Banjir Melanda Negeri Efek Aturan Tak Dipakai



Oleh. Lilik Yani (Muslimah Peduli Umat)

Musim penghujan identik dengan banjir. Masalah berulang setiap musim seolah tak ada solusi. Tidakkah menjadi pembelajaran bagi seorang pemimpin, mengapa masalah banjir terus berulang, sementara banyak ahli.sudah merencanakan berbagai strategi. 

Cukupkah masalah banjir diatasi dengan berbagai strategi yang mendominasi, sementara hasil nyata tak juga bisa.dinikmati. Hingga banjir pun datang dan kembali lagi. Ada sisi lain yang mesti diperhatikan, hingga Allah rida dan kesejahteraan umat bisa dirasakan kembali.

Dilansir kumparanNews.com- 
Banjir melanda sejumlah wilayah di Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Jombang. Banjir terjadi sudah sepekan. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satrio Nurseno, mengatakan hingga Kamis (12/12), tiga daerah tersebut masih terendam banjir dengan ketinggian yang bervariasi.

"Banjir seminggu ini. (Wilayah Kabupaten Jombang dan Kabupaten Mojokerto) kondisi banjir saat ini terpantau stabil. (Wilayah Kota Mojokerto) genangan air saat ini terpantau mengalami kenaikan," kata Satrio saat dikonfirmasi, Kamis (12/12).

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan penyebab tiga wilayah tersebut masih tergenang banjir karena curah hujan yang tinggi.

Benarkah curah hujan tinggi.atau faktor alam lain dijadikan alasan penyebab banjir?

Masyarakat sudah tidak heran jika terjadi banjir pada saat musim hujan. Salah satu penyebab banjir yaitu karena intensitas dan curah hujan yang tinggi, khususnya bagi masyarakat dataran rendah. Selain itu, kapasitas sungai yang kecil juga dapat menyebabkan banjir. Jika intensitas hujan tinggi maka volume air yang mengalir juga tinggi. Apabila kapasitas sungai tidak memadai karena terlalu kecil, hal ini akan membuat air tidak mempunyai tempat dan akhirnya meluap hingga banjir.

Namun, perlu diingat bahwa penyebab banjir bukan sepenuhnya karena kondisi alam tetapi karena ulah manusia yang dapat memicu terjadinya banjir. Sampah yang berserakan di jalanan maupun sampah yang menumpuk di sungai berpotensi menimbulkan banjir. 

Begitu juga jika sistem drainase tidak memadai, maka dapat juga menimbulkan genangan air yang tersumbat karena tidak dapat tersalurkan dengan baik. Pembangunan tanpa memperhitungkan sistem peresapan air akan membuat debit air cepat meningkat saat hujan. Selain itu, penebangan liar dapat menyebabkan air hujan kehilangan tempat serapan yang dapat mengakibatkan potensi banjir. Hal ini sering terjadi dan tidak mendapat perhatian pemerintah.

Sementara akibat banjir memiliki dampak yang cukup merugikan bagi masyarakat. Harta benda yang terkena banjir akan rusak dan hanyut bersama air. Selain itu, persediaan air bersih yang langka akan menimbulkan penyebaran penyakit akibat air yang kotor. Stok makanan juga menjadi terbatas karena akses yang sulit. Bagi daerah tertentu, banjir juga bisa menyebabkan kegagalan panen dan matinya beberapa tanaman dikarenakan tidak kuat terendam banjir.

Untuk itulah pentingnya masyarakat menyadari bahwa mitigasi harus dilakukan untuk meminimalisir potensi bencana. Masyarakat bisa memulai langkah mitigasi banjir dengan memperbaiki drainase, rajin membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan. Pohon yang sudah rapuh memang harus ditebang untuk menghindari pohon tumbang. Namun, untuk menghindari banjir pohon yang telah ditebang sebaiknya dilakukan penanaman pohon kembali atau reboisasi. Masyarakat juga harus mewaspadai banjir dengan tidak membangun rumah dan permukiman di bantaran sungai.

Perlu diperhatikan bahwa rangkain mitigasi bencana banjir sudah seharusnya disadari dan dilakukan oleh masyarakat. Kesadaran terhadap bencana akan membuat kita terhindar dari hal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. 

Saatnya berhenti menyalahkan alam, karena bencana tidak selamanya datang dan disebabkan karena kondisi alam. Terdapat beberapa bencana yang juga disebabkan karena ulah tangan manusia seperti halnya banjir. Sehingga, kita sebagai masyarakat tangguh bencana dan siap siaga harus mengantisipasinya dengan cara mitigasi bencana banjir.

Bagaimana Pemerintah Islam Mengatasi Banjir yang sering menimpa negeri?

Hal ini berkaitan dengan sistem. Ketika tata kelola lahan diserahkan pada mekanisme ala pengelolaan kapitalisme, yang mana hak kebebasan berkepimilikan diberikan sepenuhnya kepada para pengusaha atau kapital. Dalam mengelola negeri tanpa memperhatikan dampak buruk yang ditimbulkan pada akhirnya. Bagi mereka orientasinya hanyalah kepada keuntungan yang bisa didapat bukan memperhatikan dampak yang akan merugikan rakyat.

Sudah waktunya kaum muslim meninggalkan sistem sekuler yang hanya menyebabkan kesengsaraan rakyat. Ada sistem Islam yang memiliki solusi terbaik untuk mengatasi banjir dan segala masalah lainnya.

Islam memiliki  kebijakan yang memperhatikan dari sisi aspek sebelum, ketika dan pasca banjir. Dengan kebijakan ini, masalah banjir bisa ditangani dengan tuntas. Dalam sistem Islam dimana pengelolaan lingkungan sangatlah diperhatikan dengan upaya semaksimal mungkin sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian bencana yang mengakibatkan banjir, dan bencana yang menyertainya dapat dicegah, antara lain:
Pertama, negara akan memetakan daerah-daerah yang rawan terkena genangan air dan membangun saluran baru agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.
Kedua, menetapkan sanksi berat bagi yang merusak lingkungan hidup, seperti cagar alam yang harus dilindungi.
Ketiga, adanya penanganan maksimal dari negara terhadap para korban bencana. Bukan dengan sikap pembiaran yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Dengan demikian, musibah yang menimpa manusia adalah qadha dari Allah Swt, namun dibalik itu juga ada fenomena alam yang menjadi muhasabah termasuk ikhtiar dan usaha untuk menghindarinya sebelum terjadi. Oleh karena itu bencana dapat dihindari dan bisa meminimalisir jumlah korban. 

Jika selama ini banyaknya bencana alam termasuk banjir disebabkan karena aturan Allah tak dipakai. Maka saatnya kembali pada sistem yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Bukankah aturan Allah jauh lebih baik dan bisa diterima akal dan hati, dibandingkan aturan buatan manusia yang banyak kekurangannya?

Wallahualam bissawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak