Renungan Jiwa




Oleh : T2N (AMK) 

Jiwa - jiwa pengemban dahwah adalah pejuang peradaban Islam yang menjadi pelopor kebangkitan umat Islam. Mereka tidak pernah mundur selangkahpun untuk memperjuangkan Islam secara kaffah. Karena mereka tahu dan mengerti kenapa ia rela menjadi pengemban dakwah karena punya kedudukan sangatlah mulia. 

Seperti pada sistem syaraf,  pengemban dakwah adalah jaras.  Yang posisinya pada ujung - ujung syaraf yang akan berubah warna ketika ada self aktivitas. Pengemban dakwahpun demikian.  Posisi mereka ada di ujung tombak keberhasilan dakwah. Akan nampak bila ada kemauan niat yang ikhlas karena ingin berjuang. Pastilah nampak dalam sikap dan perilakunya. 

Bagaimana syaraf bisa bekerja sempurna, salah satu pendukung adalah nutrisi atau asupan makanan.  Untuk itu seorang Pengemban dakwah harus tangguh,  harus energig,  harus cerdas, harus punya visi dan misi yang jelas. Harus berilmu karena yang disampaikan adalah Ilmu. Harus punya Intelektual agar dapat dengan mudah memilih dan memilah perkara dan upaya penyelesaiannya secara cemerlang. 

Rela kehilangan kesempatan untuk tidak berfoya - foya,  karena mereka tahu itu hanya fatamorgana. Senatiasa mencari peluang dimana mereka bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan. 

Yang tidak kalah pentingnya sistim syaraf juga punya keistimewaan dari yang Maha Kuasa. Ia punya sistem plastisitas yakni pemulihan kembali secara special . Yang namanya platisitas. Yaitu penyambungan syaraf kembali dengan cara mengupayakan dari pasien itu sendiri untuk bisa bergerak sendiri "kemauan" untuk sembuh. Sembuh dengan hebbit yang baru. Merubah paradigma pemahaman yang keliru tentang Islam, menuju pemahaman sempurna dari akar hingga pucuk daun. Membangun opini kemuliaan Islam, menjadikan Islam bukan hanya sekadar agama namun Islam adalah Idiologi. Yang harus diketahui oleh umat.

Seorang pengemban juga harus punya selftalk, niat ikhlas karena Allah dan cara yang ditempuh sesuai dengan ajaran yang sudah Allah tentukan. Untuk tujuan akhir JannahNya. Sehingga tidak akan pudar dan lemah, akan senatiasa menyemangatinya dalam perjuangan menuju kemenangan Islam. Sehingga Islam  senantiasa berkembang dan tegak dengan  kokoh diatas syariat Islam secara kaffah. Itulah yang akan dicapai. 

Upaya maksimal para pengemban dakwah adalah mempunyai habbit, yakni tidak pernah menyia -nyiakan waktu. 24 jam sudah penuh dengan jadwal yang sudah terpasang tiap harinya, tiada hari tanpa bermanfaat. 
Nutrisi pengemban dakwah adalah tolabul Ilmi yang menjadi kewajiban yang tidak boleh ditinggaalkan.

Wallohu'alam bish shaw-wabb

#PenulisIsiologis
#InginTerusBerupaya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak