Oleh: Messy Ikhsan
Bestie, baru-baru ini viral tentang informasi Pengadilan Negeri Surabaya melegalkan pernikahan beda agama dengan dalih untuk mencegah praktik kumpul kebo, seperti dilansir di laman CCN Indonesia pada tanggal 22/6/22.
Praktik nikah beda agama bukan pertama kali terjadi di negeri ini. Sebelum itu sudah banyak pejabat dan publik figur yang terang-terangan melakukan aktivitas nikah beda agama. Ditambah lagi dengan peran media yang seolah-olah memberikan dukungan dengan praktik tersebut. Nauzubillah.
Kata orang-orang kalau cinta itu buta. Akhirnya mereka berdalih menghalalkan segala cara untuk bisa bersama dengan si doi walau terdapat beragam tantangan. Walau beda keyakinan, walau harus mengorbankan keimanan dan Tuhan. Tetap yang nomor satu memperjuangkan si doi.
Orang yang sudah gila dengan nafsu berbalut cinta. Tak lagi menggunakan akal sehat dengan baik dan jernih. Tak lagi mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua dilibas hanya untuk kebahagiaan sesaat.
Miris hidup di sistem sekularis, semua dihalalkan untuk memenuhi keinginan pasar. Segala permintaan aneh dikabulkan dengan alasan nyeleneh. Aturan hawa nafsu dipuja bak Tuhan, sedangkan syariat sengaja dipinggirkan. Ngeri, hal itu terjadi di negeri yang mayoritas muslim. Negeri yang katanya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Negeri yang katanya berpijak pada nilai-nilai agama.
Lucunya, melegalkan nikah beda agama dengan alasan menghindari kumpul kepo. Padahal yang berhak mengatur aturan pernikahan tidak hanya negara. Agama pun punya aturan rinci terkait pernikahan terutama dalam Islam.
Dalam pernikahan Islam, terdapat istilah akad dan ijab kabul. Pernikahan tidak hanya perjanjian antara lelaki dan perempuan, melainkan perjanjian dengan Allah. Akad nikah akan sah saat sesuai syariat. Salah satunya pasangan itu harus sama-sama muslim. Kalau tidak, secara otomatis pernikahan itu tidak sah. Dan selama itu pula melakukan aktivitas suami dan istri bisa berujung dengan zina. Lantas, apa bedanya dengan kumpul kebo? Sama-sama tidak sah di mata agama dan Allah?
Menikah bukan sekedar untuk menyalurkan hawa nafsu, melainkan dalam rangka ibadah. Menyempurnakan separuh agama dengan si doi, bersama-sama semakin dekat dengan Islam. Cinta memang fitrah. Maka labuhkan cinta pada yang seakidah. Agar bisa sama-sama berjumpa lagi di istana janah. Insyaallah.