Oleh : Anjel Fitri (Remaja Ideologis)
Laju perekonomian Indonesia saat ini semakin menurun dan sudah memasuki batas warning, hal ini disampaikan pada Materi presentasi Bank Dunia kepada pemerintah beberapa hari lalu. Dalam materi tersebut dikatakan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus menurun akibat produktivitas yang lemah. Kemudian kondisi current account deficit (CAD) juga disebut semakin terpuruk, hal ini disebabkan karena Indonesia dinilai kurang memiliki produktifitas dan kurangnya pertumbuhan tenaga kerja dalam negeri yang akan mempengaruhi aliran modal asing yang masuk dan keluar dari Indonesia.
Kepala BPS Suryamin mengatakan bahwa, tingkat kemiskinan yang sudah berada di level 11,22 persen terbilang tinggi. "Kalau tidak ada upaya khusus, susah untuk menurunkannya. Seperti di negara Asean lainnya, kalau sudah di level 11 persen menurunkannya tidak mudah,", Senin (15/9).
Menteri Keuangan Sri Mulyani pun tidak menampik adanya risiko resesi ekonomi global. Terlebih, menurutnya geliat ekonomi global sampai dengan 2020 diproyeksikan masih akan melemah. “Resesi itu merefleksikan perekonomian akan mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut dan beberapa Negara yang cukup penting di dunia sudah memasuki (fase) kontraksi,” tutur Sri Mulyani pada 21 Agustus yang lalu (tirto.id)
Penduduk miskin paling banyak berada di pedesaan yang berjumlah 17,94 juta orang. Sedangkan di perkotaan tercatat sebanyak 10,65 juta orang. Padahal Indonesia kaya akan sumberdaya alam, Indonesia sebagai negara kepulauan memang memiliki sumber daya alam yang begitu luar biasa melimpah. Tanah yang begitu subur, posisi geografis dan iklim tropis menjadikan tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya.
Faktanya perekonomian yang dirasakan rakyat sekarang sangatlah mencekik, bagi kalangan bawah lagi-lagi oleh ulah kapitalisme yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin, sistem ekonomi yang tidak berkeadilan. Kapitalisme membiarkan persaingan bebas antar individu didalam kegiatan ekonomi. Karena pada kualitas fisik, kecepatan berfikir, dan kualitas mental tiap individu ada yang kuat dan ada yang lemah, persaingan bebas akan menyebabkan yang kuat mampu mensejahterakan dirinya, sementara yang lemah tidak bisa mendapatkan kesejahteraan.
Fakta-fakta yang jelas di depan mata, bobroknya sistem kapitalis liberal yang membawa rakyat dalam penderitaan, dan aspek kehidupan yang bergejolak dengan pemikiran yang jauh dari nilai budi pekerti/agama yang di realisasikan oleh penguasa di negeri ini sangatlah jelas di depan mata.
Kita sebagai seorang muslim, yang memandang fakta yang terjadi di tengah-tengah umat saat ini, dengan kaca mata Islam, akan sepakat bahwa sistem kapitalis liberal hanya membawa kehancuran dan kesengsaraan, serta merendahkan martabat manusia.
Jika demikian, untuk apa masih berharap pada demokrasi? Saatnya mencampakkan demokrasi dari negeri ini dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik. Sistem yang lahir dari kesadaran hubungan manusia dengan Allah, sebagai Pencipta dan Pengatur Karena sistem ini telah terbukti menjadikan manusia memiliki peradaban maju dan unggul.
Sistem inilah yang disebut dengan sistem Islam Kaffah dalam Naungan Khilafah. Yang telah terbukti mampu menyejahterakan manusia selama 14 abad. Sistem ini pula yang telah menguasai hampir 3/4 belahan dunia. Menjadi pusat berpikir dan arah pandang negara-negara lain. Karena lahir dari Sang Pencipta, maka sudah jelas mampu membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs Al-Anbiya [21]: 107)
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar (surga) dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (Qs Nisa [4]: 175)
Wallahu a’lam bishshowab.