Oleh: Hijriana H Djalil
Bicara soal radikalisme tentu ini bukan istilah asing yang baru didengar ditengah-tengah masyarakat. Ketika mengatakan kata radikalisme semua mata akan menyoroti dan langsung terpikirkan di kepala tiap masyarakat adalah harokah atau organinasi yang ingin menyuarakan penerapan islam secara kaffah. Tentu ini bukan sesuatu yang mengejutkan tersebab hal ini memang menjadi tujuan dari istilah radikalisme itu dijajakan oleh para bedebah, Baut-baut para kapitalis itu dipasaran, agar masyarakat dengan lugunya mengatakan bahwa benar mereka yang ingin syariah islam di terapkan secara kaffah adalah Radikal.
Setelah kontestasi panggung politik yang dihiasi dengan bumbu-bumbu isu radikalsime tak laris manis, kita kembali dikejutkan dengan penusukan pak wiranto yang kembali disebutkan pelakunya terpapar isis juga radikalisme, ciri-ciri pelakunya yah memakai celana cingkrang, jenggotan, muslim, islam. Hadeauh kembali lagi isu radikalisme digoreng lalu dijajakan dipasaran, sayangnya jajan radikalisme ini tak laku lagi tersebab basih tak layak konsumi, tentu karena kepintaran para pembeli, mereka sudah lebih jeli karena sudah dijajakan berulang kali dan tetap saja tak bisa lagi memikat hati para pembeli. Namun sayangnya yang lugu dan mudah dipengaruhi termakan juga dengan opini busuk ini, banyak yang membeli lalu dengan nikmatnya dikonsumsi tak banyak pikir dan timbang-timbang rasa katanya gurih kres-kres padahal berlemak dan mematikan, yah itulah gorengan RADIKALISME.
lalu kita kita kembali dibuat tercengang dengan kabinet baru presiden terpilih bagaimana tidak, semua menteri dengan komando wayang yang sama melakonkan drama “perangi Radikalisme sampai ke akar-akarnya”, tentu ini bukan lakon yang mudah, tersebab para pemainnya adalah orang-orang hebat, ya baut-baut kapitalisme. Padahal jika kita telisik kembali poblematika negeri tentu jauh lebih banyak ketimbang radikalisme yang dijadikan kambing hitam untuk mengalihkan segala isu permasalah pokok negeri ini. Kemiskinan, korupsi, arah pendidikan yang semakin runyam, krisis moral para generasi muda, kisruh di wamena, gempa dimaluku, gerakan separatis yang secara terang-terangan mengancam keutuhan NKRI, dan masih banyak problematika negeri yang tak bisa disebutkan satu-satu, saking banyaknya, luput dari perhatian tuan-tuan berdasi. Mereka malah sibuk bangun narasi untuk menakut-nakuti masyarakat negeri dan berakhir buntu miskin solusi. Begitulah busuknya sistem ala barat demokrasi, melahirkan para pemipin yang culas dan bahkan tak mampu beri solusi baik bagi negeri, maka jangan heran jika kesejahteraan hanya ilusi, kemiskinan masih mengintai dan sekelumit problematika negeri yang jauh dari solusi, tersebab rezimnya hanya sibuk ngurusin radikalisme dan sibuk bangun teror narasi basi terorisme, yah begitulah hidup dinegeri para rezim bedebah, negeri jauh dari rahmat dan berkah karena aturan sang pemilik negeri tak diterapkan, maka sudah seharusnya kita kembali kepada aturannya, dia yang mengerti bagaimana dan apa saja yang dibutuhkan setiap mahluk ciptan-Nya, Rabb semesta alam, ALLAH subhanu wa ta’la, agar kesejahteraan dan segala problematika negeri teratasi. Wallahu alam bishawab.
Tags
Opini
