Oleh: Chezo*
Apa pun dilakukan demi konten. Kira-kira keyakinan seperti itulah yang dipegang oleh para Youtuber yang gemar membuat konten prank. Namun belakangan, aksi Youtuber prank ini kerap meresahkan warga dan bahkan ada yang berujung pada ancaman pidana.
Sebagaimana diketahui, aksi prank Youtuber sempat menggegerkan warga Depok dimana seorang bocah berinisial A (13) nge-prank tuyul. Aksinya ini diketahui oleh anggota Tim Jaguar yang sedang melakukan patroli pada Sabtu (13/7) pukul 02.00 WIB dini hari. Perhatian anggota Tim Jaguar kemudian tertuju kepada sosok bocah berkepala botak yang sedang duduk di sebuah jembatan.
Pihak kepolisian pun mengingatkan para YouTubers agar tidak melakukan segala cara hanya demi konten. Terlebih jika konten yang akan dibuat bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
"Sebaiknya pembuatan konten di YouTube agar memperhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain, (buat konten) itu terlalu berisiko," kata Paur Humas Polresta Depok Iptu Made Budi. (m.detik.com/14/07/2019)
Sekalipun prank ini tujuannya hanya main-main namun sesungguhnya hal itu dilarang karena menakut-nakuti muslim tidak dihalalkan dalam Islam. Bahkan Allah melarang umat Islam untuk melakukan permainan semacam ini. Karena dalam prank, seseorang akan ditertawakan karena ketidaktahuannya kalau semua yang terjadi hanyalah lelucon. Sebagaimana dalam sebuah hadist Nabi shallalahu alaihi wa sallam berkata:
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud, shahih).
Jika ditelusuri asal muasal prank, hampir dapat dipastikan ia bersumber dari budaya orang-orang barat yang kesehariannya memang jauh dari tuntunan syariat. Sayangnya saat ini kaum muslim hidup dalam naungan sistem Kapitalisme sekuler yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Sehingga membuat sebagian besar kaum muslim berprilaku hanya untuk kesenangan dan mengejar dunia semata tanpa memikirkan bahwa semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Hal ini tentu akan sangat berbeda jika kaum muslim hidup dalam naungan sistem Islam, karena bagi seorang mukmin, berfikir sebelum berkata dan bertindak adalah hal yang mesti dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian. Apa yang keluar dari lisan dan perbuatan adalah cermin utuh keadaan hati. Dari sana bisa terbingkai pula kualitas akhlak yang dipunyai.
*(Aktivis BMI Community Cirebon)