Sikap Niradab, Tidak akan Berbuah Berkah



Oleh: Ummu Zeyn



Pembicaraan tentang penjual es teh nampaknya tengah menjadi perbincangan yang hangat. Hal tersebut terjadi setelah video berisi olok-olokan seorang Gus miftah viral di berbagai sosial media.

Meskipun beralasan candaan, banyak pihak beranggapan negatif dan sama sekali menganggap tidak lucu atas aksi yang dilakukan utusan presiden bidang kerukunan beragama tersebut.

Sungguh teriris hati melihat seorang bapak yang berjuang mencari nafkah untuk keluarga, tapi malah mendapat olok-olokan yang sangat menyakiti hati.

Anehnya, perkataan kasar tersebut dilontarkan oleh seorang bergelar Gus, yang notabene seorang yang berilmu dan dikenal sebagai pendakwah, namun nampaknya sikap seperti itu tidak mencerminkan keilmuannya, sekalipun dengan alasan itu hanya sebagai candaan.

Karakter seorang pengemban dakwah harusnya memiliki adab yang baik, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama terkemuka bahwa adab itu lebih tinggi daripada ilmu.

Menukil buku Adab dan Doa Sehari-Hari untuk Muslim Sejati karya Thoriq Aziz Jayana, kedudukan adab dalam Islam lebih tinggi dari ilmu. Sejumlah ulama pun menyampaikan pendapat serupa.

Pertama, ulama Imam Malik mengatakan bahwa, "Pelajarilah adab terlebih dahulu sebelum mempelajari suatu ilmu.” Sebagaimana yang dilakukan Imam Ibnu Mubarak, ia mempelajari adab selama 30 tahun, setelah itu baru mempelajari ilmu selama 20 tahun.

Kedua, ulama Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi menuturkan bahwa, “Dengan mempelajari adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit memperhatikan adab, maka ilmu akan menjadi sia-sia.”

Dapat disimpulkan dari penuturan kedua ulama tersebut, penting untuk mempelajari adab sebelum ilmu. Sebab, orang yang tak beradab hidupnya tidak diberkahi Allah dan ilmunya juga tidak bermanfaat.

Dan di dalam Al-Qur'an pun dikatakan bahwa dalam berdakwah hendaklah dengan tutur kata yang baik, dan penuh hikmah sebagaimana firman-nya :
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-nahl:125)

Maka, sudah semestinya seorang pendakwah itu ia yang senantiasa mengajak bukan mengejek, membina bukan menghina, mengajar bukan menghajar, merangkul bukan memukul. Seorang pendakwah adalah ia yang dengan lisannya orang-orang merasa tenang dan tergerak untuk berbuat lebih baik lagi, seorang yang apabila melihat perilakunya membuat orang senang dan kagum, seorang yang dengan akhlaknya membuat orang-orang merasa nyaman dan tentram.

Semoga dengan kejadian tersebut bisa kita ambil pelajaran agar jangan mudah untuk mengolok-olok atau merendahkan orang lain, karena sungguh termasuk perbuatan yang tercela sebagaimana Allah berfirman :
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)”. (Al -Hujurat :11)

Wallāhu a'lam bi Ash-shawāb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak