Oleh: Ummu Rofi'
(Aktivis Muslimah)
Negara sejatinya memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya dengan seluruh aspek kehidupan. Agar masyarakat menjadi rakyat yang cerdas, kreatif dan inovatif. Namun sistem kehidupan saat ini, masyarakat ingin kabur dari negara tempat lahirnya ke negara lain, agar hidupnya menjadi lebih baik. Berbeda dalam kehidupan Islam, masyarakat akan diurusi oleh seorang Khalifah dan disejahterakan kehidupannya. Agar masyarakat terpenuhi segala kebutuhannya dari segala aspek.
Dilansir dari laman cnbcindonesia.com, Tren tagar #Kaburajadulu oleh generasi muda di negeri ini semakin massif, kalau mencari kata kunci tagar tersebut di fitur pencari X (twitter), ditemukan bermacam unggahan mengenai ajakan pindah ke negara lain. Dalam bentuk beasiswa pendidikan, lowongan pekerjaan, dan lain-lain. (Cnbcindonesia.com, Jum'at, 07-02-2025)
Di laman lain juga Tren tagar #Kaburajadulu warganet lebih banyak yang mau ke Amsterdam, Singapura, Berlin, Dubai dan Tokyo. Ditunjukkan Data dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham, pada tahun 2019 hingga 2022 sebanyak 3.912 WNI usia 25-35 tahun memilih menjadi warga negara Singapura.
Sungguh miris, tren tersebut viral/trending pelakunya lebih dominan generasi muda. Mereka sampai membuat tren #kaburajadulu, banyak faktor yang terjadi sampai ada tren tagar #kaburajadulu.
Faktor utamanya saat ini negara menerapkan sistem kapitalisme sekuler, yang di mana dari sistem bathil yang bukan berlandaskan Islam. Namun kapitalisme yang menjadikan negara cuek terhadap rakyatnya, enggan bertanggung jawab sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat, pendidikan, lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Rakyat sulit mencari pekerjaan, namun kebutuhan semakin tinggi harganya.
Tercekiklah rakyat, akhirnya sebagian pemuda ingin pindah, karena melihat kehidupan luar negeri yang menjanjikan bagi kehidupan rakyatnya dari segala aspek. Pendidikan, lapangan kerja dan ekonominya. Inilah kapitalisme sekuler, negara bukan sebagai raa'in (pengurus) urusan rakyatnya. Namun negara hanya sebagai regulator bagi orang-orang yang punya modal banyak. Dan sebagai fasilitator saja itupun bagi konglomerat dan pengusaha. Kesejahteraan dalam sistem kapitalisme utopis hanya khayalan di siang bolong. Muncul tagar seperti itu menandakan negara tidak mampu menyejahterakan rakyatnya.
Namun jika diterapkan sistem Islam dalam kehidupan saat ini, sistem Islam berasaskan dari akidah Islam. Di mana aturannya sesuai dengan aturan Allah Swt., sistem Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Karena sistem Islam memiliki aspek yakni salah satunya politik Islam yang artinya mengurusi urusan rakyat. Semisal ada permasalahan seperti tren tagar saat ini, berarti penguasa seharusnya intropeksi diri sebagai pemimpin negeri.
Sehingga mengetahui kesalahan atau kelalaian yang dilakukan sebagai pemimpin. Bukan sebaliknya, tidak peduli dengan tagar seperti ini. Di mana dalam Islam pendidikan diberikan secara gratis, karena itu wujud tanggung jawab negara memberikan fasilitas pendidikan kepada rakyatnya, tidak ada kesenjangan ekonomi. Karena Khalifah sungguh-sungguh mengurusi urusan rakyatnya, karena itu pun tanggung jawab negara. Ekonomi akan sesuai syariat Islam, digunakannya pun sesuai kebutuhan rakyatnya.
Sebagaimana kisah masa Khalifah Umar bin Khatthab, di mana saat ada warganya kelaparan, saat itu juga Khalifah Umar langsung mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada rakyatnya tersebut. Dari segi kebutuhan masyarakatnya. Lalu pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid yang mendirikan perpustakaan terbesar di Baghdad, Irak. Dan Khalifah lainnya di masa sistem Islam diterapkan, pemuda-pemuda muslim banyak yang menjadi penemu-penemu atau ahli dalam bidang ilmu Islam.
Karena Allah sudah menjanjikan (QS. Al-A'raf: 96), jika suatu penduduk bumi bertakwa kepada Allah Swt, maka Allah akan menurunkan dari langit dan bumi keberkahan kepada penduduk tersebut. Dan tidak ada berpikiran pindah ke negara lain, untuk memperbaiki kehidupan, mendapatkan jaminan pendidikan, dan lain-lain.
Maka sudahilah sistem rusak saat ini, dan kembalilah kepada sistem Islam yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan dan mengurusi urusan rakyat secara menyeluruh. Mendapatkan kesejahteraan, pendidikan, mudah dalam mendapatkan lapangan pekerjaan, dan lain-lain.
Wallahualam bishshawab
Tags
Opini
