Pemuda Dan Bunuh Diri



Oleh: Chezo*


Tahukah anda jika angka kasus bunuh diri di Indonesia semakin tinggi? Bahkan, kasus pelajar SMA yang melakukannya juga cenderung semakin meningkat. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?


Hasil penelitian dokter spesialis kedokteran jiwa Nova Riyanti Yusuf, yang dipresentasikan dalam sidang terbuka tesis kemarin, 11 Juli 2019 mengungkapkan bahwa sebanyak 5 persen pelajar dari 910 pelajar SMAN dan SMKN Akreditasi A di Provinsi DKI Jakarta rupanya memiliki ide bunuh diri. Pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri juga berpotensi 5,39 kali lipat lebih besar mempunyai ide bunuh diri dibandingkan pelajar yang tidak terdeteksi berisiko bunuh diri. (m.liputan6.com/14/07/2019)


Seiring waktu, bunuh diri di kalangan remaja semakin marak terjadi. Bermula dari munculnya ide bunuh diri, yang berlanjut ide itu terlaksana. Larangan agama terhadap bunuh diri ternyata tak menghalangi anak dari ide soal bunuh diri.


Sulit memang untuk menjelaskan mengenai penyebab mengapa orang memutuskan untuk melakukan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yang sama bahkan lebih buruk tidak melakukannya. Kasus ini tidak dapat kita lihat kasus perkasus saja, namun kita harus melihatnya dalam suatu pandangan yang utuh.


Jika kita lihat, masyarakat saat ini telah dikendalikan oleh sebuah sistem di mana aturan agama tidak dipakai dalam mengatur hubungan bermasyarakat. Sistem Kapitalisme yang mengagungkan kebebasan beragama, berpendapat, dan berkepemilikan ini telah membuat hidup masyarakat menjadi semakin individualis.


Sifat manusia individualis akibat sulitnya hidup dalam sistem Kapitalisme membuat keadaan masyarakat menjadi mudah stress, depresi, kecewa, marah hingga memicu bunuh diri.


Sesungguhnya dalam Islam, permasalahan ini bisa diatasi dengan ditunjang oleh tiga pilar.


Pilar pertama adalah akidah yang benar dalam diri setiap individu muslim. Akidah yang benar akan menghasilkan pola pikir dan pola sikap yang benar. Seorang muslim sejati akan mempunyai pola berfikir sesuai dengan pola pikir Islam, dan bertingkah laku sesuai dengan apa yang diatur dalam Islam.


Pilar kedua adalah masyarakat. Masyarakat Islam bukanlah masyarakat individualistis yang tidak peduli dengan keadaan masyarakat di sekitarnya. Pola pikir Islam menghantarkan masyarakat untuk peduli sesama karena kaum muslimin diibaratkan satu tubuh yang akan saling menopang satu sama lain. Berjalannya kontrol sosial akan menghasilkan masyarakat dinamis, yang meminimalisir keresahan masyarakat sehingga depresi dan stress dapat ditekan.


Yang juga penting adalah pilar ketiga, yaitu negara. Pilar ini akan melindungi rakyatnya, dan memastikan seluruh kaum muslimin mendapatkan hak dan menjalankan kewajiban sesuai dengan taklif yang dibebankan Allah kepada setiap manusia. Negaralah yang melindungi nyawa dan harta rakyatnya, sehingga semua sebab yang akan menimbulkan keresahan dan kegelisahan masyarakat harus dihilangkan.


Demikianlah bagaimana solusi Islam dalam menjaga nyawa setiap rakyatnya. Setiap aktifitas atau penyebab depresi dan stess seperti masalah ekonomi dan lainnya yang mengakibatkan seseorang kehilangan nyawanya harus dihilangkan. Islam akan menjamin suasana masyarakat adalah masyarakat yang saling tolong menolong dan peduli terhadap keadaan orang lain.


Bila Islam kelak tegak dalam bingkai negara Khilafah Islamiyyah, niscaya mati hina karena bunuh diri akan ditekan diganti dengan mati mulia di dalam naungan Islam.


* (Aktivis BMI Community Cirebon)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak