Oleh: Julia Ummu Adiva
Dalam hitungan beberapa bulan ke depan group band Coldplay asal Inggris ini akan menggelar konser di beberapa negara dengan bertajuk "Music Of The Spheres World Tour 2023". Indonesia adalah negara salah satunya yang menjadi tempat tour mereka. Group band Coldplay akan menggelar konser tepatnya pada tanggal 15 November 2023 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. (Kompas.com, 12/05/2023) Masyarakat sudah jauh-jauh hari sangat antusias dalam menyambut group band idola mereka. Bahkan dengan sigap akan mengikuti tiket war yang di banderol mulai dari harga 800 ribu hingga 11 juta rupiah. Sungguh harga yang fantastis bukan.
Walaupun harganya diluar nalar, namun banyak yang berburu tiket secara online dan akan bersaing dengan yang lain untuk memperoleh tiket tersebut. Bahkan ada yang membelinya lewat jalur via jastip alias jasa titipan. Yang tentunya harga tiketnya jauh lebih tinggi daripada harga tiket war. Ini karena mereka harus membayar jasa orang tersebut.
Seperti dikutip dari Tribunnews, 16/05/2023 bahwa seorang remaja
Danar namanya, ia rela menjual kulkas, dan barang lainnya demi menonton konser Coldplay, ia mengaku ingin melihat sosok idolanya secara dekat. Salah satu cara terbaik ialah dengan menjual aset miliknya. Bahkan ia ingin membeli tiket konser termahal yaitu sekitar Rp 11 juta. Kalau enggak kekumpul ya (yang) Rp 5 juta. Kalau enggak kekumpul (juga) ya yang Rp 4 juta. Gitu saja terus,” tutur Danar.
Sungguh merugi rasanya jika menanamkan standar kebahagiaan masyarakat dan remaja saat ini ialah hanya sebatas pada kebahagiaan yang semu. Mereka beranggapan bahwa memperoleh apa yang menjadi kemewahan dunia, rasa kepuasan, ditambah lagi dengan gaya hidup yang hedonis, flexing menjadi hal yang lumrah, hingga healing yang kebablasan. Padahal untuk memperoleh itu semua mereka harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit bahkan banyak dan rela menjual barang-barang miliknya hingga meminjam online pun diusahakan.
Yang menjadi pertanyaan, se-fanatik dan se-hedonis itu kah masyarakat dan remaja diluar sana? Apakah ketika konser usai kebahagiaan itu akan tetap ada di relung mereka? Yang pada faktanya, itu semua hanya menjadi cerita dan kembali pada rutinitas seperti biasa, setelah merasa bosan, masyarakat saat ini akan mencari hiburan terus yang siklusnya seperti itu.
Dalam Islam, standar kebahagiaan seorang mukmin ialah meraih ridha Allah semata. Dengan cara apa? Tentunya tak terpedaya akan dunia ini. Ingat, bahwa tujuan hidup kita di dunia tak lain ialah untuk beribadah kepada Allah. Dengan memahami dari mana manusia berasal, apa tujuan hidup di dunia, dan hendak ke mana setelah kehidupan ini.
Maka jika pertanyaan ini sudah dipahami dan dijawab dengan cara yg benar dan shahih, niscaya tidak akan ada manusia yang mengarungi hidup tanpa tujuan atau menghabiskan waktu untuk hura-hura. Manusia akan berpikir ratusan bahkan jutaan kali untuk menghabiskan waktu hanya untuk berburu tiket dan menonton konser musik yang melenakan. Sebab aktivitas itu dalam pandangannya tidak mengarahkan pada tujuan kehidupan yang hakiki yakni untuk beribadah kepada Allah. Inilah standar kebahagiaan hakiki dalam Islam.
Mungkin ada selentingan kalimat, “Yailah ribet banget sih, sedikit-sedikit obrolannya akhirat. Pahala, dosa. Allah lagi, Allah lagi.” Aduh, kalau seperti ini, kudu banyak-banyak istighfar. Ini bukan perkara ribet bin ruwet. tetapi semata karena kelak semua akan berakhir dan hanya kepada Allah tempat kita berlindung kelak dan apa yang kita lakukan semua akan ada hisabnya dan akan dimintai pertanggungjawaban nya di akhirat nanti.
Untuk itu jangan sampai terpesona akan Euphoria yang ditawarkan oleh musik yang seakan-akan indah padahal melenakan hingga mengalihkan kita dari Islam. begitupun jangan terpukau akan megahnya dunia yang fatamorgana untuk ikutan hedonis ala-ala barat. Karena yang menuntun kita ke syurgaNya Allah bukan itu. Tapi bagaimana kita mendekap kepada Allah dengan memahami Islam secara menyeluruh dan mendakwahkan ke khalayak umum agar masyarakat tumbuh dengan harumnya Islam yang akan mencerminkan bagaimana seorang muslim semestinya. Yakni dengan menjadikan hukum syara sebagai tolak ukur. Yuk ngaji Islam secara kaffah!
Wallahu-a'lam bish-shawab[]
Tags
Opini
