#KaburAjaDulu: antara Kekecewaan Generasi dan Kesenjangan Ekonomi



Oleh: Windy Febrianti



Belakangan ini tren #KaburAjaDulu menyeruak di kalangan anak muda Indonesia. Warganet berbondong-bondong menyerukan tagar tersebut di sejumlah media sosial, termasuk X (Twitter) (cnnindonesia.com, 7/2/2025). Di fitur pencari X akan muncul beragam unggahan yang menggunakan tagar tersebut yaitu tentang ajakan pindah ke negara lain. Entah dalam bentuk beasiswa Pendidikan, lowongan pekerjaan, dan hal lainnya.
Fenomena ini bermula Ketika orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri membagikan informasi tentang kehidupan, lowongan pekrjaan, dan pengalamannya di media sosial. Namun,baru-baru ini tagar tersebut digunakan dengan ungkapan rasa kekecewaan dan kecemasan generasi muda terhadap isu sosial hingga politik yang terjadi di Indonesia (beautynesia.id, 5/2/2025).

Kemunculan tagar #KaburAjaDulu menjadi berkaitan dengan fenomena brain drain yang telah lama terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang sejak lama.

Brain drain adalah hengkangnya kaum intelektual dan cendikiawan dari negaranya sendiri untuk menetap di luar negeri. Di Indonesia, brain drain sudah terjadi sejak 1960-an. Kala itu, banyak mahasiswa Indonesia yang tidak pulang ke tanah air. Para mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Rusia ataupun perguruan tinggi Eropa Timur memilih tidak Kembali ke Indonesia.
Hal ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri memberikan kehidupan sejahtera. Sistem Kapitalisme yang dijadikan sebagai asas negeri ini adalah akar masalah kondisi ini. Kesenjangan ekonomi tidak saja terjadi di dalam negeri, namun juga di Tingkat dunia, anatara negara berkembang dan negara maju.

Wajar sekali jika manusia secara fitrahnya menginginkan kehidupan yang tenang, nyaman, dan sejahtera. Mereka memerlukan tampat yang kondusif, Pendidikan yang berkualitas, dan mudahnya mencari pekerjaan. Pertanyaannya, siapa yang harus menjamin kebutuhan pokok manusia ini? Jawabannya, negara.

Untuk melahirkan generasi berkualitas dan menjaganya, jelas membutuhkan negara visioner, negara yang berlandaskan agama dalam pengaturan kebijakan berbangsa dan bernegara, bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan manusia. Oleh karenanya, brain drain menjadi PR bagi masyarakat dan pemimpin negeri khususnya.

Islam mewajibkan negara membangun kesejahteraan rakyat, dan mewajibkan negara memenuhi kebutuhan asasi setiap warganegara individu per individu. Ada banyak mekanisme yang harus dilakukan negara termasuk diwajibkan menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki baligh. Selain itu, strategi Pendidikan khilafah mampu menyiapkan SDM yang beriman dan siap membangun negara, dan negara juga peduli dan menjamin kehidupan mereka sebagai warga negara.

Hanya dengan sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah yang mampu mewujudkan dunia yang adil dan sejahtera. Tegaknya Khilafah akan  menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak