Pemimpin yang Baik, Membuat Hati Umat Tenang



Oleh : Lilik Yani

Hati yang tenang, siapa yang tak merindukan? Umat akan berjuang agar hati tenang dan tentram karena sudah tunaikan semua kewajiban. Allah menurunkan ketenangan hati ketika kita menjalankan ketaatan. 

Bagaimana jika membangkang, atau membuat aturan sendiri, sombong dengan pendapatnya sendiri, padahal bertentangan dengan aturan Islam? Sungguh manusia tak tahu diri, sudah disiapkan aturan terbaik oleh Allah tapi merasa sok kuasa, sok pintar. Tidak takutkah jika adzab Allah datang menimpa negeri ini? Akibat banyak pemimpin menganiaya diri dan umat yang menjadi amanahnya. 

Adakah ketenangan ada dalam hatinya jika mengikuti hawa nafsu, cenderung menolak taat? Tidak berjuang di jalan Allah? Apalagi jika itu para pemimpin yang seharusnya mengajak umat ke jalan taat?

Dilansir gokepri.com – Mantan terpidana kasus korupsi yang juga politikus PPP Romahurmuziy mengungkapkan pemikirannya soal kriteria calon presiden ke depan. Menurut Romi (sapaan akrabnya), tiga calon presiden yang muncul berdasarkan survei saat ini semuanya Muslim. Dua merupakan kepala daerah dan satu menteri.

“Ini lebih dari cukup stok mereka untuk bicara visi dan misi. Jangan kemudian kita mengangkat soal ini, shalat ini yang lain gak shalat, ini shalatnya bolong-bolong ini shalatnya rajin, kemudian ini digunakan untuk ukuran kepemimpinan layak atau tidak,” ujarnya dalam sebuah diskusi di TV One.

Romi mengatakan, PPP merupakan partai Islam. Namun, dalam memilih pemimpin mengacu kitab al ahkam sulthoniyah yang menjadi rujukan tata negara, seorang pemimpin ahli maksiat itu pun punya hak ditaati sepanjang dia tidak melarang kebebasan beragama.

Menurut Romi, ini yang seharusnya menjadi fokus bersama untuk melihat tiga capres ini. "Jangan kemudian ini menyoal gak beres karena suka lihat bokep seperti beredar di media sosial, yang ini anaknya gak pakai jilbab, ini bukan ukuran.
Karena gak pakai jilbab juga gak masalah. Meskipun saya tetap berpandangan itu wajib. Lagi pula ini menjadi perdebatan. Jadi, jangan hal yang fuuriyah diperjuangkan hanya untuk memilih pemimpin. Mari kita dewasa karena musuh kita di luar.” 

Ketika Pemimpin Tak Mengajak Umat Taat

Sudah seharusnya menjadi pemimpin teladan umat. Jika menjadi teladan maka hanyalah kebaikan yang dicontohkan, selalu diarahkan ke jalan Allah. Mengajak umat ke jalan taat agar selamat dunia akherat.

Bagaimana fakta sekarang, apakah pemimpin sudah menjadi teladan? Umat tidak sejahtera, fasilitas pendidikan, kesehatan, keamanan, bahkan kebutuhan hidup belum terpenuhi dengan nyaman. Apalagi lapangan pekerjaan sangat terbatas, pengangguran banyak, hingga kejahatan tak terkendali.

Itu fakta yang terjadi dan menimpa umat hingga saat ini. Kini akan terjadi pergantian pemimpin. Pemimpin apa yang menjadi impian umat? Masihkah mau bertahan dengan pemimpin sistem demokrasi yang sementara ini berjalan?

Jika pemimpin mau menerapkan Islam, aturan yang ditetapkan Allah maka tidak mengapa kita pilih. Namun, jika kandidat pemimpin hanya sekedar Islam identitasnya, tidak tampak keinginan masuk menerapkan aturan Allah dalam kepemimpinanya, tentu kita akan menolak.

Apalagi sistem demokrasi sudah berulang-ulang diterapkan tapi tak kunjung membawa perubahan sama sekali. Justru perubahan yang ada justru menuju kezaliman. Umat bukannya menjadi sejahtera justru membawa pada kemaksiatan, kezaliman, kesulitan hidup. Impian hidup sejahtera masih jauh panggang dari api.

Jika fakta yang terjadi demikian, akankah dipertahankan sistem yang menzalimi rakyat itu? Mengapa tak berubah pemikiran, mengganti sistem rusak menjadi sistem yang dulu pernah terbukti mensejahterakan umat?

Allah Menurunkan Ketenangan pada Mukmin Taat

Mukmin yang taat, hanya akan berjalan di jalan ketaatan. Apakah akan terpilih menjadi pemimpin atau tidak, mukmin tersebut akan memilih jalan yang diridai Allah.

Jalan apa yang dimaksud? Jalan ketaatan dalam setiap aktivitas kehidupan. Apapun aktivitas yang dipilih, senantiasa bersandar pada aturan Allah. Jika sikap terbaik seperti itu yang diambil, maka ketika menjadi pemimpin akan menjalankan amanah dengan sangat baik dalam meriayah umat.

Ketika tidak terpilih menjadi penimpin negeri, mereka akan tetap beriman kepada Allah dengan menjalankan amanah apapun diberikan. Baginya, setiap muslim adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Ketika mukmin menjalankan ketaatan, maka Allah akan menambah ketenangan sebagaimana ketenangan yang sudah ada sebelumnya. Begitulah, ketika seorang hamba berada di jalan Allah. Selalu berada dalam ketenangan, ketentraman, keamanan, keselamatan baik di dunia hingga akherat kelak.

QS. Al-Fath Ayat 4

هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ السَّكِيۡنَةَ فِىۡ قُلُوۡبِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ لِيَزۡدَادُوۡۤا اِيۡمَانًا مَّعَ اِيۡمَانِهِمۡ‌ ؕ وَلِلّٰهِ جُنُوۡدُ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana;

Dialah yang telah menurunkan yakni mewujudkan dan memantapkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin sehingga mereka tidak gentar menghadapi dan memerangi musuh untuk menambah keimanan atas keimanan mereka tentang kebesaran Allah. 

Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, yang senantiasa patuh melaksanakan perintah-Nya untuk dan memberikan pertolongan kepada orang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya, Mahabijaksana dalam pengaturan dan perbuatan-Nya.

Allah menganugerahkan nikmat-Nya dengan menanamkan ketenangan dalam hati orang-orang yang beriman, terutama dalam hati para sahabat yang ikut bersama Rasulullah saw dalam Perjanjian Hudaibiyyah. Dengan ketenangan hati itu, para sahabat patuh kepada hukum Allah dan keputusan Rasul-Nya. Dengan ketenangan hati itu juga, Allah menambah iman para sahabat.

Imam al-Bukhari menetapkan kesimpulan berdasarkan ayat ini bahwa iman itu tidak sama kadarnya dalam setiap hati orang beriman, ada yang tebal, ada yang sedang, dan ada pula yang tipis. Di samping itu, iman dapat pula bertambah dan berkurang pada diri seseorang.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan menurunkan ketenangan dalam hati orang-orang yang beriman ialah menghilangkan perbedaan pendapat yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah saw tentang Perjanjian Hudaibiyyah. 
Dengan timbulnya ketenangan hati, semua sahabat Nabi akhirnya mengikuti keputusan Rasulullah. 

Diriwayatkan bahwa 'Umar bin al-Khaththab termasuk di antara sahabat yang tidak menyetujui Perjanjian Hudaibiyyah sehingga beliau berkata, "Bukankah kita pada jalan yang hak, sedangkan mereka di jalan yang batil?" 

Dengan rahmat Allah, perbedaan pendapat itu hilang. Para sahabat menyadari kebenaran pendapat Rasulullah saw, termasuk 'Umar bin al-Khaththab yang akhirnya menyetujui pendapat Rasulullah.

Ayat ini dapat berarti umum dan dapat pula berarti khusus. Dalam arti umum, ayat ini berarti bahwa Allah akan menanamkan ketenangan hati, kesabaran, dan ketabahan bagi setiap orang yang beriman sehingga tidak ada lagi perbedaan pendapat di antara mereka yang dapat menimbulkan perpecahan. Hanya orang-orang yang kurang imannya saja yang mudah berselisih dengan orang yang beriman lainnya. 

Sedangkan arti khususnya adalah bahwa Allah menimbulkan ketenangan hati pada setiap orang yang bersama Rasulullah saw dalam menghadapi Perjanjian Hudaibiyyah. Arti khusus inilah yang dimaksud dalam ayat ini karena ini yang sesuai dengan sebab turunnya.

Allah menerangkan bahwa Dialah yang mengatur dan menguasai langit dan bumi. Dia mempunyai "tentara langit" dan "tentara bumi", yang dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Tidak ada satu pun dari tentara-Nya yang mengingkari perintah-Nya. Di antara "tentara-tentara" itu ada yang berupa malaikat, binatang, angin topan, gempa yang dahsyat, banjir, aneka rupa penyakit, dan sebagainya. 

Jika Allah menghendaki, Dia dapat menghancurkan segala sesuatu dengan satu macam tentara-Nya saja termasuk menghancurkan setan. Tetapi Dia tidak berbuat demikian, bahkan Dia memerintahkan kepada kaum Muslimin agar berjihad dan berperang di jalan-Nya. Semuanya itu ditetapkan sesuai dengan hikmah, tujuan, dan kemaslahatan yang diketahui-Nya, sedangkan manusia boleh jadi tidak mengetahuinya.

Sungguh banyak kebaikan ketika kita berada di jalan Allah. Allah tak pernah menzalimi hambaNya. Allah hanya menawarkan kebaikan semata. Seluruh aturan Allah hanyalah berisi kebaikan dan taqwa. Akankah kita mau diatur sistem aturan manusia yang banyak kezaliman, atau segera berpindah ke sistem yang diberikan Allah yang membawa pada ketenangan hidup.

Wallahu a'lam bish shawwab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak