Generasi Sadis, Buah Penerapan Sistem Sekuler



Oleh Windy Febrianti



Indonesia kembali dihebohkan dengan kasus anak membunuh ayah dan neneknya, serta berupaya membunuh ibunya yang berlokasi di salah satu perumahan lebak bulus, jakarta selatan(Beritasatu.com, 30/11/2024). Kasus ini juga membuat terkejut tetangga dan lingkungan sekolah pelaku. Pasalnya pelaku dikenal pendiam, penurut, ramah kepada tetangga. Selain itu, tetangga maupun pihak sekolah memberikan keterangan bahwa pelaku tidak menunjukkan perbuatan negatif dan gejala yang aneh selama ini. Kasus yang sama juga pernah terjadi pada april 2023, seorang pelajar SMK membunuh mantan pacaranya di Cianjur, Jawa Barat. Aksi ini dilakukan karena pelaku tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan korban(detik.com, 25/4/2023). 

Untuk kesekian kali, kita kembali disuguhi berita seputar potret generasi masa kini yang kian sadis.
Fenomena ini merupakan persoalan sistemis ada banyak faktor yang menjadi penyebab, yang semua saling berkelindan.
Di antara faktor tersebut ialah:
Pertama, pola asuh keluarga.
Pola asuh saat ini dibangun dengan paradigma sekuler kapitalis, memisahkan agama dari kehidupan. Orang tua hanya memenuhi kebutuhan materi tanpa diimbangi dengan pendidikan dan pemahan islam. Generasi yang tidak paham islam merupakan generasi lemah iman yang mudah terombang ambing dengan sistem rusak. Tidak mengherankan jika kita menyaksikan generasi lemah iman menjadi lemah pula dalam segala aspek. Jadilah mereka tumbuh dengab karakter rapuh, baperan, egois, individualitas, mudah putus asa, dan kontrol emosi yang rendah. Senggol sedikit, kemarahan meluap, lalu berakhir dengan berbuat kriminal. 

Kedua, lingkungan sekolah dan masyarakat
Lingkungan sekolah dan masyarakat sangat berperan dalam membentuk kesalehan komunal pada diri anak. Kebiasaan di masyarakat untuk saling menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemaksiatan, kini telah hilang karena nilai-nilai sekuler. Sistem yang diterapkan saat ini yaitu sistem kapitalis sekuler telah membentuk masyarakat yang apatis dan individualis.
Ketiga, kurangnya peran dan kontrol negara.
Negara saat ini tidak menjalankan fungsinya termasuk menyelanggarakan sistem pendidikan yang memiliki visi membina kepribadian dan menjaga kesehatan mental generasi. 

Sistem islam akan terlaksana jika kepemimpinan Islam berfungsi dengan sempurna yakni negara menjalankan kewajibannya sebagai raa'in, yang bertanggung jawab atas rakyatnya termasuk membangun generasi.
Kepemimpinan islam juga memiliki tanggung jawab melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan sesuai dengan islam.
Kepemimpinan ini mengharuskan negara membangun sistem pendidikan yanh berasa akidah islam dan menghasilkan generasi yang beriman dan bertakwa, menguasai IPTEK berjiwa pemimpin.
Sejarah panjanv penerapan islam telah membuktikan lahirnya banyak sosok ilmiwan yang juga menguasai ilmi agama dan optimal berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak