Oleh : Dwi Maya Damayanti, S.Pd.
Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Remaja
Sukabumi porak-poranda dikepung bencana. Hujan yang terus mengguyur selama dua hari berturut-turut mengakibatkan bencana yang bervariasi di tiap kecamatan, yaitu tanah longsor, banjir, angin kencang, dan pergerakan tanah menjadi bencana utama yang merusak. Proses evakuasi dilakukan secara mandiri oleh warga dengan bantuan relawan yang sudah berada di lapangan. Untuk evakuasi, masyarakat melaksanakannya sendiri, dibantu beberapa relawan yang memang sudah ada di lokasi. Bahkan didalam proses penyelamatan membuat tim terus bekerja keras melakukan evakuasi dan pencarian korban di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
Bencana menerjang di sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi, nyaris merata. Catatan terakhir yang diperoleh detikJabar (8/12/2024), tercatat 10 orang meninggal dunia dan dua lainnya masih dalam pencarian akibat bencana alam di berbagai wilayah.
Tanah longsor dan pergerakan tanah berdampak pada rumah-rumah warga rusak dan sebagian tanah persawahan terkikis, membuat beberapa warga terpaksa mengungsi. Bahkan tanah longsor membuat beberapa titik jalan utama terputus akibat longsor besar, menghambat akses transportasi. Lalu banjir merendam permukiman warga, sementara angin kencang merusak atap rumah dan fasilitas umum. Dan beberapa rumah rusak akibat pergeseran tanah yang mempengaruhi pondasi bangunan.
Penyebab Banjir Sukabumi akibat Pendangkalan Sungai
Dalam kunjungannya ke Sukabumi, Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti menuturkan bahwa memang sengaja ke Sukabumi mempercepat mengatasi dampak bencana banjir dan tanah longsor. "Sejak hari pertama ditangani Kementerian PU melalui balai-balai. Ini ada dua bencana ya, yaitu banjir dan longsor," terangnya. Dia mengatakan, berbagai kementerian dan lembaga bekerjasama untuk mengeruk sungai. Total terdapat 12 alat berat atau eskavator yang dikerahkan mengeruk sungai di Sukabumi. Menurutnya, pengerukan sungai penting untuk memastikan bahwa air tidak meluap ke pemukiman penduduk. Dengan pengerukan potensi banjir akan berkurang. "Ini perlu dipahami semua," jelasnya. (Jawa-Pos, 2024).
Sebelumnya ditemukan terjadinya hutan gundul tepat di atas tanah longsor di Jalan Pelabuhan Ratu. Karena itu diduga tanah longsor yang terjadi diduga akumulasi dari hutan gundul dan hujan dengan intensitas tinggi. Di Jalan Akses Pelabuhan Ratu hanya dalam radius sekitar 500 meter terdapat tiga titik longsor yang berbeda. Salah satu titik dengan tingkat kelongsoran paling parah tampak terdapat hutan gundul. Tampak potongan pohon tersisa yang begitu banyak. Bisa langsung dilihat di atas tanah longsor itu hutannya sudah gundul. Belum diketahui di atas sana menjadi sawah atau justru kepentingan lainnya, yang pasti ini merupakan lahan Perhutani.
Sukabumi Berstatus Tanggap Darurat Bencana selama Sepekan
Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana dalam sepekan ke depan pascabencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu. Selain menetapkan status tanggap darurat, pemda juga sudah mendirikan posko tanggap darurat dan penanggulangan bencana di Pendopo Kabupaten Sukabumi.
"Status tanggap darurat bencana ini kami tetapkan selama tujuh hari atau sepekan dan bisa diperpanjang setelah dilakukan evaluasi," kata Sekda Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman di Sukabumi, dikutip Antara, Kamis (5/12/2024).
Penetapan status tanggap darurat bencana ini bertujuan untuk mempercepat penanganan bencana mulai dari pendataan bangunan terdampak, evakuasi korban, hingga penyaluran bantuan darurat atau sementara kepada penyintas bencana.
Tujuan lainnya untuk mempercepat mobilisasi personel atau petugas penanggulangan bencana sehingga penanganan bencana lebih terstruktur, terarah dan tepat sasaran. Sehingga, penyintas bencana bisa mendapatkan penanganan dengan maksimal serta meminimalkan dampak bencana baik dari sisi kerugian materi maupun korban jiwa serta luka.
Upaya Pencegahan Seadanya
Tentu saja fakta-fakta ini menuntut adanya sikap mental tanggap bencana pada diri semua pihak, terutama pada para penguasa yang menjadi pengurus rakyatnya. Namun sayangnya, setiap terjadi bencana pemerintah nyaris selalu gagap. Bahkan pada banyak kasus, pemerintah kalah cepat oleh LSM, ormas, parpol, atau masyarakat biasa.
Tidak jarang juga, pemimpin negara bersikap abai, lebih memilih kegiatan lain daripada melihat daerah bencana. Kalaupun mereka turun lapangan, tidak lebih sebagai bagian membangun citra, sehingga terkesan hanya seremonial semata.
Wajar jika pada setiap bencana selalu muncul perdebatan, negara ada di mana? Bantuan sering kali terlambat datang, dengan dalih lokasi sulit dijangkau. Alih-alih bicara soal upaya mitigasi prabencana, untuk tanggap darurat saat kejadian saja, sering kali berjalan lamban dan seadanya.
Penyebab bencana pun bukan sekadar faktor alam tapi karena ulah tangan-tangan manusia juga, yaitu banyaknya pelanggaran syariat karena kehidupan tidak diatur dengan syariat yang benar (Islam). Termasuk eksploitasi alam atas nama pembangunan.
Penguasa semestinya malu jika ada julukan “banjir tahunan” atau “bencana alam langganan”. Hal itu menunjukkan sikap abai terhadap mitigasi bencana, alih-alih mengantisipasinya. Sudah semestinya penguasa kembali pada hakikat kekuasaan yang dimilikinya, yakni semata demi menegakkan aturan Allah Taala dan meneladan Rasulullah saw. dalam rangka mengurus urusan umat. (Mnews, 2024)
Rasulullah saw. bersabda, “Imam/khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Kesimpulan.
Dalam pandangan Islam, bencana, baik yang berupa musibah alam maupun kejadian-kejadian lain yang menyebabkan penderitaan, dianggap sebagai bagian dari takdir dan ujian hidup yang diberikan oleh Allah. Islam mengajarkan untuk menghadapi bencana dengan sikap sabar, tawakal, dan ikhtiar, serta selalu berpegang pada prinsip bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah.
Menghadapi bencana dalam Islam mengandung dimensi spiritual, sosial, dan praktis. Bencana adalah ujian dari Allah yang harus dihadapi dengan sabar, tawakal, dan ikhtiar. Dalam saat-saat kesulitan, umat Islam diajarkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, saling membantu, berdoa, dan berusaha untuk memperbaiki keadaan. Selain itu, bencana juga mengingatkan umat untuk menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia serta memperhatikan kelestarian alam.
Muhasabah atau introspeksi diri dalam menghadapi bencana adalah salah satu sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu merenung, mengambil pelajaran, dan meningkatkan kedekatan kepada Allah dalam setiap keadaan, baik ketika senang maupun sulit. Ketika menghadapi bencana atau musibah, muhasabah memiliki beberapa aspek penting yang bisa diambil untuk membantu kita memahami dan menghadapi ujian hidup dengan lebih baik.
Saatnya muhasabah dan bertobat dengan berupaya agar syariat segera tegak di bawah kepemimpinan Islam. Kepemimpinan Islam akan membangun tanpa merusak sehingga bencana bisa diminimalisir. Negara berperan sebagai raa'in dan junnah sehingga rakyat hidup sejahtera penuh berkah.
Oleh karenanya, sudah saatnya umat bersegera mewujudkan kepemimpinan Islam. Tentu dimulai dengan aktivitas dakwah pemikiran yang bertarget memahamkan umat dengan akidah dan hukum-hukum Islam dengan pemahaman yang benar dan komprehensif.
Harapannya, tergambar pada diri umat bahwa Islam adalah solusi seluruh problem kehidupan, sekaligus jalan keselamatan. Tidak hanya menyelamatkan mereka dari bencana di dunia saja, tetapi juga bencana yang lebih berat di akhirat. Wallahualam bissawab.
Tags
Opini
