Moral Generasi Tergadai, Dampak Buruk Sekulerisasi



Oleh : Ummu Hanif, pemerhati Sosial Dan Keluarga

Media sosial, ibarat pisau bermata dua. Pemanfaatan positif, menjadikan media sosial sarana menyebarkan kebaikan paling cepat di era industry 4.0 saat ini. Namun, ketika media sosial hanya dimanfaatkan atas nama keuntungan pribadi, maka apapun bisa dikorbankan hanya demi uang dan eksistensi diri.

Mirisnya, kondisi ini tidak dibarengi dengan penguatan aqidah masyarakat, khususnya para pemuda, gerenasi penerus peradaban. Maka, kita bisa dapati bahwa media sosial saat ini justru menjadi lahan subur dan terbuka bagi merebaknya konten-konten amoral generasi. Konten-konten unfaedah dan berbau maksiat tampak sudah menjadi “dagangan” baru dan membawa ancaman serius bagi moral generasi, sebagaimana tsunami yang bisa memorak-porandakan sebuah negeri.

Kondisi ini semakin dikuatkan dengan adanya proyek moderasi, yang meminta kaum muslimin untuk tidak terlalu fanatik dengan agamanya. Para pemeluknya dijauhkan dari keyakinan bahwa Islam adalah solusi problem kehidupan. Akibatnya, keterikatan mereka terhadap ajaran Islam kafah makin lama makin longgar, bahkan berani mencampakkan atau melanggar sebagian syariat Islam tanpa rasa bersalah.

Tidak heran jika Indonesia dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia, tetapi aturan yang diterapkan justru banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan di Lembaga yang membawa label agama sekalipun.

Apa yang terjadi hari ini sejatinya bukan hal yang alami. Musuh-musuh Islam senantiasa membuat rekayasa melemahkan umat Islam dan menghalangi kebangkitan peradabannya, termasuk melalui perang pemikiran dan budaya. Tujuan utamanya adalah melanggengkan hegemoni ideologi dan peradaban kapitalisme atas dunia, khususnya di negeri-negeri Islam dengan segala potensi strategisnya yang luar biasa.

Moderasi Islam adalah salah satu bagian dari rekayasa global tersebut. Proyek ini digagas oleh RAND Corporation, salah satu lembaga thinktank Amerika. Melalui proyek ini, mindset umat Islam hendak diubah agar tidak lagi punya pandangan buruk tentang Barat beserta nilai-nilainya. Lalu pada saat yang sama mereka kehilangan kepercayaan diri sebagai muslim yang selalu siap terikat erat dengan agamanya dan pantas memimpin dunia.

Sistemisnya problem generasi mau tidak mau membutuhkan solusi sistemis pula. Yakni dengan menghadirkan kembali sistem Islam dalam realitas kehidupan, bukan malah mengarusderaskan moderasi Islam. Hal ini sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah peradaban Islam, dimana Islam  telah melahirkan profil generasi umat teladan sepanjang zaman. Yakni generasi berkepribadian Islam yang siap berkontribusi besar dalam urusan keumatan, dan jasanya diakui hingga masa sekarang. Maka, merosotnya moral generasi masa kini, tidak bisa lain kecuali diselesaikan dengan penerapan Islam kaffah dalam bingkai khilafah. Wallahu a’lam bi ash showab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak