Oleh : Annisa Siti Rohimah
(Aktivis Mahasiswi)
Berbicara tentang hijrah, saat ini menjadi perkataan yang sering kali kita dengar. Kata hijrah bisa disebut sebagai trend masa kini atau fenomena sosial. Karena, tidak hanya kalangan orang-orang dewasa dan generasi millenial saja, bahkan banyak para artis atau public figure yang berbondong-bondong untuk hijrah, dari selalu melakukan maksiat menjadi selalu berusaha untuk memperbaiki diri, baik merubah penampilan, tingkah laku, dan senantiasa mengikut kajian-kajian keislaman. Selain itu, di media sosial seperti facebook, instagram, dan jagat maya lainnya sering kali kita temui kampanye-kampanye hijrah, seperti gerakan anti pacaran, gerakan xbank indonesia dan lain sebagainya.
Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, untuk "berpindah" menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan keta’atan dalam menjalankan syariat agama. Rasulullah SAW bersabda :
“.....seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah larang atas dirinya (HR. Al bukhari, abu dawud, an-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan al humaidi)
Dalam meninggalkan apa yang Allah larang dan mengerjakan syari’atnya, umat islam tidak cukup hijrah dengan hanya merubah penampilan dalam berpakaian saja, meninggalkan ribawi, atau hanya fokus mengkaji tentang akhlak untuk kebaikan diri atau pada tataran individu saja. Tetapi, hijrah pada tataran masyarakat yakni hijrah mewujudkan tegaknya negara super power yang dulu pernah menguasi 2/3 dunia yaitu tegaknya kembali daulah Khilafah alaa minjahin nubuwwah. Hijrah mewujudkan khilafah ini, belum semua umat manusia melakukannya, atau bahkan melupakannya, karena masih ada segelintir umat islam yang meyakini bahwa tegaknya khilafah bak mimpi di siang bolong atau beranggapan masih betah dengan berpegang teguh kepada sistem sekuler yang padahal sudah sangat jelas menyengsarakan umat manusia di tanah yang bergelimang kekayaan alam ini.
Fenomena-fenomena permasalahan yang terjadi silih berganti di negeri yang kita cintai ini, seolah-olah tak ada hentinya. Kemiskinan dan pengangguran yang belum juga berakhir. Kriminalisasi dan fitnah kepada para ulama yang tak ada henti-hentinya. Umat juga telah krisis akhlak dalam bersikap dan berprilaku seolah-olah tak mempunyai aturan atau syari’at untuk mengatur semua hal itu. Liberalisme yang terus menerus merusak akhlak umat, sehingga rakyat bebas menyuarakan pendapat meskipun bertentangan dengan hukum syara’, sebagai contoh akhir-akhir ini munculnya pendapat menghalalkan perzinaan yang dituangkan dalam desertasi. Naudzubillahimindzalik.
Sebetulnya, masih banyak permasalahan-permasalahan yang menimpa negeri ibu pertiwi yang kita cintai ini, sungguh sangat miris jika melihat fakta-fakta yang sekilas telah dipaparkan di atas. Dari fenomena krisis akhlak sampai banyak jiwa-jiwa manusia yang didzolimi oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Rakyat yang terus menerus menanggung beban hidup tanpa adanya peri’ayahan yang benar dari penguasa. Kemungkaran penguasalah yang paling besar menimbulkan keterpurukan umat.
Melihat dari fenomena-fenomena yang sangat miris tersebut, tentu hijrah mewujudkan daulah khilafah sudah menjadi kepentingan yang mendesak, sebab kerusakan sistem sekuler semakin nampak nyata dan dirasakan keburukannya oleh umat.
Hijrah mewujudkan Khilafah ini sudah menjadi kewajiban kita semua menjadi umat muslim di seluruh dunia.
Bertepatan dengan tahun baru Islam 1441 H, tentunya disambut dengan meriah oleh para umat muslim di seluruh dunia. Seharusnya, tahun baru Islam ini dijadikan momentum penerapan syari’ah kaffah pembawa rahmat dan berkah bagi seluruh alam semesta. Seperti yang terlihat di jagad dunia maya twitter pada 1 Muharam kemarin, hastag dibanjiri dengan hijrah dan khilafah. Tidak cukup hanya di jagat maya saja, seruan Hijrah dan Khilafah juga diserukan diberbagai kota di seluruh Indonesia dalam pawai menyambut tahun baru Islam. Tentu saja momentum tahun baru ini sudah layaknya kita hijrah pada kehidupan hakiki yang Allah ridhoi di tahun baru Islam ini. Karena Khilafah merupakan jawaban serta keniscayaan atas seluruh problematika yang mendera negeri ini dari sistem kapitalis sekuler.
Khilafah merupakan janji Allah, kedatangannya bagaikan matahari terbit di pagi hari, tak akan ada satu pun yang bisa mencegahnya. Sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits yang sudah kita kenali, “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad).
Saatnya umat Islam berjuang, menyongsongnya dengan menggencarkan dakwah Islam kaffah. Sudah seharusnya kita hijrah dari sistem kufur yang menyengsarakan umat manusia, ke dalam sistem Islam penerapan syariah kaffah yang dapat memecahkan seluruh problematika kehidupan, dengan bersumber kepada kitabullah dan sunnah Rasul. Jelas lah kewajiban menegakan khilafah adalah fardhu atau kewajiban kita semua. Berdiam diri tidak berjuang menegakan khilafah adalah suatu kemaksiatan bagi seorang muslim.
Maka dari itu, sudah saatnya momentum tahun baru Hijriyyah ini kita semua bergandengan tangan meninggalkan sistem jahiliyyah menuju sistem Islam Kaffah dalam isntitusi pelaksana syariah yaitu daulah Khilafah alaa minjahin nubuwwah. Karena hijrah individu saja tak kan cukup, hijrah harus bersamaan secara keseluruhan, menuju keta’atan kepada Allah secara total. Layaknya berjuang sendirian tak seindah berjuang bersama-sama. Wallahu’alam bi shawab.
