Oleh : Heni Kusmawati, S.Pd
Sudah jatuh tertimpa tangga. Beginilah kondisi rakyat Indonesia saat ini. Musibah yang datang bertubi-tubi. Bencana alam seperti gunung meletus, kebanjiran, kabut asap, konflik antara suku seperti yang terjadi di Papua dan musibah-musibah lain. Kemudian ditambah dengan kenaikan iuran BPJS dua kali lipat.
Menurut Moeldoko selaku kepala staf kepresidenan, kenaikan iuran BPJS tersebab keuangannya selama ini tidak mencukupi apalagi sehat itu mahal. Untuk itu, butuh perjuangan (CNN Indonesia).
Menanggapi kenaikan BPJS, menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan, bahwasannya hal itu tidak menyusahkan rakyat miskin, justru pemerintah sering membantu rakyat kecil. Menurutnya, pemerintah masih menanggung iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk 150 juta orang yang masuk dalam Penerima Bantuan Iuran (PBI) pemerintah pusat sekitar 96 juta dan PBI Pemerintah daerah sekitar 37 juta serta Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau masyarakat biasa yang bukan pegawai pemerintah sebanyak 17 juta jiwa (CNBC Indonesia).
Memang benar, pemerintah telah memberikan bantuan kepada rakyat yang tergolong tidak mampu. Tetapi bantuan tersebut hanya didapatkan oleh orang-orang tertentu. Penerima bantuan pun bukanlah benar-benar orang yang tidak mampu, pelayanan yang didapatkan juga berbeda karena mereka yang tergolong PBI ditempatkan dalam pelayanan kelas 3, berbeda dengan pelayanan di kelas 1 dan 2.
Adapun yang tidak menerima bantuan iuran dari pemerintah, mereka harus membayar sendiri iuran kesehatan. Mungkin bagi yang memiliki ekonomi tinggi tidak masalah jika harus membayar iuran BPJS, tapi bagaimana dengan yang berekonomi menengah dan rendah? Jangankan untuk membayar iuran BPJS per bulan, untuk sekedar makan saja mereka harus membanting tulang untuk memenuhinya. Belum lagi biaya kebutuhan hidup semakin mahal.
Seharusnya pemerintah, jika benar-benar ingin membantu, maka kebutuhan dasar rakyatnya harus digratiskan, diberikan pelayanan yang memadai.Tetapi hal itu tidaklah mungkin kita dapati di negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekulerisme yang memisahkan urusan agama dengan negara. Sistem yang melahirkan para pejabat negara yang berakhlak buruk, tidak berempati terhadap rakyat serta melepaskan tanggung jawab terhadap mereka. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh negara.
Mengutip dalam pasal 1 ayat 1 UU No. 24 tahun 2011, BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Dimana wewenangnya adalah menagih pembayaran dari masyarakat, pengelolaannya, hingga pengelolaan pelayanan itu sendiri. Ini menunjukan bahwa BPJS ini sengaja dibuat untuk mengalihkan fungsi negara dalam memenuhi seluruh kebutuhan rakyat termasuk kesehatan menjadi tanggung jawab lembaga yang bernama BPJS.
Ibarat bumi dengan langit, begitulah perbedaan sistem kapitalisme liberal dengan sistem islam. Dalam islam, negara berfungsi meriayah dan menjaga umat melalui penerapan sistem islam. Diantaranya menjamin kesejahteraan bagi rakyat termasuk kesehatan dengan murah bahkan gratis. Karena pemerintah diberikan amanah oleh Allah SWT untuk bertanggung jawab penuh dalam menjamin seluruh kebutuhan rakyat termasuk kesehatan. Setiap rakyat diberikan secara cuma-cuma dengan pelayanan terbaik tidak hanya bagi orang miskin tetapi orang kaya pun akan diberikan hak yang sama. Rasulullah bersabda :
"Imam atau khalifah yang menjadi pemimpin manusia adalah laksana penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap urusan rakyatnya" (HR. AL-Bukhari).
Pada masa kejayaan islam, jangankan orang sakit, yang berpura-pura sakit pun dilayani secara gratis. Saat itu, seorang masuk di rumah sakit dan berpura-pura sakit. Dokter pun mengetahui bahwa pasien tersebut pura-pura sakit, sang dokter tersenyum dan pura-pura mengobatinya. Hingga di hari ketiga di rumah sakit, kepada pasien tersebut diberikan sejumlah uang yang cukup baginya untuk mencari pekerjaan.
Selain itu, pada masa kejayaan islam juga hampir di setiap kota terdapat rumah sakit serta tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan dan lain-lain. Rumah sakit yang berkualitas dan memadai.
Wallahua'lam.
