Penulis: Siami Rohmah
Pegiat Literasi
Parah, kondisi jalan di Lampung yang beberapa waktu lalu menjadi perhatian banyak pihak, setelah kerusakan jalan di daerah tersebut diangkat oleh seorang konten kreator dari Kabupaten Lampung Timur, Bima Yudho Saputo. Dalam kontennya di Tik Tok Bima menyebutkan kampung halamannya susah maju karena jalan rusak. Konten ini sempat membuat Bima dilaporkan oleh seorang advokat, namun kasus dihentikan karena tidak memenuhi unsur pidana. (CNNIndonesia, 10/4/2023)
Di lapangan, kerusakan jalan memang fakta yang tak terbantahkan, kerusakan yang ada membentuk kubangan-kubangan yang tentu sangat mengganggu perjalanan masyarakat dan membahayakan keselamatan pengendara kendaraan bermotor. Pemerintah daerah beralasan rusaknya jalan yang tak kunjung diperbaiki karena tidak mampu dengan minimnya dana untuk perbaikan jalan, pasalnya alokasi dana untuk perbaikan jalan hanya Rp72,44 miliar dari anggaran belanja sebesar 7,38 Triliun, yang berarti tidak sampai satu persen APBD. Akhirnya perbaikan diambil alih oleh pemerintah pusat dengan target 14 titik perbaikan.
Kasus jalan rusak tidak hanya terjadi di wilayah Lampung, bisa jadi di wilayah lain juga mengalami hal yang sama. Sebut saja kota Tulungagung, kota marmer di Jawa Timur ini wilayahnya juga banyak terdapat jalan rusak, baik jalan antar kecamatan ataupun jalan-jalan desa. Sebut saja jalan di wilayah kecamatan Bandung, kemudian jalan desa di wilayah kecamatan Sendang, kondisinya sebelas duabelas dengan yang ada di Lampung. (kacamata Tulungagung).
Dari kasus jalan rusak ini kita bisa melihat begitu panjangnya jalan untuk memperbaiki fasilitas umum di negeri ini, perhatian dari pemerintah baru diberikan setelah kasus viral, padahal rusaknya jalan sudah lama dirasakan. Pemerintah di daerah yang dekat dengan fakta juga seolah menutup mata, kalaupun tidak ada dana untuk perbaikan dan butuh bantuan dari pusat kenapa tidak segera mengajukan bantuan perbaikan. Sementara pemerintah pusat tampak kurang kontrol dengan kondisi di daerah. Banyak juga penanganan hanya sekedarnya, ditambal dengan kualitas bahan seadanya, akhirnya jalan tidak menunggu lama untuk rusak kembali.
Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini membentuk para penguasa tidak peka dengan kesusahan rakyatnya. Menganggap biasa atau malah menutup mata dari masalah yang ada, yang terpenting mereka menikmati fasilitas sebagai pejabat, bagaimana semakin istimewa kemewahan yang didapat, seperti ganti mobil dinas baru dengan harga selangit. Sementara yang di daerah, misal jalan desa, dibiarkan rusak bertahun-tahun padahal tiap tahun dana desa cair milyaran rupiah. Lengkaplah sudah dari pusat sampai daerah kualitas pemimpinnya sama.
Jalan merupakan fasilitas umum yang dibutuhkan oleh semua orang. Negara wajib menyediakan secara gratis tanpa dipungut biaya. Dan pemerintah harus bersegera untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Dalam Islam pemimpin itu punya dua fungsi, yaitu raa'in dan junnah (penggembala/penanggungjawab dan perisai/pelindung). Sebagai raa'in pemimpin harus menjamin rakyat bisa tercukupi kebutuhannya, baik individual (sandang, pangan, papan) ataupun komunal (pendidikan, keamanan, kesehatan) tanpa terkecuali, karena posisinya sebagai pelayan rakyat. Kemudian pemimpin sebagai junnah (pelindung) haruslah melindungi dari setiap hal yang membahayakan rakyatnya, dan dia berdiri paling depan untuk membela rakyat.
Kita bisa belajar dari kisah Khalifah Umar bin Khattab, ketika beliau mendengar ada keledai yang terperosok ke jurang di Irak, beliau sangat bersedih. Kemudian ketika ditanya kenapa beliau bersedi padahal itu hanya seekor keledai, beliau menjawab bagaimana nanti harus mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah atas kejadian tersebut. Sungguh luar biasa ketika seorang pemimpin menyadari bahwa jabatan itu bukan kesempatan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka akan berhati-hati dan sekuat tenaga memenuhi janji yang diucapkan. Sayangnya pemimpin semisal Umar bin Khattab hanya bisa kita jumpai ketika pemimpin itu mau melaksanakan dan melakasanakan tanggungjawab jabatan dengan apa yang sudah diperintahkan oleh Allah dalam seluruh sendi kehidupan, yaitu Khilafah Islam. Yang sudah terbukti berabad-berabad mampu membawa kesejahteraan dan keberkahan. Maka apalagi yang kita risaukan, segeralah menyambut seruan yang telah dijanjikan. Wallahualam bissawab.
