Oleh : Nurul Miftahul Jannah
(Siswa SMAN 1 Donggo)
"Bagaikan tikus mati di lumbung padi".
Kurang lebih seperti itulah gambaran yang cocok untuk papua saat ini. Papua dianggap daerah terbelakang ditengah sumber daya alam yang melimpah ruah. Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini masih hangat di telinga kita tentang separatisme yang dilakukan Papua. Berawal dari cacian yang dilakukan oleh mahasiswa di Jawa hingga berakhir dengan isu referendum Papua.
Isu Bumi Cendrawasi ini sekali lagi membuktikan ketidakmampuan negara memberikan solusi yang hakiki untuk Papua. Negara tidak mampu membaca akar masalah sebenarnya.
Belum berakhir masalah di Papua saat ini negara sibuk melakukan pengurusan pemindahan ibu kota. Negara tidak mempedulikan nasib bangsa ini. Bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru.
Problem papua muncul akibat ketidakadilan ri'ayah penguasa. Papua dianaktirikan, anak-anak papua dicederai pengetahuanya, agar tidak keluar dari zona nyamannya. Agar mereka tidak menyadari akan melimpah ruahnya sumber daya alam ditanah kelahiranya. Itulah mengapa Papua terus melakukan pemberontakan, bahkan ingin melepaskan diri dari negara Indonesia.
Dibalik isu Papua merdeka, lagi lagi umat islamlah yang dikambing hitamkan. Di lansir dari Kompas.com Ryamizard Ryacudu selaku menteri pertahanan mengatakan, ada kelompok yang terafiliasi dengan Islam Irak dan Suriah atau ISIS di Papua.
Sebenarnya siapa provokator Papua merdeka? Apakah benar orang-orang islam? Ataukah masyarakat papua itu sendiri? Ternyata yang ada dibalik isu itu adalah peran kelompok liberal yang dibacking asing untuk melepas papua dari indonesia. Negara kafir barat memprovokasi masyarakat papua untuk melakukan referendum. Teringat pada tahun 2000, Papua Barat mengadakan kongres nasional Papua Barat yang menginginkan keluar dari NKRI kemudian membentuk negara baru. Kongres tersebut tidak hanya dihadiri oleh warga Papua, negara-negara asing seperti AS, Australia, Afrika dan negara-negara lain ikut hadir didalamnya (m.republika.co.id, 24/2/2017).
Ini membuktikan bahwa ada keterkaitan negara -negara pemilik modal dalam kasus Papua merdeka. Dengan papua melepaskan diri dari Indonesia maka dengan mudah negara-negara kafir Barat untuk menjajah dan menguasai sumber daya yang ada di Papua.
Mudahnya negara-negara kafir Barat melakukan provokator akibat dari penerapan sistem pemerintahan dan ekonomi yang melahirkan ketimpangan dan hilangnya kedaulatan dihadapan rakyat dan negara-negara asing. Dengan sistem kapitalisme yang ada sekarang ini, negara-negara pemilik modal bisa bebas melanggengkan kekuasaan dan menjajah negeri-negeri muslim.
Semestinya Indonesia memberikan solusi untuk masalah Papua. Seperti yang kita ketahui bersama Papua ingin melepaskan diri dari Indonesia bukan hanya pada kepemimpinan Jokowi akan tetapi mulai dari kepemimpinan Soeharto. Ini membuktikan bahwa pergantian pemimpin bukanlah solusi dari masalah Papua. Adanya masalah papua itu karena negara menerapkan sistem kapitalisme yang memberi ruang pada negara-negara kafir barat untuk melakukan provokasi.
Problem Papua akan selesai manakala diterapkan sistem berkeadilan dan menjamin persatuan berdasarkan ikatan yang benar. Marilah kita melirik dari diterapkannya sistem islam. Selama kurang lebih 13 abad sistem islam di bawah naungan khilafah menguasai 2/3 dunia. Masyarakat hidup aman damai di bawah kepemimpinan islam. Bahkan tercatat hanya sekitar 300 kasus kejahatan selama masa kekhilafah itu berlangsung. Itu membuktikan hanya sistem islamlah yang mampu mensejahterakan dan menyatukan penduduk. Karena sistem khilafah mempunyai dua fungsi penting yaitu sebagai pengurus dan perisai umat. Sistem khilafah juga adalah sistem yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Jadi jangankan untuk menyatukan Papua, bahkan untuk menyatukan seluruh negara-negara di dunia ini mampu dilakukanya.
Wallahu A'lam.
