By : Messy
Lagi dan lagi, kasus kekerasan terhadap guru yang dilakukan oleh siswa kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang guru bernama Alexander Warupangkey yang bekerja di SMK Ichtus, Manado.
Diketahui, sebelum ditikam hingga meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Ternyata korban terlebih dulu di keroyo
k oleh siswanya. Pelaku berdalih melakukan pembunuhan tersebut dikarenakan kesal melihat korban yang mengingatkannya untuk tidak merokok. (news.detik.com/26/10/2019).
k oleh siswanya. Pelaku berdalih melakukan pembunuhan tersebut dikarenakan kesal melihat korban yang mengingatkannya untuk tidak merokok. (news.detik.com/26/10/2019).
Pendidikan Sekuler Makin Keblinger
Krisis moral yang di terjadi kalangan generasi muda kian hari kian menjadi-jadi. Apalagi dengan diterapkannya sistem Demokrasi-Sekularisme. Sistem yang memisahkan peran agama dalam kehidupan. Yang membuat generasi muda semakin tenggelam dalam krisis moral.
Akibatnya, pelaku tindakan kekerasan tidak mengalami efek jera atas kejahatan yang dilakukannya. Hal ini tentu membuat kasus kekerasan kian meningkat tiap harinya. Sebab, dalam sistem ini aturan di buat sesuai dengan keinginan hawa nafsu manusia yang bisa menimbulkan perbedaan dan pertikaian sesama masyarakat dalam pemecahan masalah.
Memang benar adanya, manusia memiliki rambut sama-sama hitam. Namun, kecenderungan dalam membuat aturan pasti berbeda. Ketika aturan diserahkan kepada individu tertentu. Tentu aturan yang dibuat sesuai dengan kepentingan pembuatnya saja.
Selain itu, kepada pihak yang diuntungkan seperti penguasa dan kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan. Pada satu sisi penguasa dan pengusaha tertawa ria. Dan pada sisi yang lain, rakyat menjerit kesakitan atas kezaliman tirani penguasa.
Termasuk juga dalam dunia pendidikan, pendidikan sekuker juga dirundung banyak permasalahan. Pendidikan karakter yang diharapkan mampu membentuk akhlak mulia pada generasi muda pun jauh dari harapan. Malah yang terjadi sebaliknya, krisis moral pada kalangan pelajar kian meningkat.
Tidak menjadi rahasia umum lagi tentang krisis moral yang menimpa generasi muda. Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada generasi muda di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen.
Tak berhenti di situ, kekerasan yang dilakukan oleh kalangan pelajar pada orang tua dan guru juga tampak menghiasi pemberitaan media akhir-akhir ini. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Manado, seorang siswa yang tega mengeroyok gurunya sendiri hingga meninggal dunia.
Selain kekerasan, perilaku menyimpang dari generasi muda saat ini juga mengarah ke dalam seks bebas. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, tingkat kenakalan generasi muda yang hamil dan melakukan upaya aborsi mencapai 58 persen.
Berbagai penyimpangan generasi muda seperti narkoba, miras, tawuran, ugal-ugalan dan berbagai hal lainnya juga semakin menunjukkan krisis moral yang dialami oleh generasi muda saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Menyikapi berbagai potret buram perilaku-perilaku menyimpang generasi muda tersebut, tebersit pertanyaaan "Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini? Kemana peran orang tua, guru dan negara dalam membentuk generasi muda yang memiliki karakter dan beradab?
Dan hari ini semakin jelas bahwa sistem pendidikan sekuler hanya mencetak generasi yang liberalis, sekuleris hedonis, tanpa akidah, tanpa identitas dan hanya dipusatkan menjadi alat pekerja yang menghasilkan lembaran kertas.
Kembali Kepada Islam
Islam tidak hanya sebagai agama yang mengatur ibadah ritual semata. Melainkan Islam juga sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari bangun tidur hingga bangun negara. Dari masuk rumah hingga masuk surga. Semua di atur secara terperinci dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Dalam sistem pendidikan Islam, orang tua berkewajiban memberikan pengajaran dan membentuk kepribadian yang baik kepada anak sejak usia dini. Menanamkan nilai-nilai Islam adalah yang utama bagi mereka, sehingga mereka dapat tumbuh berkembang dengan kepribadian yang baik dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, guru atau pihak sekolah juga memiliki berkewajiban tidak hanya memberikan pengajaran pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan juga membentuk karakter (transfer of value) kepada siswanya. Guru juga memberikan teladan yang baik sehingga diharapkan juga dicontoh oleh siswanya.
Peran yang paling penting adalah peran negara Islam yaitu wajib menyelenggarakan pendidikan yang berbasis agama (Islami). Tidak memisahkan agama dari pendidikan, mendukung generasi muda dalam pengembangan bakat dan minat sesuai dengan karakteristik siswa. Serta mendorong mereka dalam mengkaji Islam secara kaffah (keseluruhan).
Seperangkat dengan negara, aturan dan hukum yang berlaku harus mampu memberikan pencegahan dan sanksi bagi generasi muda yang menyimpang jauh dari asusila, seperti seks bebas, aborsi, narkoba dan lainnya. Sehingga diharapkan mampu menghilangkan atau setidaknya mengurangi terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh generasi muda.
Sudah saatnya kesadaran tumbuh pada semua pihak, karena jika krisis moral generasi muda terus berlanjut, bagaimana dengan nasib masa depan bangsa ini? Generasi muda harus mampu menjadi "Agent of Change" yang berkontribusi besar dalam perubahan bangsa dan menjadi tonggak peradaban yang membawa kepada perubahan yang hakiki.
Banyak hal yang harus dilakukan generasi muda, yaitu dengan memperbaiki dan memperkuat keimanan, mengkaji Islam dengan keseluruhan, dan berperan dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, salah satunya adalah dengan mengambil posisi penting dalam dakwah Islam dalam rangka mewujudkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Jika generasi muda hari ini disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat. Maka bukan suatu hal yang mustahil, kemajuan peradaban Islam yang diharapkan akan segera terealisasi ditengah-tengah masyarakat. Sudah saatnya umat Islam bangkit dengan penerapan sistem Islam dalam Daulah Islamiyyah. ALLAHU AKBAR!
