Deflasi Dalam Sistem Kapitalis Sebuah Keniscayaan




Oleh : Maulli Azzura

Diflasi dalam sistem ekonomi kapitalis memang acap kali ditemui. Bahkan kejadian tersebut bisa berulang secara beruntun disetiap bulannya (mont to mont ). Hal ini adalah sebuah kewajaran dikarenakan permainan dari hulu sistem kapitalis tersebut (Amerika ) memainkan peran central dalam kancah hegemony internasioalnya, terutama untuk kesetabilan nilai tukar dolar kepada pasar internasional.

Lalu bagaimana dampak deflasi bagi negara yang dijajahnya?

Kita melihat negeri ini sedang mengalami deflasi mont to mont yang sebenarnya kejadian ini sebelumnya telah terjadi dimasa krisis 1998. Deflasi dinegri ini bisa kita liat di sektor perdagangan, juga sektor industrial tidak adanya perbaikan signifikan dan strategis dari mobilitas tenaga kerja yang produktif. Daya beli kelas menengah mengalami penurunan yang cukup drastis, sedang barang produksi yang tersedia mengalami peningkatan.

Tentunya kita mengkaji permasalahan ini ternyata apa yang dilakukan pemerintah dengan berbagai kebijakannya telah membuat kelas menengah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Bukan tanpa sebab, kebijakan kenaikan biaya pendidikan, tapera juga pungutan pajak lainnya semakin memicu angka penurunan daya beli masyarakat anjlok.Kelas menegah saja seperti iu, apalagi kelas rendah? Maka menjadi pemicu semakin bertambahnya pula angka kemiskinan dan pengangguran di negeri ini.

Dalam sistem islam tidak mengenal deflasi, sektor penting dalam sebuah negara benar-benar dikelola dengan baik oleh negara dan dengan prinsip keadilan yang direalisasikan dengan ditopang aturan syariat Allah SWT serta sosok pemimpin ( Kholifah ) yang amanah dalam segala hal, terbukti tidak ditemukannya deflasi suatu pemerintahan.

Dalam sistem ekonomi islam ada beberapa cara bagaimana deflasi bisa dicegah dan hal ini tiak akan dimiliki oleh sistem atau pemerintahan selainnya :

1. Melarang Riba

Dalam Islam tidak mengenal sistem riba.Tentunya kita tahu bahwa ekonomi dengan sistem fiat money cenderung fluktuatif dan tidak stabil akibat adanya seignorage dan inflasi. Dan uang fiat juga rentan akan adanya krisis. Perusahaan yang menggunakan sistem pinjaman berbasis bunga juga akan menghadapi masalah di tengah krisis dibandingkan dengan perusahaan atau industri yang menggunakan sistem PLS (Profit and Loss Sharing). Hal inilah kemudian negara benar-benar melarang segala bentuk ribawi.

2. Menghindari Hutang

Berkaitan dengan hutang sendiri, negara yang memiliki banyak hutang akan lebih rentan terhadap adanya krisis ekonomi karena jelas mereka akan kesulitan untuk membayar utang ketika perekonomiannya mengalami perlambatan. Selain itu, bagi pengusaha yang menjalankan bisnisnya dengan modal pinjaman juga akan kesulitan untuk membayar hutangnya, dan tidak menutup kemungkinan mereka juga bisa berhutang lagi untuk menjaga bisnisnya tetap stabil. 

3. Maysir : Ekonomi Islam Melarang Praktik Maysir dalam Berbagai Bentuk 

Pasar keuangan yang memperbolehkan adanya spekulasi atau maysir akan lebih rentan terhadap krisis karena investor akan cenderung untuk menginvestasikan uangnya lebih bijak dan menghindari risiko. Dengan hutang negara sangat mudah dikuasai dan dilemahkan.

4. ZISWAF: Ekonomi Islam menganjurkan untuk mengoptimalkan instrument ZISWAF (zakat, infak, dan wakaf) 

Instrumen ZISWAF sendiri sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah hingga kekhilafahan. Tujuan adanya instrument tersebut tidak lain adalah untuk redistribusi pendapatan dan pemerataan social. Pemerataan dalam hal ini bukan berarti semuanya mendapatkan bagian secara rata, tetapi pemerataan dilakukan agar tidak adanya ketimpangan diantara masyarakat, yang mana sebagian masyarakat bisa jadi hamper tidak mampu (tidak memiliki harta) sama sekali sedangkan segelintir lainnya memliki kelebihan harta. Ketimpangan ini jika tidak segera diselesaikan dapat merembet pada masalah politik, budaya maupun keamanan. Dalam kondisi krisis tentunya hal tersebut sangat tidak diinginkan. Semuanya menginginkan kondisi yang stabil dan aman.

5. Regulasi yang berkeadilan.

Penguasa harusnya memberikan rasa adil kepada semua rakyatnya terutama sandang , pangan dan papan. Ketiganya harus terpenuhi dengan baik. Bukan sebaliknya rakyat terzalmi oleh kebijakannya yang mencekik leher rakyat. Upaya tersebut haruslah berpijak pada keadilan dan pemerataan yang seimbang. Penguasa memastikan bahwa rakyatnya tidak ada satupun yang kekurangan. Dan mengedukasi dengan prinsip yang islami.

Allah Berfirman, 

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya: "Dan adapun orang yang beriman dan melakukan kebajikan, maka Dia akan memberikan pahala kepada mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang zalim." (QS Ali Imran: 57).

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." 
(QS Ibrahim: 7).

Jika ke-lima point tadi benar praktikkan niscaya tidak akan terjadi deflasi. Negeri kita saat ini sungguh berkiblat pada kapitalis. Sehingga kita tidak bisa lepas dari masalah tersebut. Amerika lewat lembaga internasionalnya IMf,World Bank telah menjerat dan negeri yang dijajahnya senantiasa menjadi korban dari kebiadaban sistem ekonominya. Jika menginginkan solusi yang benar, maka tidak ada jalan lain bagi penguasa untuk merevolusi sistem kapitalis dengan Islam.Sehingga tata kelola keuangan negara menjadi baik dan mendatangkan keadilan serta kemuliaan.

Wallahu a'lam Bishowab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak