Oleh: Yusriani Rini Lapeo, S.Pd.
(Pemerhati Sosial/Komunitas WCWH)
“Pada moment-moment iklim perpolitikan hari ini, yang sangat begitu krusial, yang semakin hari membuat kegaduhan disana-sini, kerap menjadi tontonan menarik dan menjijikan jauh dari kata lucu. sehingga rakyat dibuat kebingungan mencari intisari dari problematika yang sedang terjadi di Indonesia. sebetulnya apa sedang mereka ributkan, apa yang sebetulnya mereka inginkan? tak pernah ada ujungnya, dan tak pernah ada tepinya, mereka terus mencari dan merusak bumi pertiwi. Upaya mereka dalam mencari kekuasaan sangatlah keji jauh dari kata mulia, memerangi dan memusuhi sesama kawan hingga dampaknya kian melebar dan tetap yang menjadi sasaran adalah rakyat indonesia.” (Kompasiana.com)
Sebuah ungkapan pilu, yang pantas terucap dari hati masyarakat kecil. Memang, akhir-akhir ini polemik Papua yang terjadi di tengah para petinggi negara, masih saja simpang siur dan tak pernah memberi problem solving. Perlahan, sebuah drama baru yang diciptakan dan dipertontonkan oleh para penguasa petinggi negeri sungguh tidak elok.
Beranjak dari kisruh yang terjadi dengan saudara kita di Papua, atau dimanapun mereka berada, ternyata begitu banyak problem baru yang saat ini sedang booming. Seperti yang terjadi di luar negeri, dalam hal ini kondisi panas yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara.
Menyoal kondisi tersebut, Megawati sebagai salah satu Ketua Fraksi DPP PDI Perjuangan, saat berada di Seoul dalam rangka mengikuti DMZ International Forum on the Peace Economy, yang digelar pada 28-29 Agustus, pun turut berkomentar atas masalah yang terjadi antara kedua negara itu.
Dilansir dari Detiknews.com. Menurut Megawati, Pancasila bisa menjadi solusi atas kondisi yang saat ini terjadi di Korsel dan Korut. “Jadi saya paling tidak sedang mengikuti keinginan-keinginan dari kedua belah pihak. Dan saya menawarkan Pancasila untuk bisa dipergunakan sebagai landasan mempercepat proses yang sudah terjadi," ujar Megawati. (Detiknews.com, Rabu, 28/8/2019)
Untuk Siapa Sebuah Ideologi itu?
Sungguh pernyataan yang cukup aneh. Dengan pernyataan demikian, sepertinya kita masih perlu banyak belajar dan menelaah problem, yang saat ini masih belum terselesaikan di negeri kita sendiri. Bertapa tidak, bagaimana mungkin kita melupakan krisis yang terjadi saat ini di Papua, bahkan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, agama, kesehatan dll, kita tidak bisa menyelesaikan dengan sistem yang ada saat ini.
Apalagi, memberikan solusi Pancasila kepada negara lain adalah sebuah kekonyolan yang dipertontonkan. Jangankan mengurusi konflik dalam skala Negara, skala individu saja kita masih perlu bertele-tele dan butuh proses yang panjang. Pertanyaannya, apakah saat ini ideologi yang kita anut sudah mampu menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi sendiri saat ini?
Jawabannya adalah tidak, mengapa? Karena sesungguhnya ideologi yang kita anut saat ini, hanyalah sebagai alat untuk menjadikan seseorang yang berkepentingan berada dalam zona nyaman dan tidak tersandung dengan hukum. Terbukti, dengan adanya berbagai pelanggaran yang dilakukan dalam jajaran pemerintah seperti, korupsi, penistaan agama, kebebasan bersuara dan berekspresi, dll.
Bahkan, yang terjadi jika mereka tersandung hukum dengan mudahnya mereka akan berkata paling Pancasila dan paling NKRI. Padahal, merekalah yang merusak ideologi bangsa dengan berbagai kejahatan yang terselubung. Menjual aset negara kepada asing pun, dan menaikkan harga-harga kebutuhan ekonomi hingga masyarakat semakin tercekik, juga merupakan kejahatan yang dilakukan oleh penguasa yang membuat ideologi bangsa ini hancur dan terpecah belah.
Pun konflik Papua, justru bukti bahwa bangsa ini butuh ideologi pemersatu yang hakiki yang bisa melahirkan aturan yang berkeadilan. Karena sejatinya, ideologi harus menjadi perisai untuk melindungi sebuah negara dan masyarakat
Ideologi dalam Perspektif Islam
Hakikat ideologi, adalah cara pandang menyeluruh tentang kehidupan (akidah) yang melahirkan aturan bagaimana mengatur kehidupan tersebut. Dan islam adalah ideologi yang benar, dan akan melahirkan aturan kehidupan yang benar dan berkeadilan.
Ideologi Menurut Taqiyuddin An Nabhani adalah aqidah aqliyah (akidah yang lahir dari sebuah proses berpikir secara rasional) yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran menyeluruh yentang alam semesta, manusia dan hidup serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, disamping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Dan mencangkup dua bagian yaitu, fikrah (ide) dan thariqah (metode).
Sedang peraturan yang lahir dari aqidah, tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban ideologi. dengan demikian, tatkala kita menyebutkan istilah “Ideologi Islam” sesungguhnya kita telah memelihara substansi Islam itu sendiri –yaitu Aqidah dan Syariah— tanpa mengurangi atau menambahinya sedikitpun. Aqidah dan Syariahnya itu tetap ada. Hanya saja, kita meletakan keduanya dalam kerangka berfikir ideologis, untuk menghadapi situasi konstektual umat saat ini, yang menganggap Islam sebagai “agama” dalam pengertian Barat yang sekuler.
Islam bisa dipastikan sebagai satu-satunya ideologi, yang mewajibkan Seseorang mengimani bahwa ada Pencipta, yang telah telah menciptakan alam Semesta, manusia dan kehidupan dari ketiadaan. Pengakuan atas keberadaan Pencipta menjadi landasan masuknya orang tersebut ke dalam ideologi ini. Dan mewajibkan akal manusia untuk mengimani keberadaan sang Pencipta
dengan keimanan yang bersumber dari akal (pemikiran).
Allah SWT berfirman: yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” Ayat ini mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dengan cara yang benar, agar bisa mencapai hakikat alam semesta, manusia dan kehidupan, dan agar bisa menguraikan simpul besar dengan penguraian yang bisa memuaskan akal, dengan cara meneliti secara mendalam dan berfikir secara cemerlang mengenai segala sesuatu termasuk apa yang ada sekelilingnya dan yang berkaitan dengannya.
Untuk mencari bukti atas beberadaan sang Pencipta yang Maha Pengatur, sehingga keimanannya terhadap keberadaan sang Pencipta menjadi iman yang kokoh, karena berdasarkan akal (pemikiran) dan bukti.
Islam telah menjadi satu-satunya ideologi yang bisa memuaskan akal,karena mewajibkan manusia untuk menggunakan akal dan pemikirannya dalam memecahkan problematika kehidupan. Islam juga menjadi satu-satunya ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia tatkala mewajibkan manusia meyakini keberadaan Allah SWT. Dalam hal ini Islam telah sesuai dengan fitrah manusia, yang merasa lemah, serba kurang dan membutuhkan sang pencipta. (Taqiyuddin An Nabhani, Peraturan Hidup Dalam Islam) Wallahu'alam
Tags
Opini
