Tragis, apa yang dialami 29 perempuan yang tercatat oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Mereka menjadi korban pengantin pesanan China. Mereka terperangkap dalam modus Human Trafficking. Mereka dikenalkan dengan pria asal china yang katanya kaya raya. Lalu diimiing- imingi akan dijamin seluruh kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Keluarga korban juga diberi sejumlah uang agar mau menikahkan anak mereka. Lalu, para wanita ini diboyong ke China. Dipaksa pekerja di pabrik dengan waktu kerja panjang. Dan seluruh hasil kerja dikuasai suami (23/06).
Kemiskinan adalah faktor penyebab utama mudahnya para wanita ini menjadi korban TTPO. Gagalnya pemerintah dengan sistem kapitalisnya mensejahterakan rakyat, membuat banyak keluarga di negeri ini harus hidup dibawah garis kemiskinan. Sementara sumber daya alam yang melimpah hanya dikuasai oleh segelintir orang. Maka tak berlebihan jika pepatah " Tikus mati dilumbung padi”, disematkan untuk bangsa ini.
Beda halnya dengan Islam. Islam sebagai sistem yang agung. Menjadikan kewajiban pemenuhan nafkah bagi perempuan, dibawah tanggung jawab ayahnya dan jika sudah menikah maka ditangung suaminya. Jika Ia janda maka akan diserahkan kepada kerabatnya yang mampu menanggungnya. Dan jika tak ada, maka kesejahteraan perempuan diambil alih oleh Negara.
Negara dengan sistem ekonomi Islam akan mengatur kepemilikan harta dengan baik. Hingga tidak akan ada eksplorasi segelintir orang atas harta yang menjadi hajat hidup orang banyak. Negara akan mengelola kekayaan alam dan menyerahkan seluruh hasilnya semata- mata untuk kesejahteraan rakyatnya, termasuk didalamnya perempuan. Hingga tak ada alasan bagi perempuan untuk terjebak dalam modus human trafficking hanya dengan dalih kemiskinan.
Lina Revolt
Wolio, Sulawesi Tenggara
Tags
surat pembaca
