Matinya Empati Secara Sistemik,Tumbuh Subur di Sistem Kapitalistik



Oleh Pina Purnama S.km



Berbagai platform media sosial ramai berita Coldplay band asal inggris ini diadakan di Indonesia tentu saja ada yang pro dan ada yang kontra di lihat dari sisi pengaruh nya dalam hal manfaat dan tujuannya bagi Indonesia, melihat dari fakta masyarakat berburu tiket war ataupun melalui jasa titip menjadi incaran bagi yang mengidolakan salah satu band ini, lantas menelisik dampak positif dan negatif yang terjadi bagi nilai ekonomi, sosial budaya, bahkan politik nya seperti apa?

Gaya hidup hedonis

Salah satu yang mencengangkan di acara konser ini harga tiket yang lumayan merogok kocek fantastis harga nya di bandrol mulai dari 800 ribu sampai 11 juta bagi masyarakat miskin itu hal yang jadi berharga tetapi tidak untuk kalangan borju, begitulah gaya hidup hedonis menjangkiti sistem sosial kita hari ini, begitupun antusias masyarakat membuktikan tingginya kesenjangan kesejahteraan, hal ini menggambarkan keinginan menikmati hiburan seolah menjadi barang antik yang harus di buru, jika di lihat dari sisi pengaruh sosial budaya di hawatirkan terjangkitnya kebebasan berprilaku seks bebas, bebas minum alkohol, narkoba, tak ada kontrol interaksi wanita dan laki-laki yang rawan menimbulkan kejahatan fisik maupun mental terlebih bagi para remaja yang masih rapuh dalam mengelola manajemen emosi labil yang seharus nya masih ada kontrol ketat dari orang tua yang seharus nya menjadi perhatian kita agar tidak terjadi penyimpangan sosial, budaya, dan kesehatan.

MatinyaEmpati Secara Sistemik

Ditengah keadaan negara Indonesia yang masih punya PR mengentaskan kasus stunting sepert halnya di Nusa Tenggara Timur posisi teratas sebesar 35,3%, Sulawesi Barat 35%, Papua Barat 34,6%, dan Nusa tenggara Barat 32,7% angka stunting nya (Katadata.co.id). 
Menelisik keadaan saudara kita yang membutuhkan dana untuk meningkatkan kesehatan agar terhindar dari stunting sangatlah  dibutuhkan rasa empati akan tetapi di sistem kapitalistik hari ini rasa ini sudah mati rasa, sampai mindset masyarakat hari ini lebih memenuhi keinginan daripada kebutuhan yang asasi, beginilah watak sistem ekonomi kapitalistik yang akan berkembang hanya menguntungkan pihak konglomerat semata belum tentu masyarakat kalangan bawah merasakan nilai manfaat ekonomi yang serba sulit, mahal memenuhi kebutuhan pokok. Belum lagi problematika sistem ekonomi, sistem kesehatan, sistem sosial bahkan politik masih menunggu penanganan serius yang seharusnya di prioritaskan terlebih dahulu. 

Solusi Islam

Di dalam Islam mengatur bagaimana menempatkan posisi hiburan dan kebutuhan dalam menikmati hidup. 

Pertama: Sistem Islam mewajibkan negaranya memenuhi kebutuhan masyarakat agar tidak terjadi kemaksiatan ditengah kehidupan dengan aturan Allah berpedoman dari Al Qur'an agar terjaga lingkungan maupun aktivitas masyarakat nya menyibukkan dengan kegiatan yang positif dan produktif. 

 Kedua: sistem pendidikan islam yang unggul mencetak generasi Sholeh dan sholehah mampu memprioritaskan kebutuhan dan keinginan dengan menejemen yang baik menghasilkan pola pikir dan pola sikap yang islami, mengutamakan skala prioritas amal ibadah terbaik untuk menikmati kehidupan ini. 

Ketiga: Memiliki sikap empati yang tinggi terhadap persoalan umat hal ini menjadi modal untuk berlomba lomba menasihati  dalam kebaikan menghasilkan masyarakat yang kuat fisik maupun mental nya. Hanya Islam yang mampu menumbuhkan rasa empati agar kritis dan peka pada urusan umat dari berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, kesehatan maupun politik akan mendapat perhatian utama lantaran pola pikir dan pola sikap nya dipengaruhi skala prioritas ketaqwaan pada Allah sehingga dalam menjalankan aktivitas di lingkungan nya standar perbuatan nya di ukur dengan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah alaminhajinubuwah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. 

Wallahu 'alam bishawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak