja bagi setiap laki-laki baligh, baik di sektor pertanian, perdagangan, industri, maupun jasa.
Mengelola sumber daya alam secara mandiri, sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh rakyat, bukan dikuasai oleh segelintir pihak.
Meningkatkan kualitas pendidikan, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga menyiapkan SDM yang beriman dan siap membangun negara.
Dengan sistem yang adil dan berbasis kesejahteraan rakyat, negara tidak hanya bisa menahan laju brain drain, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuat generasi muda ingin tetap tinggal dan berkontribusi untuk negeri sendiri.

Wallāhu A'lam bi Aṣ-ṣawāb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak