Oleh : zuxy
Gedung sekolah adalah salah satu fasilitas krusial pada pendidikan lantaran berperan pada menunjang proses belajar mengajar. Selain mampu menciptakan suasana belajar yang bahagia dan menyenangkan, keberadaan gedung sekolah juga merupakan upaya menciptakan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun bagaimana jika fasilitas dasar seperti gedung tidak ada atau tidak disediakan? Maka hal ini akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Di tengah upaya pemerataan pendidikan yang dilakukan saat ini, tentu sangat disayangkan masih terdapat sekolah-sekolah yang kurang terawat, kurang fasilitas, bahkan ada yang tidak mempunyai fasilitas sama sekali. Seperti yang terjadi baru-baru ini, viral sebuah video yang memperlihatkan beberapa siswa SMP berseragam hanya melakukan kegiatan belajar mengajar di atas terpal plastik, tanpa kursi atau meja, sambil berlutut dan mendengarkan guru.
Dalam video tersebut disebutkan bahwa mereka merupakan siswa SMPN 60 Kota Bandung. Humas SMPN 60 Bandung Rita Nurbaini mengatakan, sebenarnya peralatan seperti meja dan kursi sudah tersedia namun tidak digunakan, melainkan hanya ditinggalkan di rooftop sekolah karena siswa SMP 60 berada di dalam kampus sekolah SDN 192 Ciburuy , Regol, Kota Bandung (Tirto.com 12-06-2024)
Keadaan SMPN 60 tanpa gedung terjadi sejak sekolah tersebut pertama kali didirikan atau sejak tahun 2018. Berdirinya sekolah ini karena adanya dorongan dari masyarakat karena kepadatan penduduk dan tingginya tuntutan terhadap sekolah dan peraturan di mana sekolah tersebut berada target perencanaan dari 3-3 km menjadi 5 KM. Sekolah tanpa gedung merupakan kenyataan yang mengkhawatirkan, apalagi sejak tahun 2018, apalagi sekolah tersebut diakui sebagai sekolah negeri. SMPN 60 Kota Bandung tanpa gedung bukanlah kasus pertama yang terjadi di Indonesia. Permasalahan pendidikan nasional tidak berhenti sampai disitu saja, permasalahan banyaknya gedung sekolah yang rusak masih menjadi permasalahan yang tidak akan pernah ada solusinya, bahkan jumlah kerusakannya cenderung meningkat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Bank Dunia menemukan bahwa 75% sekolah di Indonesia berlokasi di daerah rawan bencana. BNPB dan Bank Dunia merekomendasikan pemeliharaan rutin gedung-gedung sekolah agar restorasi lebih terjangkau, dibandingkan mendanai perbaikan gedung-gedung yang rusak parah. Maka dari situ banyak sekolah-sekolah yang memiliki gedung rusak dan tak layak hingga menjadi persoalan yang tak pernah selesai. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan yaitu kurang nya anggaran dari pemerintah untuk merenovasi sekolah, distribusi anggaran tidak merata, adanya korupsi dan kurang nya pemeliharaan gedung sekolah. Pada sistem kapitalisme, negara cenderung bersikap kurang maksimal dalam melakukan pengaturan urusan rakyat.
Berbalik beda dengan sistem islam, karena islam sudah mengatur berbagai aspek pendidikan, mulai dari fasilitas, gedung-gedung sekolah hingga melahirkan generasi yang berkualitas dan mencetak generasi yang berfikir cemerlang.
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar insan dan sangat berpengaruh akan tumbuh kembang suatu bangsa. Maka berdasarkan itu Islam berakibat pendidikan menjadi salah satu bidang strategis buat membentuk peradaban yg maju dan mulia. apabila pada kapitalisme, pendidikan merupakan kebutuhan yg kerap diabaikan menggunakan dalih kurangnya aturan, kebalikannya pada Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yg harus disediakan sang negara menggunakan aturan yg bersifat mutlak.
Negara pada Islam mempunyai aturan lebih berdasarkan relatif buat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan lantaran anggaran pada Islam sudah tetapkan asal-asal pendapatan negara sinkron menggunakan sistem ekonomi Islam. Sumber daya alam melimpah ruah yg dimiliki Indonesia sebenarnya telah sanggup mencukupi semua kebutuhan dasar masyarakat termasuk pendidikan, sayangnya pengelolaan yg diserahkan dalam pihak asing dan menciptakan output pengelolaan asal daya alam nir masuk secara optimal pada kas negara melainkan hanya terkonsentrasi dalam para pengusaha.
Dalam sistem ekonomi kapitalisme pencapaian materi merupakan prioritas utama, sampai orang akan berlomba-lomba menerima materi sebanyak – banyaknya meski menggunakan jalan yg merugikan orang. Saat ini, tidak hanya syarat pendidikan kita yg suram, tetapi kita mengalami kegagalan pada seluruh aspek kehidupan, sang karenanya tidak terdapat alasan buat nir balik pada Islam, lantaran hanya menggunakan Islam pendidikan kita terselamatkan, gedung-gedung sekolah akan didirikan, segala fasilitas penunjang akan diberikan dan generasi yg lahir pula akan sebagai generasi yg berkualitas dan sanggup sebagai pengukir peradaban yg gemilang.
