Oleh : Ega Sintia
Film terbaru Livi Zheng, The Santri baru-baru ini menuai reaksi dari Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), Hanif Alathas, yang juga menantu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab. Menurut Hanif, film itu tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya. Atas faktor tersebut, dia meminta kepada para santri dan para jemaah agar tidak menonton film The Santri yang akan tayang pada Oktober mendatang. (cnnindonesia.com)
Film yang digadang-gadang sebagai bentuk rasa toleransi terhadap ummat beragama ini, kini kembali viral setelah cuplikan trailernya ditayangkan. Namun, sejak awal kemunculan film ini sudah banyak netizen yang menentang isi dari film ini. Hal ini mencuatkan amarah ummat islam terutama para santri, karena isi film ini jauh dari kesan santri yang sesungguhnya.
Bagaimana tidak, film The Santri seharusnya memberi karakter santri yang berakhlak mulia dengan berpegang teguh pada syariat Allah SWT. Justru tanpa sadar film ini mengandung unsur pemurtadan aqidah secara terselubung. Dengan menggaet sutradara hollywood yang jelas-jelas seorang kafir, buta ajaran islam, tapi disuruh menyutradarai film Islami. Maka tidak aneh jika isi dari filmnya pun diliberalisasi olehnya. Seharusnya film Islami seperti ini dari awal pembuatan sudah dikontrol oleh mereka yang paham tentang syariat Allah, sehingga tidak ada penyelewengan di dalamnya.
Bukan hanya itu, ikhtilath dan khalwat antara pemerannya pun tak terhindarkan, bukankah sudah jelas Allah telah melarang kita berdua-duaan dengan lawan jenis baik itu dalam keadaan sepi atau ramai. Kemudian Allah juga melarang campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya kecuali dalam 3 hal, yaitu pendidikan, kesehatan, dan jual beli. Nyatanya hal dasar seperti ini pun masih dilanggar, yang sepatutnya merekalah yang paling tahu tentang hal ini.
Saling menghargai dengan umat beragama bukan berarti kita ikut dalam peribadatan mereka, maka kata toleransi dirasa tidak tepat disematkan dalam film ini. Seharusnya kita sebagai ummat Islam akan merasa risih dengan salah satu adegan santriwati yang masuk ke gereja memberikan tumpeng kepada Pendeta. Karena dalam Islam melarang secara mutlak seorang muslim masuk ke dalam gereja tanpa adanya maksud dan tujuan tertentu.
Ulama yang berpendapat ini memberikan pengecualian untuk bisa masuk gereja jika terpenuhi beberapa syarat:
-Adanya maslahat bagi agama Islam, misalnya dalam rangka berdakwah atau berdebat dengan orang Nasrani agar mereka masuk Islam.
-Tidak menimbulkan perbuatan haram, misalnya basa-basi dalam kemaksiatan mereka.
-Berani menampakkan jati diri keislamannya di hadapan orang kafir.
-Tidak menyebabkan orang awam tertipu karena mengira bahwa dirinya setuju dengan agama orang Nasrani. (Fatwa Lajnah Daimah, 2:339 dan Fatwa Syaikh Dr. Nashir bin Sulaiman di Majalah Ad Da’wah edisi 1930, Dzulhijjah 1424 H).
Dan murka Allah turun pada saat peribadatan mereka dan di tempat ibadat mereka. Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, "Hati-hatilah kalian dari bahasa orang kafir dan janganlah kalian masuk bersama orang muyrik pada saat peribadatan mereka di gereja mereka, karena pada saat itu dan di tempat itulah murka Allah sedang turun.” (HR. Abdur Razaq dalam Al Mushannaf no. 1608, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro, 9:234 dan dinilai kuat oleh Al Bukhari dalam At Tarikh).
Dikutip dari video di youtube, pendapat Buya Yahya tentang film the santri beliau mengatakan bahwa "kalau film ini tak menampakkan karakter santri yang sesungguhnya, yang rusak banyak. Di mata ummat ini semuanya membaca seolah-olah pesantren seperti itu, karena dia menampilkan wajah pesantren dengan cara yang salah. Kalu dia ingin membuat film tentang pesantren cari referensi-referensi yang betul-betul menampilkan masanya di situ ada akhlak yang mulia. Baru nanti benar sebagai pesantren/film yang akan menampilkan dunia pesantren dan akan diterima oleh masyarakat."
Maka, bijaklah dalam memilih film karena terkadang ada banyak film yang bernuansa Islam tapi terselip propaganda nyeleneh di dalamnya. Dengan dalih pencegahan radikalisme dan terorisme justru dia sebagai penentang syariat yang nyata.
Wallaahu a'lam bi ashshawaab
