Oleh Diyana Indah Sari
(Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Sebelas Maret)
Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali permasalahan yang muncul dalam kehidupan ini. Seperti bencana alam yang terus bermunculan, kita dapat melihat orang-orang disekitar kita yang mengalami kesulitan ekonomi, pendidikan yang tidak merata, moral generasi penerus yang semakin rusak, maraknya tindakan kriminal dan orang-orang besar yang dipercaya justru menjelma menjadi tikus-tikus berdasi yang mencekik rakyat kecil, serta masih banyak lagi. Bahkan tidak perlu jauh-jauh melihat orang sekitar, ketika kita melihat diri sendiri saja ada permasalahan yang begitu pelik, betapa banyak kemaksiatan yang sudah kita lakukan.
Coba, mari sejenak kita renungkan, apa sebab dari semua ini, apa sebenarnya akar permasalahan yang melatarbelakangi problematika ini, dan kita akan teringat pada firman Allah swt,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)
Dari firman Allah tersebut dapat kita ketahui bahwa, kerusakan yang terjadi adalah akibat dari perbuatan manusia sendiri, manusia yang jauh dari Allah, gemar berbuat maksiat bahkan kemusyrikan. Banyaknya penolakan pada syariat islam, masyarakat yang memiliki sesembahan selain Allah, dan hukum Allah yang ditolak mentah-mentah, tentu itu bisa menjadi asbab kerusakan di bumi ini.
Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,
“Abul ‘Aliyah mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbuat maksiat kepada Allah maka dia sungguh telah merusak bumi’. Karena baiknya bumi dan langit dengan melaksanakan keta’atan.
Kalaulah kita mau berpikir maka kita akan dapati bahwa permasalahan yang kita hadapi sebenarnya mengkerucut pada sebuah masalah yaitu kita belum mampu memurnikan tauhid pada diri kita, keluarga kita dan tetangga serta masyarkat kita Jika kita termasuk orang yang sudah mulai sadar akan tauhid, maka sering kita lupa melaksanakan konsekwensi dari tauhid tersebut. Kita kurang memahami aqidah asma’ dan shifat Allah ‘Azza wa Jalla dan kurang menerapkan kandungan nama tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Padahal kita tahu bahwa ketika kita diciptakan, perintah utama dari Allah swt, adalah mentauhidkan-Nya. Beribadah akan bernilai ibadah dan diterima di sisi Allah jika didasari dengan Tauhid, sebagaiman firman Allah swt,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dalam hal ini ibadah diartikan sebagai mencakup setiap apa yang dicintai dan diridhi Allah, baik perkataan maupun perbuatan, baik yang dzahir maupun yang batin. Sehingga tauhid sangat penting untuk dipahami, diamalkan dan dijalankan segala konsekuensinya, baik itu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma’wa sifat, karena tidak akan diterima amalan ibadah seseorang jika tauhidnya tidak sempurna. Orang-orang kafir dan musyrik, yang mereka tidak bertauhid, sebesar apapun amalan kebaikan mereka tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala dan hanya menjadi debu-debu yang beterbangan.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
“dan kami persaksikan kepada mereka, bahwa amalan kebaikan yang mereka amalkan kami jadikan debu-debu yang beterbangan” (QS. Al Furqan: 23).
Dengan demikian apabila manusia lupa dan lalai terhadap tujuannya diciptakan, maka yang timbul adalah kerusakan, maka pantaslah jika kita sudah lalai dari tujuan kita, rusaklah diri kita, penyakit mewabah dimana-mana, musibah silih berganti dimana-mana. Keadaan sekitar kita tidak lagi nyaman. Semuanya karena kita lari dari tujuan kita diciptakan. Diibaratkan dengan benda-benda disekitar kita yang digunakan tidak sesuai dengan aturannya maka benda tersebut akan rusak. Maka sudah seharusnya kembali pada tujuan awal dan berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Kita hidup harus punya aqidah yang benar dan kokoh, mentauhidkan Allah adalah harga mati.
Selain itu tentu dalam hidup sudah ada aturannya baik yang dijelaskan dalam Al Quran maupun Hadist, tidak ada ruginya kita ketika mau menjalankan syariat Islam, aturan dari Allah adalah aturan yang sempurna, tentunya ketika ketika kita mematuhi maka tidak akan menimbulkan kerusakan, dan kerunyaman problematika hidup seperti saat ini. Oleh karena itu memahami tauhid sangat perlu, agar kita dapat terhindar dari kemusyrikan dan saatnya mulai membuka hati untuk ikhlas menjalankan syariat islam secara kaffah bukan tebang pilih.
Tags
Opini
