Oleh : Azaera A. (Pelajar Kota Bogor)
MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi program andalan Presiden baru kita Prabowo Subianto. Sudah mulai berjalan, program ini terus saja menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Adapun tujuan awal dari program ini adalah untuk mengatasi peningkatan jumlah penderita stunting. Yakni dengan membagikan makanan bergizi gratis kepada masyarakat secara bertahap.
Program MBG dan Aplikasi di Masyarakat
Sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa program ini selalu jadi perbincangan di kalangan masyarakat. Bagaimana tidak, berbagai masalah menghiasi pengaplikasian nya di lapangan. Salah satunya insiden yang baru-baru ini terjadi, murid mengalami mual saat menyantap makan dari program MBG di SDN Dukuh 3, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (16/1/2025) pagi. Setidaknya ada 40 siswa yang mengalami pusing, mual, hingga muntah. (CNBC Indonesia, 17/01/2025).
Mengetahui hal itu, warga Indonesia mulai merasa bahwa makanan yang diberikan secara gratis ini belum sepenuhnya aman untuk dikonsumsi, terutama untuk para pelajar sekolah dasar yang sudah lebih dulu menjadi saksi berjalannya program ini.
Selain itu, banyak juga laporan terkait unsur-unsur makanan bergizi gratis ini yang tidak didistribusikan dengan benar sehingga tidak semua orang mendapat lauk pauk yang lengkap. Beberapa penerima tidak mendapatkan susu, bahkan lauk pokok berupa ayam. Selain itu, banyak pula yang mengatakan bahwa makanan yang diberikan, tidak layak santap sama sekali.
Padahal, anggaran biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan program ini juga tidak sedikit. Dikutip dari www.tempo.co (21/01/2025), pengeluaran anggaran program makan siang gratis ini ditaksir mencapai Rp 460 triliun. Mayoritas anggaran tersebut akan diambil dari APBN. Hal tersebut sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana.
Evaluasi Sangat Diperlukan
Sudah selayaknya Pemerintah mengevaluasi program yang tengah berjalan tersebut. Pasalnya, ada terlalu banyak masalah di lapangan. Mulai dari pembagian jenis makanan yang tidak merata, hingga biaya yang terlampau besar. Kemunculan dua masalah itu saja bisa menimbulkan banyak sekali pertanyaan di masyarakat terkait efektivitas program MBG.
Bagaimana tidak, di saat masyarakat kesulitan dan mengeluhkan peningkatan jumlah pengangguran serta sulitnya kondisi ekonomi, dana gembul tersebut menjadi ironi tersendiri. Akan lebih baik jika uang biaya operasional program MBG ini digunakan untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas, serta membangun perekonomian mandiri lewat pemberdayaan sumber daya yang belum tereksplorasi dengan baik. Atau bahkan yang sudah tereksplorasi, namun masih dilakukan pihak swasta (dalam negeri/ asing).
Selain itu, Pemerintah pun bisa menggunakan dana tersebut di dunia pendidikan. Diantaranya dengan memperbaiki fasilitas pendidikan yang tidak layak, menaikkan gaji para guru, memberikan edukasi terkait kegiatan belajar mengajar yang efektif, serta menyelesaikan berbagai masalah terkait buruknya kualitas pendidikan saat ini.
Berbagai wacana di atas hanya lah beberapa saran pengalihan, dari anggaran yang dirasa tidak efektif. Adapun masalah utama yang menjadi tujuan dari program MBG ini pun, jelas harus diselesaikan. Yakni tentang peningkatan jumlah penderita stunting.
Stunting dan Solusinya
Stunting jelas menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Sebab masalah ini berpotensi menyebabkan gangguan fisik dan mental anak kedepannya, dan yang lebih parah bahkan bisa menghantarkan kematian. Tak hanya itu, peningkatan jumlah penderita stunting menjadi tolak ukur kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Alhasil, negara merasa perlu untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Tapi masalah berikutnya, justru timbul dari solusi yang tawarkan. Masalah berbuah masalah. Begitulah kiranya kata yang pas untuk menggambarkan kondisi saat ini. Dimana masalah peningkatan penderita stunting justru diselesaikan dengan program MBG ini.
Apa yang terjadi sebenarnya adalah hal yang lazim di negara yang menerapkan sistem kapitalis, negeri ini salah satunya. Pasalnya, paradigma kapitalisme menuntut hembusan keuntungan dalam setiap program yang diberikan. Pun ketika melihat dan berusaha memberikan solusi permasalahan, maka negeri yang menganut sistem kapitalisme akan melihat solusi dari segi resiko yang paling kecil atau justru ada/ tidaknya keuntungan yang bisa didapat.
Alhasil, bukan solusi didapat melainkan masalah baru lagi, yang terkadang jauh lebih berat dibanding masalah awalnya. Jadi, mencari solusi dalam sistem kapitalisme bisa jadi hal yang sangat rumit atau bahkan mustahil dilakukan. Sebab jiwa keserakahan akan terus saja menuntut pemenuhan tanpa melihat dan merasakan setiap tuntutan umat.
Islam Solusi Setiap Permasalahan
Jauh berbeda dengan sistem Islam. Segala permasalahan bisa diselesaikan dengan mudah dan nyata ketika Islam diterapkan dalam bentuk negara. Islam akan menciptakan kondisi yang sangat kondusif bagi masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan mereka secara mudah atau bahkan gratis.
Urusan pangan, papan, keamanan, pendidikan, dan kesehatan, dijamin pemenuhannya oleh negara. Rakyat terlantar, sempitnya lapangan kerja, PHK menjamur, semuanya akan terselesaikan secara otomatis melalui penerapan syari'at Islam dalam kehidupan. Segala hal di atas, bisa terlaksana sebab Islam memiliki mekanisme khusus pengentas kemiskinan. Selain itu, Islam juga memiliki anggaran pendapatan riil yang jauh lebih besar dan efektif dibandingkan dalam sistem kapitalisme.
Alhasil, terpenuhinya standar gizi masyarakat, dan berkurangnya jumlah penderita stunting menjadi hal yang pasti. Dan yang lebih pasti, kondisi tersebut terwujud tanpa program populis yang terkesan tidak efektif semacam MBG. Daulah Islam akan melakukan segala hal yang telah disebutkan sebelumnya, bukan karena pencitraan. Melainkan karena adanya rasa tanggungjawab yang muncul dari ketakwaan kepada Allah SWT.
Begitulah kiranya Islam menyelesaikan masalah terkait MBG dan stunting yang tengah melonjak tajam. Dan segala solusi tersebut akan terlaksana dengan diterapkannya Islam dalam kehidupan, baik dalam urusan individu, kemasyarakatan maupun negara.
Wallahu a'lam bis Shawwab
Tags
Opini
