Oleh: Chezo*
Keseriusan pemerintah untuk meraup devisa lewat pariwisata diwujudkan dengan berlangsungnya pameran pariwisata, perdagangan dan investasi yaitu Pacific Exposition 2019 yang berlangsung di Auckland, Selandia Baru dari tanggal 11 hingga 14 Juli 2019. Ada 19 negara dan 123 perusahaan yang turut memeriahkan acara ini.
Dubes RI untuk Selandia Baru, Tonga dan Kerajaan Samoa, Tantowi Yahya mengatakan, "Indonesia adalah bagian dari Pasifik. Posisi Indonesia secara geografis menghadap ke laut Pasifik. Kita punya lima provinsi yang menghadap ke pasifik, yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Timor Barat atau NTT". (m.detik.com/14/07/2019)
Banyak negara termasuk Indonesia memanfaatkan bidang pariwisata sebagai salah satu sumber perekonomiannya. Dengan memanfaatkan potensi keindahan alam, baik yang alami maupun buatan, serta keragaman budaya yang ada, dunia pariwisata dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan negara. Oleh karenanya, semua pihak pada akhirnya didorong untuk bekerjasama dalam program pariwisata.
Sayangnya dalam naungan sistem Kapitalisme, pariwisata juga ternyata memiliki dampak negatif. Kontak antara penduduk lokal dan turis asing menyebabkan inklusi sosial yang berujung pada transfer nilai. Kita bisa melihat jika masyarakat yang tinggal di kawasan wisata, lama-lama terkikis pemahaman agamanya dan kian ‘ramah’ terhadap ide liberal. Perubahan gaya hidup, bahasa, cara berpakaian, hingga toleran terhadap perilaku wisatawan.
Padahal dalam Islam, pariwisata bukan sumber devisa utama, sehingga tidak harus digenjot demi pemasukan kas negara. Negara mengandalkan sumber devisa utama dari pos fai-kharaj, kepemilikan umum dan pos sedekah.
Lebih dari itu, tujuan utama adanya pariwisata adalah sebagai sarana dakwah, karena manusia biasanya akan tunduk dan takjub ketika menyaksikan keindahan alam. Tafakur alam akan menjadi sarana untuk menumbuhkan atau mengokohkan keimanan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada titik itulah, potensi yang diberikan oleh Allah ini bisa digunakan untuk menumbuhkan keimanan pada Dzat yang menciptakannya, bagi yang sebelumnya belum beriman. Sedangkan bagi yang sudah beriman, ini bisa digunakan untuk mengokohkan keimanannya. Di sinilah, proses dakwah itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan obyek wisata tersebut.
Pariwisata juga bisa sebagai sarana propaganda (di’ayah), untuk meyakinkan siapapun tentang bukti-bukti keagungan dan kemuliaan peradaban Islam. Karena dengan menyaksikan langsung peninggalan bersejarah dari peradaban Islam itu, siapapun yang sebelumnya tidak yakin akan keagungan dan kemuliaan Islam, umat dan peradabannya akhirnya bisa diyakinkan, dan menjadi yakin. Demikian juga bagi umat Islam yang sebelumnya telah mempunyai keyakinan, namun belum menyaksikan langsung bukti-bukti keagungan dan kemuliaan tersebut, maka dengan menyaksikannya langsung, mereka semakin yakin. Semua itu menjadi bukti, bahwa tak ada yang sia-sia dalam Islam, termasuk dalam menempatkan pariwisata.
*(Aktivis BMI Community Cirebon)