Oleh : Heni Andriani
Barat tak pernah lelah melancarkan serangannya ke tengah - tengah kaum muslimin. Mereka meyakini akan kebangkitan umat Islam dan menjadi pemimpin dunia. Karena mereka meyakini bahwa suatu saat khilafah pasti tegak dan akan memimpin dunia. Salah satu hal yang digencarkan adalah mengkotak-kotakkan umat Islam dengan istilah Islam moderat dan radikal. Dengan pemberian label ini Islam akan lebih mudah diberangus karena Islamophobia berakar kuat dalam benak umat bahkan kaum muslimin pun ada yang ikut andil dalam menanamkan islamophobia. Kondisi saat ini memang sesuai dengan pesanan Barat. Lihatlah saja bagaimana pernyataan Pak Wiranto ketika terjadi penusukan di Pandeglang sebulan yang lalu. Cap teroris, radikal terus menyasar kepada kaum muslimin.
Masyarakat Indonesia dibuat jenuh dan bosan dengan isu radikalisme yang senantiasa ditujukan kepada umat Islam. Sementara ketika terjadi kerusuhan di Wamena tak sedikit pun ditindak bahkan terkesan dibiarkan yang jelas-jelas mengancam kedaulatan negara ini. Ketika ada kejadian baik itu pemboman, pengrusakan pelakunya umat Islam maka buru-buru cap radikal disematkan tetapi ketika pelakunya bukan orang Islam seperti yang terjadi di Papua hanya dinyatakan kriminal biasa. Sungguh tidak adil.
Cap radikal senantiasa tertuju terhadap umat Islam terutama bagi para pengemban dakwah syariah dan khilafah. Karena untuk menjerat mereka sangat susah maka dikuatkan framing negatif agar umat Islam pada umumnya semakin alergi terhadap ajaran Islam. Ketika umat Islam alergi terhadap ajaran Islam tentu akan mudah dihancurkan.
Istilah radikalisme merupakan serapan dari bahasa asing yang berasal dari kata radix yang berarti akar dari bahasa latin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata radikal memiliki arti ';mendasar(sampai pada hal prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (Undang-Undang, pemerintahan).
Seiring dengan menguat ya hegemoni Barat ke negeri - negeri kaum muslimin istilah radikal menjadi sesuatu yang pas untuk membungkam mereka yang menghendaki perubahan. Istilah radikal yang netral menjadi negatif ketika dilancarkan oleh mereka yang tidak mau menghendaki negara ini maju. Mereka adalah penghamba demokrasi kapitalis dan merasa keberadaannya terancam ketika Islam bangkit.
Saking takutnya terhadap ajaran Islam dan khilafah sehingga berbagai pernyataan yang mengomentari kebijakan penguasa langsung dibungkam dengan dijerat UU ITE ataupun dipecat dari jabatannya. Seperti yang terjadi dengan ASN yang membuat status di media sosial pro khilafah yang langsung dipecat. (m.cnnindonesia.com)
Di sistem demokrasi hak menyuarakan pendapat hanyalah pepesan kosong semata dan lebih berpihak kepada status quo. Mereka tak segan membuat aturan yang hanya menguntungkan ambisi mereka dan ketika ada yang mengkritisi mereka berusaha menyusun berbagai aturan dalam rangka menghabiskan siapa saja yang berani protes atau bersikap kritis.
Sistem demokrasi hanya menciptakan Fir'aun modern mendiktator, menzalimi rakyat dengan kekuasaan serta kekuatan yang dimilikinya.
Jika dibandingkan dengan Islam justru berbanding terbalik. Kenapa? Karena di masa pemerintahan Islam semua pemangku kekuasaan berusaha semaksimal mungkin mendengarkan setiap keluh kesah rakyatnya. Penguasa di sistem Islam siap menerima kritik dan saran tidak menuduh yang bukan-bukan terhadap rakyatnya. Banyak kisah yang menggambarkan pengaduan dari rakyat kepada para khalifah. Seperti pengaduan muslimah kepada Al-Mutasim Billah dimana kehormatan muslimah tersebut di ganggu. Akhirnya dibela. Dan berbagai kisah lain dimasa khilafah tegak.
Mungkin kalau membandingkan kondisi saat sekarang mirip seperti kondisi dimasa jahiliyah bagaimana orang kafir Qur'isy terutama tokoh-tokoh jahiliyah membungkam dakwah Rasulullah di rumah Walid bin Mughirah. Berbagai cap keji diberikan kepada Rasulullah Saw. Mulai dari label tukang sihir, orang gila dan sebagainya. Apakah mereka berhasil membungkam dakwah Rasulullah saw dan mereka berhasil? ternyata sistem jahiliyah pun tumbang dan diganti dengan sistem Islam. Oleh karena itu, kepada para penyeru kebenaran yakinkanlah bahwa cap radikal, teroris, tidak akan mampu menghentikan dakwah. Pertolongan Allah senantiasa akan menghampiri orang - orang yang memperjuangkan tegaknya syariat Islam .
Wallahu a’lam bisshowab