Rekonsiliasi, Inikah Solusi?



Oleh Afifah Nur Jannah (Komunitas Perindu Surga)

Usai pemilu terbitlah rekonsiliasi, ini mengambarkan suasana perpolitikan sekarang pasca pilpres 2019. Dalam perhelatan pesta demokrasi periode ini, menimbulkan polarisasi masyarakat yang sangat tajam antara pendukung paslon 01 dan paslon 02, sehingga rekonsiliasi ini dirasakan perlu untuk meredam gejolak di masyarakat. Akibat adanya isu rekonsiliasi ini membuat sebagian masyarakat terutama massa pendukung paslon 02 berang dan menolak isu rekonsiliasi tersebut, bahkan melakukan aksi massa untuk menuntut kepada paslon 02 tidak melakukan rekonsiliasi Detiknews, Jum’at (12/6).
Adanya pertemuan Jokowi-Prabowo  pada Sabtu, 13 Juli 2019 di MRT Lebak Bulus yang menandai terjadinya rekonsiliasi CNN, Sabtu (13/6), membuat massa pendukung kubu 02 terkhianati terutama untuk umat islam itu sendiri. Pasalnya pidato Prabowo yang mengatakan tidak akan meninggalkan rakyat Indonesia bahkan akan bersama rakyat Indonesia sampai titik darah penghabisan terkait penolakan perhitungan suara curang hingga sebut pemerkosaan demokrasi Tribunnews, Rabu (15/5). 
Menelisik dari isu rekonsiliasi ini, ada beberapa poin penting yang menggambarkan pertemuan kedua kubu paslon ini, mulai dari isu untuk menyatukan masyarakat yang terpecah belah maupun isu bagi-bagi kursi. Kalau dilihat dari isu rekonsiliasi untuk menyatukan kembali masyarakat akibat adanya polarisasi pasca pilpres dikira tidak cukup kuat karena persatuan itu tidak akan tercapai ditengah istilah “cebong dan kampret” ini masih saling menghujat dan mempertahankan keyakinannya akan kesahihan kemenangan dalam pilpres tersebut. Persatuan masyarakat tidak akan terjadi jika massa pendukung paslon 02 masih merasa tercurangi, bahkan menuntut keadilan tersebut sampai kasus ini bergulir ke sidang MK. Sehingga sangat riskan dimana elit politik paslon 02 mengambil langkah rekonsiliasi di tengah kondisi masyarakat menolak rekonsiliasi tersebut, karena ini menunjukkan bahwa kubu 02 mengakui kemenangan paslon 01 sebagai kemenangan yang sah tanpa kecurangan yang bertolak belakang dengan keyakinan masyarakat. Padahal masyarakat telah mengambil sikap tetap akan mendukung paslon 02 apapun yang terjadi walaupun berada dalam barisan oposisi. Kalaupun ada yang beranggapan dengan adanya rekonsiliasi ini maka janji-janji politik paslon 02 akan terealisasi itu tidak akan terjadi, karena paslon 02 membutuhkan kekuasaan untuk merealisasikan janji tersebut, sedangkan kekuasaan itu berada pada paslon 01 yang memenangkan pilpres tersebut.
Demikian pula mengenai isu rekonsiliasi ini berujung kepada bagi-bagi kursi kekuasaan, maka ini akan menjadi perhatian khusus, walaupun peluang tersebut masih terbuka lebar bagi paslon 02 untuk merapat ke paslon 01, dilihat dari partai pengusung prabowo dalam hal ini Gerindra memiliki jumlah kursi terbanyak di parlemen periode mendatang, ini dinilai akan memperkuat posisi petahana di pemerintahan tergantung tawaran apa yang akan disepakati nanti, maka sebenarnya yang akan di untungkan dalam hal ini adalah petahana dalam hal ini paslon 01 kalau koalisi tersebut terjadi. 
Dengan gambaran ini sejatinya kepentingan rakyat tidak akan terwujud, yang akan terwujud hanya kepentingan partai dan golongan dengan diberlakukan koalisi tersebut. Adanya politik pragmatis  membuat rakyat merasa terkhianati dengan segala usaha yang telah mereka perjuangkan sebelumnya, maka tak heran kalaupun merapatnya kubu 02 ke petahana tidak akan menyurutkan semangat rakyat untuk tetap berada di seberang jalan yang bertentangan dengan penguasa saat ini, karena sejatinya  mereka membutuhkan penguasa baru yang dapat mewujudkan harapan mereka yang tidak akan mereka dapatkan di masa pemerintahan sekarang.
Wallahu a’lam bishowab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak